kumparan
11 Jul 2019 5:28 WIB

Penjelasan Evolusi Gunung Api di Dalam Alquran

Ilustrasi Gunung Api Aktif Foto: Shutter Stock
Gunung api berevolusi dan berkembang, bukan saja ukurannya, namun karakter letusannya, dan juga letak geografisnya. Lempeng bumi yang menunjam akan meleleh membentuk dapur magma, saat dapur magma terbentuk akan menghasilkan produk gunungapi berupa lava pijar, batuan piroklastik dan abu vulkanik yang akan membentuk morfologi gunungapi.
ADVERTISEMENT
Apabila dapur magmanya kosong, maka aktivitasnya pun berkurang dan bahkan jika berlangsung sangat lama bisa dikatakan gunung api tersebut dalam fase tidur atau dormat. Jika dapur magma gunung tidak terisi lagi oleh magma, maka dikatakan bahwa gunung tersebut telah mati.
Dalam Alquran, Surah At-Tur ayat 9 hingga 11 menjelaskan kejadian katastrofi yang bermakna sebagai berikut:

“Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya, dan gunung berjalan (berpindah-pindah). Maka celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan."

Berpindahnya gunung bisa kita artikan sebagai longsor besar yang menyebabkan tubuh gunung api runtuh atau kolaps. Seperti letusan Krakatau pada tahun 1884 yang awalnya berupa pulau Rakata hancur tak tersisa, dan hilang ke dasar laut.
Jika kita melihat lebih jauh dalam skala waktu geologi akan sangat tampak ayat di atas menjelaskan tentang perpindahan jajaran gunung api. Sebagai studi kasus, kita ambil contoh evolusi gunung api di Pulau Jawa yang disederhanakan menjadi dua kelompok. Pertama, gunung api purba berumur 12-33 Juta tahun lalu atau disebut old andesite formation atau OAF, dan kedua, gunung api modern atau gunung api kuarter.
Gambar peta topografi Pulau Jawa yang menunjukkan morfologi gunung api pada bagian tengah Pulau Jawa.
Di atas merupakan peta topografi Pulau Jawa saat ini yang menunjukkan topografi tinggian pada bagian tengah pulau yang terdiri dari gunung api modern. Dari mana kita bisa tahu adanya gunung api purba?
ADVERTISEMENT
Cara pertama adalah melihat kondisi bawah permukaan bumi dengan menggunakan data anomali gaya berat. Warna merah pada peta ini menunjukkan adanya batuan yang memiliki densitas lebih besar. Artinya, adanya batuan beku atau metamorf di bawah permukaan adalah gunung api atau sisa-sisa gunung api.
Gambar Peta anomali gaya berat yang menunjukkan keberadaan batuan resisten dibawah permukaan bumi
Salah satu jejak gunung api purba yang tersisa adalah Gunung Api Nglanggeran. Gunungapi Jawa purba ini berumur antara 34 hingga 12 juta tahun. Gunung purba ini membentang di sepanjang Pantai Selatan Jawa Barat, menghilang di Pantai Selatan Jawa Tengah, dan muncul kembali di Yogyakarta hingga Jawa timur.
Cara kedua untuk mengetahui evolusi gunung api ditunjukkan dengan perubahan batuannya. Lava basalt dengan struktur bantal dan batuan piroklastik di daerah Yogyakarta merupakan produk awal pembentukan gunung api dengan letusan efusif, endapan ini cenderung konstruktif membentuk tubuh gunung api.
ADVERTISEMENT
Lalu gunung api berevolusi, letusannya berangsur menjadi eksplosif dan menghasilkan endapan tufa yang tebal. Beberapa peneliti mendeskripsikannya sebagai letusan Supervolkano Semilir yang menyebabkan tubuh gunung api purba Jawa hancur.
Ilustrasi evolusi gunungapi (Sumber Syafri dkk., 2010 disertai keterangan yang ditambahkan oleh penulis dari berbagai sumber).
Pada sekitar 10 hingga 3 juta tahun yang lalu terjadi perubahan sudut penunjaman Lempeng Samudra Hindia. Hal ini mengakibatkan jalur gunung api di Pulau Jawa berubah lebih ke utara dibandingkan sebelumnya, sehingga dapur magma gunung api purba tidak terisi hingga mati, berganti dengan gunung api modern yang saat ini kita lihat.
Model perubahan sudut penunjaman Lempeng Samudra Hindia yang menyebabkan evolusi gunung api dan pergeseran lokasi gunung api di Pulau Jawa; Penampang ditarik dari Yogyakarta hingga Gunung Muria; Jtl= Juta tahun lalu.
Gunung api modern saat ini sedang dalam tahap konstruksi kerucut tubuh gunung apinya, dan nantinya akan mengulangi lagi letusan katastrofi yang mampu menghamburkan tubuh gunung menjadi hancur tak tersisa seperti di masa lalu. Akankah kita menyaksikan hal itu? Tidak ada yang tahu, kita lihat aja nanti.
Gambar perubahan busur gunung api purba (lingkaran merah-garis merah) menjadi busur gunung api modern (garis kuning). Sumber Hall dan Smyth (2008).
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan