Kumparan Logo

Ini Strategi BEI Usai S&P Pantau Saham RI, Optimistis Stabil di Emerging Market

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan bakal terus menjaga ekosistem pasar modal domestik sekaligus memperkuat berbagai produk investasi di tengah meningkatnya perhatian lembaga indeks global terhadap pasar saham Indonesia.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan BEI berkomitmen melakukan berbagai upaya agar Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat indonesia atau bursa efek indonesia bertahan di emerging market dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan,” ucap Irvan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (8/7).

Menurut Irvan, kondisi pasar saham yang masih lesu saat ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga maraknya penawaran umum perdana saham (IPO) berukuran besar di luar negeri. Meski demikian, BEI memastikan seluruh agenda pengembangan pasar tetap berjalan sesuai rencana.

Salah satu agenda yang tengah dikejar adalah peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) Gold pada semester II 2026 atau sekitar kuartal III hingga awal kuartal IV. Selain itu, BEI juga masih membahas pengembangan sejumlah produk investasi baru bersama pelaku pasar.

"Market seperti ini kan many factors lah ya. Ya potensi global, terus IPO besar-besaran di luar dan yang lain gitu ya. Dari kami sih sebenarnya tetap strict dengan apa yang kami sudah rencanakan misalnya ETF Gold," katanya.

Irvan menegaskan, apa pun kondisi pasar, BEI memiliki tanggung jawab menjaga kualitas infrastruktur perdagangan, menghadirkan produk investasi yang menarik, serta memperdalam pasar modal Indonesia.

Kata Irvan, transaksi di pasar modal saat ini masih didominasi perdagangan saham. Sementara itu, instrumen derivatif dan obligasi masih memiliki porsi yang relatif kecil, terutama di kalangan investor ritel.

"Karena suka tidak suka market seperti apa pun kami harus tetap bisa menyediakan infrastruktur yang baik menyediakan produk yang menarik dan juga melakukan pendalaman pasar dan ini akan terus kami lakukan dengan kondisi market seperti apa pun,” jelas Irvan.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Dia menilai perhatian yang diberikan S&P DJI terhadap pasar modal RI justru menjadi momentum untuk melakukan pembenahan terhadap berbagai aspek yang masih menjadi perhatian investor global.

Irvan optimistis pasar modal Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang. Pasalnya, pasar modal RI pernah mencatatkan nilai transaksi harian hingga sekitar USD 2 miliar atau setara Rp 34 triliun per hari.

Dia mengatakan seluruh masukan dari lembaga indeks global akan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam 2027 Watchlist karena masih memantau perkembangan transparansi kepemilikan saham di Indonesia serta panduan yang diterbitkan BEI untuk mengatasi persoalan keterbukaan informasi dan potensi dampaknya terhadap likuiditas pasar.

S&P DJI menyatakan apabila kondisi memburuk, lembaga tersebut dapat menerapkan special measures termasuk penurunan klasifikasi ke frontier market terhadap pasar modal Indonesia.

instagram embed