Konten dari Pengguna

Overthinking atau Gangguan Kecemasan? Kenali Bedanya lewat Psikodiagnostik

Angel Mutiara Bleszensky Keyla

Angel Mutiara Bleszensky Keyla

Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angel Mutiara Bleszensky Keyla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-visit-psychologist-concept_16692785.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=dc3c524e-c527-4515-950e-be462aa8fe04&query=Overthinking+atau+Gangguan+Kecemasan%3F+Kenali+Bedanya+lewat+Psikodiagnostik
zoom-in-whitePerbesar
https://www.magnific.com/free-vector/hand-drawn-visit-psychologist-concept_16692785.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=dc3c524e-c527-4515-950e-be462aa8fe04&query=Overthinking+atau+Gangguan+Kecemasan%3F+Kenali+Bedanya+lewat+Psikodiagnostik

Kalian tau gak sih? Di era digital saat ini, kata overthinking sering banget dipakai. Sedikit kepikiran, dibilang overthinking. Susah tidur karena banyak pikiran, juga disebut overthinking. Scroll media sosial tengah malam sambil mikirin hal-hal yang belum tentu terjadi? Overthinking lagi. Tapi sebenarnya, semua itu masih normal atau tidak?

Ternyata, dalam bidang psikologi, overthinking nggak selalu sesederhana yang kita kira. Ada yang masih wajar, tapi ada juga yang bisa jadi tanda gangguan kecemasan. Karena itu, penting untuk memahami perbedaannya secara lebih mendalam, terutama melalui pendekatan psikodiagnostik.

Overthinking Itu Wajar, tapi Ada Batasnya

Secara psikologis, overthinking sering dikaitkan dengan konsep rumination, yaitu kecenderungan memikirkan suatu masalah secara berulang tanpa menemukan solusi yang jelas. Menurut Susan Nolen-Hoeksema, pola pikir ini dapat membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran negatif yang sulit dihentikan.

Tapi tenang, overthinking itu masih tergolong normal kalau hanya muncul sesekali, misalnya saat lagi ada masalah besar, masih bisa dikontrol, dan yang paling penting tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Misal, kamu sempat kepikiran soal presentasi besok, tapi tetap bisa tidur dan beraktivitas seperti biasa. Nah, itu masih oke.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika pikiran sudah muncul terus-menerus, sulit dikontrol, dan mulai memengaruhi kualitas hidup. Di titik itu, ini bukan hal yang bisa dianggap sepele lagi.

Kapan Overthinking Jadi Gangguan Kecemasan?

Kalau overthinking sudah terasa berat, bisa jadi itu bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari gangguan kecemasan, seperti Generalized Anxiety Disorder (GAD) yaitu kondisi di mana seseorang mengalami kekhawatiran berlebihan terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut American Psychiatric Association lewat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), gangguan kecemasan biasanya ditandai dengan:

  • Rasa cemas hampir setiap hari

  • Sulit mengontrol pikiran khawatir

  • Berlangsung lama (minimal 6 bulan)

  • Disertai gejala fisik (kayak tegang, capek, susah tidur)

Nah, bedanya jelas: bukan cuma “kebanyakan mikir”, tapi udah sampai ganggu tubuh dan aktivitas sehari-hari.

Peran Psikologi: Gak Bisa Asal Tebak

Di sinilah pentingnya psikodiagnostik. Ini adalah cara psikolog buat memahami kondisi seseorang secara lebih akurat. Biasanya dilakukan lewat: Wawancara, Observasi dan Tes psikologi

Dengan cara ini, psikolog bisa tahu apakah seseorang cuma overthinking biasa atau memang mengalami gangguan kecemasan. Jadi, diagnosis itu bukan dari feeling atau tebak-tebakan, tapi dari proses yang jelas. Selain itu, psikodiagnostik juga membantu dalam menentukan langkah penanganan yang tepat sesuai kondisi individu.

Hati-Hati Self-Diagnosis!

https://www.magnific.com/free-vector/mental-health-awareness-concept_7974025.htm#fromView=search&page=2&position=12&uuid=f5fd2a65-4ac1-4a77-a085-a0916e8d3a4f&query=Overthinking+atau+Gangguan+Kecemasan%3F+Kenali+Bedanya+lewat+Psikodiagnostik

Sekarang banyak banget konten kesehatan mental bertebaran di media sosial, mulai dari Instagram, TikTok, sampai Twitter. Hal itu sebetulnya bagus, karena bikin orang makin aware soal pentingnya kesehatan mental. Tapi ada sisi lain yang perlu diwaspadai.

Banyak orang jadi terlalu gampang melabeli diri sendiri. Baru ngerasain satu-dua gejala, langsung bilang, "Aku anxiety" atau "Aku pasti punya GAD." Padahal dalam psikologi, diagnosis itu butuh proses panjang dan terstruktur.

Kalau salah menilai kondisi diri sendiri, justru bisa memperparah keadaan. Bukannya tenang, malah makin cemas. Bukannya dapat penanganan yang tepat, malah salah arah. Jadi, informasi di media sosial boleh jadi bahan referensi, tapi jangan dijadikan patokan utama untuk mendiagnosis diri sendiri yaa.

Kapan Harus Cari Bantuan?

Pertanyaan ini sering bikin orang ragu. Takut lebay, takut dianggap lebih dramatis dari kondisi sebenarnya. Padahal, mencari bantuan itu bukan tanda kelemahan, malah hal itu justru sebaliknya.

Kalau kamu mulai merasakan beberapa hal berikut ini secara bersamaan dan dalam waktu yang cukup lama, itu saatnya pertimbangkan untuk konsultasi ke profesional:

  • Pikiran susah berhenti meski sudah berusaha

  • Rasa cemas sampai mengganggu pekerjaan, belajar, atau hubungan sosial

  • Sering muncul gejala fisik seperti jantung berdebar, otot tegang, atau susah tidur

  • Kondisi ini sudah berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan

Tidak ada salahnya konsultasi ke psikolog. Justru itu langkah paling bijak buat memahami kondisi diri sendiri dengan lebih jelas dan mendapatkan arahan yang tepat sesuai.

Antara Wajar dan Perlu Diwaspadai

Overthinking itu manusiawi. Semua orang pasti pernah ngalamin, dan itu nggak langsung berarti ada yang salah dengan dirimu. Tapi penting juga buat tahu kapan itu masih normal dan kapan perlu diperhatikan lebih serius.

Dengan memahami kondisi diri dari sudut pandang psikologi dan psikodiagnostik, kita bisa lebih bijak dalam menilai diri sendiri. Tidak harus langsung panik, tapi juga tidak bisa diabaikan. Karena pada akhirnya, mengenal diri sendiri dengan jujur adalah langkah pertama menuju kesehatan mental yang lebih baik.

________________________________________________

Oleh Angel Mutiara Bleszensky Keyla dan Dr.Rachmat Mulyono, M.M., M.Si., Psikolog