Kementerian ESDM Gandeng Bank Indonesia Salurkan Subsidi LPG 3 Kg

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Bank Indonesia hari ini menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama penyaluran subsidi energi. Penandatangan dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo di gedung Bank Indonesia.
Jonan mengatakan kerja sama tersebut dilakukan untuk meningkatkan penggunaan transaksi non tunai dengan aman, efisien, dan transparan untuk memperluas jangkauan penyaluran subsidi energi dan meningkatkan akses layanan keuangan. Dengan kerja sama ini, subsidi LPG 3 kg kepada masyarakat kurang mampu akan dilakukan secara elektronik melalui kartu pintar atau model bisnis dari Bank Indonesia.
"Salah satu yang ingin dicapai pemerintah pada tahun depan adalah pengaturan mengenai penggunaan LPG 3 kg itu yang akan dimasukkan subsidinya ke kartu keluarga sejahtera atau kartu lain yang disetujui presiden. Sehingga distribusi LPG akan sangat tepat sasaran," kata Jonan di Gedung Sjafrudin Prawira Negara, BI, Jakarta, Kamis (13/4).

Menurut Jonan, koordinasi agar penyaluran subsidi tepat sasaran ini untuk menghindari membengkaknya nilai subsidi yang membebani APBN. Berdasarkan evaluasi, ditemukan masih adanya golongan mampu yang masih mendapat subsidi dari LPG 3 kg.
"Alokasi anggaran tahun ini LPG sekitar Rp 20 triliun. Kami khawatir kalau ini dilepas seperti begini diprediksi akhir tahun ini saja bisa bengkak jadi Rp 30 triliun. Kalau dibiarkan tahun depan jadi Rp 40 triliun, di samping harga LPG dunia bergerak naik terus," ujar Jonan.
Dari data Kementerian ESDM, pada 2016 subsidi LPG 3 kg mencapai Rp. 27 triliun dan tahun 2017 direncanakan sekitar Rp. 22 triliun. Subsidi LPG tersebut sempat membengkak hingga Rp 49 triliun pada 2014. Pada umumnya realisasi subsidi LPG 3 kg lebih besar dari alokasi anggaran yang tersedia dalam APBN.
Dalam kesempatan yang sama, Agus Martwardojo mengatakan konversi minyak tanah ke LPG 3 kg yang digalakkan Kementerian ESDM sejak 2007 sudah berhasil menghemat pengeluaran negara.
Dari catatan bank sentral selama 10 tahun terakhir (2007-2017), konversi minyak tanah ke gas telah berhasil menghemat beban subsidi dalam APBN hingga Rp 197 triliun.
"Hanya karena komitmen bahwa kita tidak terus pakai minyak tanah. Dan kita tahu LPG 3 kg diserahkan kepada penerima dalam bentuk tabung LPG 3 kg dan jumlahnya paling tidak 57 juta tabung," jelas Agus.
