Konten dari Pengguna

Kisah Gunung Muria yang Terpisah dari Pulau Jawa

Angga Jati Widiatama

Angga Jati Widiatama

Earthstoryteller, Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angga Jati Widiatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dongeng-legenda atau cerita yang berkembang di masyarakat sekitar wilayah Semarang hingga Pati tentang Gunung Muria, Jawa Tengah, dulunya terpisah dari Pulau Jawa bukanlah cerita fiktif. Ada juga cerita tentang Kota Kudus merupakan kota pelabuhan, Kota Grobogan (Purwodadi) merupakan pusat Kerajaan Medang Kawulang, dan Kota Demak yang merupakan pusat maritim pada masa kerajaan Islam pertama di Jawa.

Bagaimana mungkin cerita tersebut benar, padahal Kudus dan Grobogan (Purwodadi) merupakan salah dua dari kabupaten di Jawa Tengah yang tidak memiliki laut? Cerita ini memang agak aneh jika kita meletakkannya pada peta Jawa Tengah modern. Namun nyatanya, cerita ini dibenarkan oleh keberadaan bukti geologi yang tidak terbantahkan, antara lain:

  1. Adanya bukti paleontologi yang menunjukkan adanya moluska air laut payau hingga air asin yang tersebar melimpah di bawah tanah wilayah Demak-Kudus-Pati. Hal ini mengindikasikan bahwa dahulu wilayah ini merupakan pantai hingga perairan laut.

  1. Kondisi tanah yang terkompaksi ringan hingga sedang merupakan indikasi sedimentasi berumur relatif muda, sehingga belum membentuk batuan sedimen. Hal ini berimplikasi pada daya dukung tanah yang mengakibatkan pada wilayah ini sering terjadi kerusakan jalan berupa jalan bergelombang atau rusak akibat lolosnya air pada sedimen yang disebabkan oleh intensitas kompaksi (pembebanan).

  2. Aktifnya pembentukan delta seperti di Kali Serang, Kali Juwono, atau Ploso menunjukkan laju sedimentasi tinggi. Sehingga hal ini mengakibatkan laut mengalami pendangkalan dan membentuk daratan baru.

Ilustrasi: Perkembangan Pantai utara Jawa Tengah bagian timur laut yang menunjukkan perubahan selat Rembang/dalaman Randublatung yang mengalami pendangkalan, disusul oleh Selat Muria, lalu pendangkalan yang mengakibatkan terbentuknya wilayah Demak saat ini.

Lalu kenapa Selat Muria dan Selat Kendeng atau Dalaman Randublatung bisa sampai mengalami sedimentasi dan menjadi daratan? Hal ini akibat terjadinya pengangkatan pegunungan Kendeng pada Pliosen (5 Jtl), hingga sekarang yang menjadi suplai sedimen dan menyebabkan terjadi sedimentasi di Selat Kendeng atau Dalaman Randublatung.

Selain itu, diperkirakan juga terjadinya perubahan arah aliran Bengawan Solo purba yang dulunya mengalir ke pantai selatan Wonogiri, berubah mengalir ke arah utara akibat pada Pliosen (5 Jtl). Hal ini didukung juga oleh bukti pengangkatan pegunungan selatan Jawa (Gunung Kidul-batu gamping Formasi Wonosari) yang cepat.

Memang belum ditemukan bukti spesifik jika sungai Bengawan Solo mengalir ke arah Selat Muria. Namun jika melihat pola morfologi pulau Jawa, sangat memungkinkan Bengawan Solo mengalir ke Selat Muria, lalu berbelok ke arah timur menjadi Bengawan Solo modern. Pengangkatan dan sedimentasi yang intensif pada Pegunungan Kendeng dan gunung api di bagian tengah Jawa (Merapi, Lawu, Merbabu, dan Ungaran) memberikan suplai sedimen yang melimpah, sehingga daerah yang dulunya berupa perairan berubah menjadi daratan.

Ilustrasi Gunung. Foto: Kelik Wahyu/kumparan