Kumparan Logo

DEN Kaji Swasta Bisa Danai Cadangan Penyangga Energi, Pakai Tangki yang Nganggur

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Dewan Energi Nasional (DEN) menyebutkan pembangunan Cadangan Penyangga Energi (CPE) untuk meningkatkan ketersediaan pasokan minyak mentah dan BBM di Indonesia akan melibatkan peran swasta.

Anggota DEN, Satya Widya Yudha, mengatakan pemerintah berencana menaikkan cadangan energi dari rata-rata 18-21 hari menjadi minimal 30 hari dengan pembangunan CPE.

Satya mengatakan, beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) memiliki strategic petroleum reserve yang dapat diluncurkan saat kondisi krisis dan darurat berdasarkan arahan khusus presiden.

Saat ini Indonesia masih bergantung pada impor energi. DEN mencatat, impor minyak mentah nasional 38,7 persen dari kebutuhan intake kilang, impor BBM mencapai 34,2 persen dari konsumsi nasional, dan impor LPG sebesar 80,6 persen dari konsumsi domestik.

"Indonesia harus menuju ke sana, kita harus punya yang namanya cadangan penyangga energi," katanya saat Sarasehan Energi di IPB, Rabu (10/6).

Ditemui usai acara, Satya menjelaskan bahwa CPE ditargetkan dapat menampung 30 kali impor dalam sehari. Proyek ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 96 Tahun 2024 yang rencananya akan dikaji kembali untuk melibatkan swasta.

"Kita lagi mereview Perpres yang ada, karena di dalam CPE itu kita pikirkan apakah keterlibatan swasta bisa atau tidak untuk membangun storage-nya. Itu yang sekarang lagi kita diskusikan, karena kalau Perpres yang ada ini murni kekuatan APBN," jelasnya.

Satya menjelaskan, selain keterlibatan investasi swasta, DEN juga akan mempersilakan CPE menggunakan tanki minyak mentah atau BBM yang sudah ada namun tidak digunakan alias nganggur (idle).

"Kita lagi memikirkan mungkin tangki-tangki yang idle yang bisa dimaksimalkan, kan banyak tangki yang idle. Nah itu bagaimana kita convert misalkan dari gas menjadi tangki crude atau BBM itu yang lagi kita lihat.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, saat Sarasehan Energi di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (10/6/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Dia menuturkan, salah satu tangki idle yang dibidik adalah milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) hulu migas yang tidak terpakai karena ada penurunan produksi. Hal ini dinilai bisa menekan biaya pembangunan.

"Termasuk yang di upstream, yang milik daripada K3S yang mungkin sudah depresiasi dan menjadi milik negara. Itu yang kita pikirkan. Karena itu yang paling tidak cost-nya tidak terlalu besar," tutur Satya.

Satya belum bisa menyebutkan tangki idle mana saja yang sudah dibidik. Sebab, sejauh ini DEN masih mengupayakan revisi aturan untuk memasukkan klausul keterlibatan investasi swasta.

Kendati demikian, dia juga belum bisa memastikan apakah investor yang terlibat dalam proyek CPE di Indonesia berasal dari negara lain. "CPE saat ini masih didanai oleh APBN, maksudnya mayoritasnya APBN, dan itu kita akan lihat bagaimana keterlibatan swasta ke depan," tutup Satya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan proyek penyimpanan (storage) cadangan minyak mentah akan dibangun oleh swasta, kerja sama perusahaan asing dan domestik.

Bahlil menegaskan, tidak ada strategi lain selain membangun storage, apalagi untuk mengakomodasi peralihan impor minyak mentah dari Timur Tengah menjadi Amerika Serikat (AS) yang juga akan dieksekusi secara bertahap.

"Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Investasinya bisa di-blending antara dalam negeri dan dari luar, tapi bukan dari AS. Ya namanya bangun swasta lah," kata Bahlil.

instagram embed