Pencarian populer
USER STORY
30 Oktober 2017 23:35 WIB
..
..

FSDE ICEI UGM 2017

Meningkatkan Kemampuan dan Kapasitas Koperasi dengan Pengintegrasian Global Value Chain yang mengadaptasi model formula baru : Cluster Efficiency Concept

Koperasi merupakan wadah untuk mengedepankan ekonomi kemasyarakatan dengan menyesejahterakan anggota-anggotanya dan memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah-daerah di Indonesia. Terdapatnya koperasi yang berkonsentrasi kepada profesi-profesi yang ada di Indonesia, sangat membantu masyarakat-masyarakat yang berada pada profesi tersebut, seperti koperasi tani. Namun pada faktanya, koperasi merupakan sektor yang yang lemah dan kurang berkembang di Indonesia. Tercatat, pada tahun 2016, hanya 30 persen yang masih dan layak beroperasi. Selain itu, pada tahun selanjutnya, koperasi hanya menyumbang sekitar 4 persen pada PBD dan 1,6 persen pada GDP. Nominal tersebut sangat rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara maju di Eropa yang sumbangan koperasi terhadap PBD bisa mencapai di sekitaran 20 persen, seperti Belanda dan Prancis.

Oleh karena itu, pemerintah perlu bergerak dengan memanfaatkan sumber-sumber yang sudah ada demi tercapainya koperasi UMKM yang dinilai layak dan maju, yaitu dengan adanya modernisasi pada sistem koperasi UMKM yang memang kurang diperhatikan oleh masyarakat Indonesia sendiri di daerah-daerah di Indonesia. Modernisasi pada sektor tersebut diaplikasikan dengan memanfaatkan global value chain dan kerjasama ekonomi yang sudah ada, salah satunya yaitu RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) dengan metode cluster efficiency. Penyatuan koperasi UMKM dengan global value chain merupakan cara yang dapat diterapkan demi mewujudkan kehidupan koperasi yang tangguh dan maju dalam pengoperasiannya.

Jaringan Produksi Global atau Global Value Chain (GVC) merupakan revolusi sistem produksi pada abad 21 (dua puluh satu). Jaringan Produksi Global merupakan suatu sistem produksi dan distribusi suatu barang yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh beberapa negara. Dalam GVC, satu tahapan produksi dari satu kesatuan proses produksi diselenggarakan di satu negara sedangkan tahapan berikutnya dilakukan di negara lain. GVC dimungkinkan karena adanya revolusi teknologi komunikasi dan logistik serta makin menurunnya hambatan perdagangan antar negara yang membuat barang dan jasa dapat berpindah nyaris tanpa hambatan dari satu negara ke negara lain. Salah satu contoh GVC adalah sistem produksi kendaraan bermotor di Asia yang telah melibatkan proses produksi dan distribusi satu jenis kendaraan di beberapa negara di kawasan ini. Contoh mekanismenya adalah sebagai berikut, komponen dari kendaraan bermotor diproduksi di berbagai negara sedangkan perakitan dilakukan di negara lain di Asia.

Bila dilihat dari beberapa indikator untuk mengukur tingkat partisipasi suatu negara dalam GVC, ternyata partisipasi Indonesia dalam GVC masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia. Bila dilihat dari proporsi nilai perdagangan peralatan mesin Indonesia terhadap total barang manufaktur maupun nilai perdagangan komponen atau bahan perakitan untuk produksi, tingkat partisipasi Indonesia memang lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Konsep baru yang penulis canangkan, cluster efficiency, berkonsentrasi pada usaha koperasi produksi UMKM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mekanisme dari cluster efficiency ini adalah bahwa koperasi produksi didirikan berdasarkan cluster-clusternya masing – masing. Misalkan saja: koperasi produksi untuk alat pertanian dan hal-hal lain yang berbau pertanian di pusatkan di Karawang. Cluster pertanian di Karawang ini terdiri dari koperasi – koperasi produksi yang perhatiannya terpusat pada barang dan jasa yang membantu pertanian. Koperasi produksi peralatan pertanian, koperasi produksi beras, koperasi palawija, dan lainnya dapat membentuk suatu cluster yang dapat bekerja sama dengan cluster koperasi lainnya, misalkan saja cluster peternakan di Bandung. Cluster-cluster ini nantinya dapat bekerja sama memproduksi barang dan jasa, baik antara satu cluster koperasi dengan cluster produksi lainnya, maupun bekerja sama dengan pihak luar negeri untuk menambah nilai guna terhadap barang produksi tersebut. Diketahui bahwa koperasi produksi UMKM di Indonesia masih sangat lesu dan hanya berkutat pada usaha garmen dan kerajinan. Selain itu, koperasi – koperasi ini menyebar tidak beraturan sehingga proses produksi dan distribusi koperasi tidak berjalan dengan memadai. Dananya yang kurang serta kepengurusan koperasi yang kurang profesional membuat koperasi kian terpuruk. Oleh karena ittu penulis memilih koperasi sebagai badan untuk memajukan dan memberdayakan global value chain untuk memajukan roda produksi di Indonesia serta pemahaman akan teknologi yang memajukan produksi demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Penulis juga memilih koperasi karena sungguh menarik bahwa negara yang sebagian besar rakyatnya merupakan anggota koperasi dan memiliki usaha koperasi yang paling banyak di dunia (negara-negara Eropa Barat, Jepang, dan Skandinavia) merupakan negara yang maju dan sejahtera. Penulis melakukan observasi data melalui sumber tertulis dari badan koperasi internasional ICA (International Cooperative Alliance), bahwa jenis koperasi yang paling banyak di negara – negara maju tersebut adalah koperasi produksi. Berbanding terbalik dengan kedaan koperasi di Indonesia, yang jumlah koperasi yang mendominasi adalah koperasi simpan pinjam. Jumlah koperasi produksi justru jumlahnya sangat minim. Pemerintah dan masyarakat perlu memvariasikan usaha koperasi-koperasi UMKM produksi ini. Koperasi produksi perlu dibantu dan dibimbing perkembangannya oleh pemerintah dan pihak lain yang ahli atau expert di bidang koperasi, produksi, serta jenis bidang usaha yang di geluti oleh koperasi produksi tersebut. Badan usaha yang dijalani oleh koperasi produksi tersebut tersebut akan diintegrasikan dengan sistem global value chain yang dibimbing dan dibantu dengan bantuan pemerintah. Diketahui bahwa Indonesia kurang berpartisipasi pada sistem global value chain dibandingkan dengan negara-negara tetangganya (Singapura, Thailand, dan Malaysia). Namun, apabila koperasi-koperasi produksi di Indonesia diintegrasikan dengan sistem global value chain, maka hal ini dapat meningkatkan usaha koperasi produksi dan juga memenuhi kebutuhan masyarakat yang berimbas pada pengembangan kesejahteraan anggota-anggota badan usaha ini apabila sistem kerja tersebut diaplikasikan.

Untuk lebih mengefisiensikan biaya-biaya produksi dan transportasi, maka semua koperasi produksi yang diintegrasikan dengan global value chain memanfaatkan kerjasama ekonomi yang sudah Indonesia lakukan dengan negara-negara lain, yaitu bekerja sama dengan negara-negara anggota RCEP (ASEAN Regional Comprehensive Economic Partnership), mengingat bahwa sebagian besar negara-negara anggota ini masih dalam kawasan yang sama dengan Indonesia, yaitu Asia Tenggara sehingga biaya produksi dan transportasi dapat ditekan serta bea masuk barang ke negara lain dapat diminimalisasi. RCEP sangat potensial dalam membantu Indonesia meningkatkan daya saing usaha koperasi produksi UMKM berbasis global value chain karena kerjasama ekonomi ini berkontribusi menghasilkan sekitar 30 persen dari PDB global dan penduduk dari negara-negara anggota tersebut memiliki jumlah penduduk yang hampir dari setengah populasi bumi. Oleh karena itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dengan ekonomi koperasi dan meningkatkan hubungan kerjasama antarnegara dengan memiliki kontribusi yang tinggi terhadap global value chain. Selain itu, eksisensi Indonesia dalam kemajuan koperasi dan kemampuan mengolah suatu barang yang dikirim dari dan ke negara lain dapat disejajarkan dengam kemampuan negara-negara maju yang sudah mumpuni dalam bidang koperasi dan kerjasama dalam global value chain.

Bukan hanya menerapkan sistem global value chain pada koperasi produksi, pengaplikasian konsep cluster efficiency pada koperasi produksi-produksi UMKM dan pada negara-negara yang berkontribusi dalam produksi suatu barang dengan Indonesia harus dicanangkan demi mengkonsentrasikan dan meningkatkan persahabatan, kerjasama, serta keuntungan bagi Indonesia dan negara-negara yang membantu produksi suatu barang yang sebelum atau sesudahnya dirakit atau dibuat oleh koperasi-koperasi produksi di Indonesia. Konsep ini mengelompokkan daerah-daerah yang memiliki koperasi produksi yang sangat berpotensi dalam memproduksi suatu barang untuk diintegrasikan ke dalam kerjasama global value chain. Adanya spesialisasi produksi dari koperasi produksi UMKM di sebuah daerah yang dikelompokan dapat mengangkat daerah tersebut sehingga “dilihat” oleh dunia internasional.

Kesimpulan

Jaringan Produksi Global merupakan suatu sistem produksi dan distribusi suatu barang yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh beberapa negara. Bila dilihat dari beberapa indikator untuk mengukur tingkat partisipasi suatu negara dalam GVC, ternyata partisipasi Indonesia dalam GVC masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia. Konsep baru yang penulis canangkan, cluster efficiency, berkonsentrasi pada usaha koperasi produksi UMKM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mekanisme dari cluster efficiency ini adalah bahwa koperasi produksi didirikan berdasarkan cluster-clusternya masing – masing. Bukan hanya menerapkan sistem global value chain pada koperasi produksi, pengaplikasian konsep cluster efficiency pada koperasi produksi-produksi UMKM dan pada negara-negara yang berkontribusi dalam produksi suatu barang dengan Indonesia harus dicanangkan demi mengkonsentrasikan dan meningkatkan persahabatan, kerjasama, serta keuntungan bagi Indonesia dan negara-negara yang membantu produksi suatu barang yang sebelum atau sesudahnya dirakit atau dibuat oleh koperasi-koperasi produksi di Indonesia.

Daftar Pustaka

Pietrobelli, C., & Rabelloti, R. (2009). Upgrading to Compete: Global Value chains, Clusters, SMEs in Latin America. Journal of Latin America Studies, 41(2), 61-618.

LAMAN INTERNET

http://www.euind-tcf.com/id/indonesia-dan-global-value-chain-gvc/. Diakses 6 September 2017 pkl. 00:23 WIB

https://www.wto.org/english/res_e/booksp_e/aid4tradeglobalvalue13_e.pdf. Diakses 6 September 2017 pkl 00:26 WIB

unctad.org/en/PublicationsLibrary/diae2013d1_en.pdf. Diakses 6 September 2017 pkl 01:20 WIB

https://www.wto.org/english/res_e/booksp_e/aid4tradeglobalvalue13_e.pdf. Diakses 6 September 2017 pkl 01.12 WIB

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: