Santun yang Memudar: Saat Kata Kasar jadi Bahasa Sehari-hari

Siswa SMA Ciputra Kasih
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari angeline septalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah-tengah perkembangan zaman yang serba cepat dan efisien, gaya berkomunikasi pun berubah terutama di kalangan pelajar. Kini, bahasa kasar atau kata yang tak sopan menjadi hal umum yang sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari contohnya seperti “goblok”, “tolol”, dan masih banyak lagi kata kasar lainnya. Bahkan di lingkungan sekolah pun tak jarang ada siswa yang berkata kasar dan mereka menganggap bahwa hal itu sudah biasa atau bahkan menjadi bagian bahasa gaul. Dari fenomena ini akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan: “Apakah maraknya kata kasar menunjukan bahwa mulainya pudar berbahasa santun dalam interaksi sosial pelajar?” Interaksi sosial pada pelajar tentunya dapat terjadi dimana saja, baik di kelas, lingkungan sekolah maupun dunia maya. Bahasa menjadi alat utama untuk berkomunikasi namun daripada digunakan untuk membangun relasi yang baik dan keakraban, justru bahasa dimanfaatkan secara keliru hingga menimbulkan konflik kecil hingga ke konflik besar. Tak jarang terjadi, berawal dari lelucon kecil dengan bahasa kasar yang mereka anggap kata “gaul” seperti “bodoh”, “bangsat” atau umpatan ringan lainnya dapat berpotensi untuk menyakiti perasaan orang lain tanpa mereka sadari. Dari kejadian ini sudah menunjukan bahwa batas bercanda mulai pudar di kalangan pelajar akibat menurunnya kesadaran akan pentingnya kesantunan dalam berbahasa indonesia serta menganggap hal tersebut tidak penting. Seperti Falsafah Jawa “Ajining Diri Soko Lathi” berarti harga diri yang bisa diartikan sifat, kelakuan seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya. Falsafah ini mengajarkan bahwa perilaku seseorang dapat dinilai dari cara seseorang berbicara atau cara berkomunikasi. Apakah cara dia berbicara sopan, jujur dan menghargai orang lain atau justru kebalikannya berbicara kasar, menghina sampai menyakiti perasaan orang. Maka, lunturnya kesantunan bahasa bukan hanya berdampak pada relasi tetapi juga dapat berdampak pada citra dan harga diri pribadi pelajar itu sendiri. Terdapat beberapa faktor yang mendorong pelajar ucapkan kata kasar atau bahkan terbiasa berkata kasar. Salah satu faktor utamanya yaitu pengaruh dari media sosial, perkembangan jaman sekarang memudahkan kita untuk mendapatkan informasi lebih cepat namun justru hal tersebut dimanfaatkan menjadi sarana untuk mengucapkan kata-kata kasar melalui konten hiburan yang viral dan sering kali ungkapan kasar dijadikan sebagai bahan lelucon. Hal ini tanpa disadari dapat menormalisasikan gaya bicara yang tidak sopan. Selain dari pengaruh media sosial, lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar, jika lingkungan pertemanan tersebut membawa dampak negatif. Faktor lainnya adalah minimnya teguran dari lingkungan sekitar. Saat pelajar berkata kasar atau menggunakan bahasa yang tidak sopan jarang mendapat teguran dari para guru atau orang tua cenderung mereka hanya membiarkan atau bahkan tidak peduli sehingga pelajar akan menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar. Padahal hanya melalui teguran pelajar akan tahu bahwa berkata kasar adalah hal yang tidak sopan sehingga mereka bisa mengurangi mengucapkan kata kasar. Jika seorang anak sering berada di lingkungan yang kebiasaan berbicara kasar atau tidak sopan, mereka akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal (Nanangnanang, 2025) Berkata kasar juga memiliki dampak negatif pada korban. Dampak negatifnya yaitu korban dapat merasa terluka atau sakit hati yang membuat seseorang merasa malu, tak percaya diri atau bahkan menyulut emosi sehingga dapat mengakibatkan ke perkelahian. Kata kasar juga dapat membawa dampak negatif ke pertumbuhan seseorang terutama pada anak-anak contohnya adalah anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang sering mengucapkan kata kasar tanpa sadar anak tersebut akan meniru perilaku buruk hingga dewasa, dari kejadian ini kita bisa lihat bahwa kata kasar juga dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan perilaku mereka di masa depan. Contoh kasusnya seperti kasus Deni Asra mengecam keras tindakan seorang murid Sekolah Dasar (SD) yang berkata kotor dan mengajak duel guru lantaran tak terima ditegur (Minangsatu, 2023). Dari kasus ini kita tau bahwa seorang anak sd yang dimana masih tahap perkembangan sudah berani untuk berkata kasar pada yang lebih tua. Bukankah hal tersebut cukup miris? Seharusnya anak tersebut dapat dibimbing atau didampingi dengan baik agar menjaga sopan santunnya. Selain pada korban, pelaku yang berkata kasar juga dapat terkena dampak negatif yaitu nama baik mereka akan tercoreng atau dianggap buruk karena cenderung orang yang suka berkata kasar dianggap orang yang tidak berpendidikan atau memiliki attitude yang buruk sehingga dapat merusak hubungan seseorang, pertemanan, romansa atau bahkan keluarga (Jati. Aning, 2024). Tidak hanya merusak nama baik pelaku atau hubungan kata kasar juga dapat mempersempit peluang seseorang untuk mencari pekerjaan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena pada saat orang melamar kerja biasanya orang hanya melihat ijazah namun sekarang orang dapat melihat jejak digital atau digital footprint yang dimana jika pelaku berkata kasar atau mengejek seseorang melalui media sosial akan dapat dilacak dan dilihat sehingga peluang mendapatkan pekerjaan akan semakin kecil dan cenderung orang tidak akan mau menerima atau mempekerjakan seseorang yang memiliki attitude yang buruk. Lalu solusinya bagaimana agar pelajar menjadi jarang atau bahkan tidak mengucapkan kata kasar? Caranya adalah solusi yang pertama yaitu dengan cara bergaul dengan orang-orang yang membawa dampak positif atau memiliki akhlak yang baik karena dengan lingkungan pertemanan yang dalam memberikan pengaruh positif entah dari cara berpikir, bertindak maupun cara berbicara seseorang. Cara yang kedua adalah berpikir sebelum berbicara. Hal ini penting untuk dibiasakan agar kita dapat merenungi terlebih dahulu perkataan yang akan dikeluarkan atau diucapkan, apakah perkataan tersebut dapat membuat orang sedih atau menyakiti perasaan seseorang. Cara yang ketiga adalah berlatih untuk kontrol diri untuk tidak berkata kasar, memang melatih mengontrol emosi membutuhkan waktu yang lama namun perlahan lahan kebiasaan untuk berbicara lebih baik bisa terbentuk. Dari sini kita tahu bahwa kata kasar dapat memberikan dampak negatif pada orang maupun lingkungan sehingga melalui pola interaksi kecil positif dapat mempengaruhi orang dengan mudah, entah dari gaya bicara, sikap hingga sebuah kebiasaan. Dampak positif yang terbentuk sehingga menciptakan interaksi sosial yang positif dengan melalui menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar tanpa kata kasar atau kata yang tak pantas disebutkan. Dengan menciptakan interaksi sosial positif orang akan nyaman dan ia mendapatkan pengaruh yang baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Jadi mari sebagai pelajar yang baik kita harus memberikan teladan yang baik kepada teman hingga ke lingkungan kita agar dapat menciptakan lingkungan yang positif. Daftar Pustaka Jati. Aning, 2024. Berkata Kasar kepada Orang Lain, Ketahui Pula Contohnya. Minangsatu, 2023. Aksi Siswa SD Berkata Kasar Dan Tantang Duel Guru Di 50 Kota Dikecam Anggota Dewan. Nanangnanang, 2025. Lumrahnya Penggunaan Bahasa Kasar di Kalangan Remaja, Efek Pergaulan?
https://www.bola.com/ragam/read/5610871/macam-macam-dampak-negatif-berkata-kasar-kepada-orang-lain-ketahui-pula-contohnya
https://minangsatu.com/aksi-siswa-sd-berkata-kasar-dan-tantang-duel-guru-di-50-kota-dikecam-anggota-dewan_26064
https://www.kompasiana.com/nanangnanang6321/67af1a9634777c4fc7017aa2/fenomena-bahasa-kasar-di-lingkungan-sekolah
