Konten dari Pengguna

Bukan Media Sosial yang Salah, tetapi Cara Kita Menggunakannya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari angelsilalahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain media sosial. Foto: Studio Romantic/Shutterstock

Namun, tidak sedikit orang yang justru merasa minder setelah melihat pencapaian orang lain. Anehnya, semakin sering kita membandingkan diri, semakin sulit kita menyadari bahwa kita juga sedang bertumbuh.

Pernahkah kamu membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi setelah menutupnya justru merasa hidupmu tertinggal?

Melihat teman atau bahkan orang lain yang memenangkan lomba, mendapat beasiswa, lulus lebih cepat, atau diterima bekerja. Sering kali membuat kita bertanya, "Kenapa semua orang sudah berhasil, sementara aku masih di sini?" Padahal, yang kita lihat hanyalah hasil akhir, bukan perjuangan panjang yang sudah mereka lalui.

Media sosial sebenarnya diciptakan untuk memudahkan kita terhubung dengan orang lain, berbagi cerita, dan memperoleh informasi. Namun, tanpa kita sadari, media sosial juga dapat menjadi tempat yang membuat kita terus membandingkan diri. Semakin sering melihat pencapaian orang lain, semakin mudah kita merasa kurang, meskipun kita sebenarnya tahu bahwa kita juga sedang berkembang.

Masalahnya bukan karena media sosial itu sendiri. Yang sering menjadi penyebab adalah cara kita menggunakannya. Kita terbiasa melihat kehidupan orang lain melalui layar, lalu tanpa sadar menjadikannya sebagai ukuran keberhasilan diri. Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain juga sama seperti membandingkan dua cerita yang tidak pernah dimulai dari halaman yang sama.

Tidak sedikit mahasiswa/i yang merasa minder karena melihat teman seusianya sudah memiliki banyak prestasi, aktif dalam organisasi, atau bahkan mulai membangun karier. Perasaan itu wajar. Namun, jika terus dipelihara, kita akan lebih sibuk mengawasi kehidupan orang lain daripada membangun kehidupan kita sendiri.

Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengubah kebiasaan menggunakan media sosial. Kita tidak harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya, tetapi kita bisa mulai menggunakannya dengan lebih sadar. Misalnya, dengan membatasi waktu bermain media sosial, berhenti mengikuti akun yang membuat kita terus merasa rendah diri atau merasa kurang, dan kita harus lebih banyak menikmati proses belajar daripada mengejar pengakuan dari orang lain.

Yang paling penting, belajarlah untuk menghargai setiap langkah kecil yang telah kamu capai. Tidak semua kemajuan harus terlihat besar. Menyelesaikan tugas tepat waktu, berani mencoba hal baru, atau menjadi lebih percaya diri daripada kemarin juga merupakan bentuk keberhasilan yang patut diapresiasi.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat. Alat itu bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi juga bisa menjadi sumber tekanan jika digunakan tanpa kendali. Karena itu, daripada terus bertanya mengapa hidup orang lain terlihat lebih baik, mungkin sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang bisa aku lakukan hari ini agar menjadi lebih baik dari kemarin?"

Keberhasilan sejati bukanlah tentang siapa yang lebih cepat sampai, melainkan siapa yang terus bertumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.