Konten dari Pengguna

Siklus Wilson: Siklus Hidup Lempeng Tektonik

Angga Jati Widiatama

Angga Jati Widiatama

Earthstoryteller, Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angga Jati Widiatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siklus Wilson merupakan tahapan proses dinamika perubahan lempeng tektonik pada kerak bumi berdasarkan arah gerakan lempeng dan jenis lempeng yang dikemukakan oleh John Tuzo Wilson (1966), geofisikawan dan geologiawan Kanada

Berdasarkan jenis lempeng tektonik dapat dibagi menjadi dua yaitu (1) Lempeng Benua yang memiliki densitas lebih rendah dan (2) Lempeng Samudra yang memiliki densitas lebih tinggi. Sedangkan berdasarkan arah gerakannya, interaksi antarlempeng dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: (1) Divergen, gerakan lempeng saling menjauh; (2) Konvergen, gerakan lempeng saling mendekat/bertabrakan; dan (3) Transform, gerakan lempeng saling ‘serempet’

Gambar 1 Siklus Wilson merupakan siklus kehidupan suatu lempeng tektonik dari pemekaran hingga kolisi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1 Siklus Wilson merupakan siklus kehidupan suatu lempeng tektonik dari pemekaran hingga kolisi

Proses gerak divergen pada lempeng benua/continent dipicu oleh arus konveksi pada lapisan mantle bumi yang saling menjauh sehingga menyebabkan lempeng di atasnya menipis atau mengalami pemekaran. Terminologi asli disebut dengan rifting atau lisu. Contoh fenomena ini adalah di daerah Afar, Ethiopia yang dikenal sebagai ‘Sistem Pemekaran Benua Afrika’, dan juga Selat Makassar di Indonesia.

Jika proses pemekaran benua ini berlanjut, maka akan menghasilkan lempeng samudra baru yang terbentuk dari naiknya batuan pijar dari lapisan mantle bumi (magma) yang mengisi kerak benua yang menipis. Contoh fenomena ini adalah di Samudra Atlantik, Laut Merah, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik

Gambar 2 Ilustrasi pergerakan lempeng secara divergen pada pematang tengah laut pasifik dan atlantik dan konvergen (Sumber: Ensiklopedia Britannica)

Lempeng samudra yang memiliki densitas lebih berat, jika bertemu (bertabrakan) dengan lempeng benua akan tenggelam mengalami subduksi/penunjaman. Produk hasil subduksi ini di permukaan bumi berwujud jajaran gunungapi. Contoh fenomena ini adalah di Pulau Sumatra bagian barat Pulau Jawa hingga NTT, Filipina, Jepang, dan sepanjang pantai barat Amerika Utara hingga Amerika Selatan yang dikenal sebagai ‘Cincin Api Pasifik’ atau ‘Ring of Fire

Setelah lempeng samudra habis menunjam/tersubduksi, fase selanjutnya disebut collision yang melibatkan dua lempeng benua yang saling bertabrakan. Proses ini menghasilkan jajaran pegunungan lipatan (mountain). Contoh fenomena ini adalah di Pulau Sumatra bagian tengah, Pegunungan Kendeng di Jawa, Pegunungan Sulawesi Tengah, Pegunungan Jayawijaya, Timor, Himalaya, serta Yunani

Gambar 3 Ilustrasi perubahan bentang alam seiring dengan waktu dan erosi yang terjadi (Ilustrasi oleh: @blazeskyd)

Tahap selanjutnya adalah pegunungan (mountain) yang telah terbentuk mengalami erosi. Lempeng benua yang tadinya utuh akan mengalami pemekaran/lisu/rifting kembali seperti pada fase awal