Perubahan Karakter Erupsi Gunung Api Merapi dari Wedus Gembel Menjadi Lava Pijar
Tulisan dari Angga Jati Widiatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gunung api Merapi merupakan salah satu gunung api aktif yang terletak di perbatasan Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Penelitian tentang gunung api Merapi relatif telah banyak dan detail serta telah melahirkan banyak master hingga doktor vulkanologi yang khusus mempelajari perilaku gunung api ini.

Gunung api Merapi pun memiliki siklus letusan yang tercatat dengan baik, mulai dari siklus satu tahunan hingga siklus sepuluh tahunan. Gunung api Merapi terkenal dengan ‘Wedus Gembel’ suatu terminologi lokal untuk menyebut gumpalan awan panas berdensitas tinggi (pyroclastic) yang terdiri dari material gunung api yang belum terkonsolidasi, abu vulkanik, gas vulkanik, dan pecahan batuan yang semuanya terdorong bergerak menuruni tubuh gunung api
Dari interaksi lempengnya, Gunung api Merapi termasuk dalam tipe gunung api intermediet, yaitu gunung api yang lahir dari hasil subduksi lempeng samudra Hindia dibawah lempeng benua Asia (Sundaland). Pada 13 Februari dan 3 Maret 2020 Gunung api Merapi kembali mengalami erupsi namun dengan tipikal yang berbeda. Erupsi yang terjadi berupa semburan lava pijar dan abu vulkanik yang membubung hingga 6.000 meter ke udara, tidak lagi menghasilkan ‘Wedus Gembel’ seperti ciri khasnya selama ini.
Perubahan tipe letusan ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
Adanya injeksi magma baru dari hasil pelelehan lempeng akibat subduksi menyebabkan magma bersifat intermediet-basa yang relatif kaya air/volatil
Magma yang kaya air (fasa cair maupun gas) akan relatif lebih encer sehingga akan menghasilkan erupsi yang bersifat efusif (bukan ledakan/eksplosif)
Karakter magma yang encer juga mencerminkan tingkat pembentukan kristal pada batuan (kristalisasi) relatif rendah yang berimplikasi bahwa magma yang berasal dari pelelehan lempeng cukup banyak sehingga mendorong magma dengan cepat mencapai permukaan
Dorongan gas yang terbentuk juga ‘relatif’ kecil dibandingkan saat menghasilkan ‘Wedus Gembel’ sehingga yang terlontar ke udara hanya abu vulkanik densitas rendah dan tidak menghancurkan kubah lava atau bagian gunung api.
Apakah tipikal erupsi Gunung api Merapi dapat berubah kembali menjadi ‘Wedus Gembel’ ??? Tentu saja bisa! karena kembali lagi bahwa pada gunung api intermediet tipe erupsi dapat berkisar dari efusif hingga berubah menjadi eksplosif, semua tergantung pada karakter perjalanan magma dari pelelehan lempeng hingga mencapai permukaannya

