Pantai Purba Kota Semarang

Earthstoryteller, Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera
Tulisan dari Angga Jati Widiatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berbicara masa lalu, apa lagi dengan konteks bentang alam geologi akan membuat kita mengernyitkan dahi karena tidak percaya atau bingung menerima analisis proses geologi yang terjadi. Salah satunya adalah penelusuran riwayat Pantai Purba Kota Semarang yang dulu berada di sekitar wilayah Kelurahan Gisikdrono dan Ngemplak Simongan yang saat ini terkenal dengan Kelenteng Sam Poo Kong-nya

Gisikdrono merupakan nama wilayah di daerah administrasi Kecamatan Semarang Barat bagian selatan yang memiliki morfologi perbukitan dengan tinggi sekitar 50 meter diatas permukaan air laut. Namun siapa sangka 800 tahun yang lalu tempat ini merupakan pantai purba Kota Semarang sebelum mengalami sedimentasi sehingga terlihat seperti sekarang yang berjarak tujuh kilometer kearah darat dari pantai modern.
Secara toponimi, cabang ilmu penyelidikan tentang asal usul, bentuk, dan makna diri dan nama tempat, kata 'Gisik' memiliki arti tepian atau dapat dimaknai sebagai jalur agak miring di tepi laut yang terbentang di antara garis muka air laut dan tebing yang curam. Di sekitar Gisikdrono yang belum terbangun pemukiman kita akan menjumpai berbagai kerang yang menempel pada batuan, salah satunya adalah 'Balamnus sp.' yang merupakan kerang penciri lingkungan pasang surut.
Di sisi timur bukit Gisikdrono terdapat tempat bernama Ngemplak Simongan. Ngemplak berasal dari Bahasa Jawa 'ngentak' yang bermakna tanah lapang dan datar yang panas. Lokasi ini dikenal dengan situs sejarah-budaya Kuil Sam Po Kong, yang dulu merupakan tempat berlabuhnya rombongan Duta Besar/Laksamana Mahmud Shamsudin Ceng Ho dalam ekspedisi dinasti Ming ke Laut Barat. Rombongan transit di Ngemplak Simongan disebabkan karena salah satu Sampo (pemimpin perjalanan) yaitu Nahkoda Jurumudi atau Ong Keng Hong jatuh sakit lalu meninggal dan dimakamkan di sana.
Lokasi ini dipilih karena berada di muara sungai yang kedalamannya relatif masih cukup dalam (Kali Semarang) dan relatif terlindung dari badai. Kini Gisikdrono dan Ngemplak Simongan berada di 7.000 meter dari garis pantai modern yang mengindikasikan Kali Semarang telah mengalami pendangkalan serta sedimentasi yang hebat. Endapan sedimen dari Kali Semarang dan Kali Bodri membentuk daratan yang kini disebut sebagai semarang bawah. Kata 'Simongan ' sendiri diyakini merupakan penyesuaian pelafalan kata 'Semarang' oleh para warga keturunan Tiongkok.
Belajar ilmu geologi selalu menyenangkan jika mampu dikaitkan dengan dimensi sosial dan sejarah lokal. Kita akan menemukan banyak kaitan antara kondisi wilayah, sejarah pembentukan, maupun dinamika perubahan dan perkembangan. Jadi kapan nih kita bisa berkolaborasi cerita keanekaragaman Indonesia dari berbagai sudut pandang berbeda?
