Pencarian populer

Fenox Venture Incar Bisnis Startup di Indonesia

Perusahaan Startup (ilustrasi) (Foto: Pixabay/Geralt)

Tren perusahaan rintisan atau startup yang sedang berkembang di Indonesia semakin dilirik investor asing. Salah satunya Fenox Venture Capital. Perusahaan asal Amerika Serikat ini berkomitmen akan mengembangkan investasinya di Indonesia.

Senior Investment Analyst Fenox Indonesia, Retno Dewati, mengatakan Indonesia memiliki pasar yang cukup besar dan berpotensi menjadi pusat startup di Asia Tenggara. Menurut dia, perusahaannya saat ini banyak mengincar startup potensial di Indonesia dibanding negara ASEAN lainnya.

"Untuk Asia Tenggara, kami sudah punya 15 perusahaan startup di portofolio kami. Sebagian besar memang dari Indonesia," kata Retno kepada kumparan, Jumat (27/1).

Fenox Venture Capital merupakan perusahaan permodalan yang berbasis di Silicon Valley, Amerika Serikat. Perusahaan ini sudah berekspansi ke kawasan Amerika Utara, Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Dalam website resminya, Fenox saat ini telah mengelola pendanaan hingga jutaan dolar AS.

Startup yang diincar Fenox Venture antara lain yang bergerak di bidang teknologi dan informasi, kesehatan, Artificial Intelligence, Robotics, Big Data, Virtual Reality, Augmented Reality dan FinTech (financial technology).

Retno mengatakan mayoritas startup yang mendapat suntikan dana dari perusahaannya memang kebanyakan bergerak di bidang FinTech dan e-commerce.

"Kami tidak membatasi sektor-sektor apa untuk startup yang kami danai, tapi paling banyak memang FinTech, e-commerce, dan big data management," ujarnya.

Menurut dia, beberapa contoh startup lokal yang telah didanai adalah Jurnal, pengembang software pembukuan & akuntansi untuk bisnis, dan Moka Pos-sistem POS (point of sales) berbasis mobile untuk pelaku usaha kecil dan menengah.

Groundbreaking Inkubator BEI untuk Start-up. (Foto: Edy Sofyan/kumparan)

Menggiurkannya bisnis stratup di Indonesia juga dilirk Bursa Efek Indonesia dengan membangun pusat inkubator bagi startup. Mereka menilai bisnis perusahaan rintisan sangat potensial bisa mencatatkan sahamnya di bursa atau IPO (Initial Public Offering).

"Ini merupakan upaya bursa untuk mengkapitalisasi industri kreatif yang sudah berkembang pesat di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Jangan sampai kita kalah padahal potensi market kita besar sekali dengan 250 juta penduduk," kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio kemarin.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23