Kementerian PUPR Alokasikan Rp 100 M Bangun Akses Jalan Wisata Mandeh

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Mandeh, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Mandeh, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Presiden Joko Widodo telah menetapkan Kawasan Bahari Terpadu Mandeh sebagai tujuan wisata pantai di Sumatera Barat. Kawasan Mandeh yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, terkenal dengan wisata bahari pantai dan terumbu karang yang indah.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan penyelesaian akses infrastruktur menuju ke kawasan itu. Melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, kementerian pada tahun ini mengalokasikan dana Rp 100 miliar untuk penanganan jalan sepanjang 10 kilometer.

"Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan kawasan wisata Mandeh melalui optimasi infrastruktur yang sudah ada. Sebagian sudah dilakukan pemerintah kota maupun kabupaten," kata Direktur Jenderal Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29/3).

Dirjen Bina Marga meninjau lokasi Mandeh. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Bina Marga meninjau lokasi Mandeh. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta akses jalan di Mandeh yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, tersebut bisa diselesaikan dalam dua tahun. Dari total akses jalan sepanjang 7 kilometer dari arah Kabupaten Pesisir Selatan, 6 kilometer di antaranya akan ditangani tahun ini.

Sedangkan dari arah Kota Padang, jalan akses sepanjang 43 kilometer akan ditangani sepanjang 4 kilometer. Adapun total dana yang dibutuhkan untuk penanganan jalan akses baik dari arah Pesisir Selatan maupun Padang dibutuhkan Rp 385 miliar dan nantinya lebar jalan bisa mencapai 6 meter.

"Dengan penanganan jalan ini, bus-bus wisata berukuran sedang atau 3/4 sudah bisa masuk dan melintas," ujarnya.

Dirjen Bina Marga meninjau lokasi Mandeh. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Bina Marga meninjau lokasi Mandeh. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Arie mengakui salah satu tantangan pengerjaan akses jalan Mandeh adalah masalah pembebasan lahan baik dari arah Kota Padang maupun Kabupaten Pesisir Selatan. Sebab, sebagian besar lahan merupakan tanah adat sehingga penyelesaiannya membutuhkan pendekatan yang khusus.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Badan Pelaksana Jalan Nasional Wilayah III akan menggunakan rute yang sudah ada (eksisting . "Kami optimalkan yang sudah ada, jadi tidak mubazir. Ini tantangan yang harus kita jawab," tambah Arie.

Mandeh, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
zoom-in-whitePerbesar
Mandeh, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Dengan menggunakan rute eksisting, jaringan jalan akan ditangani dengan perbaikan teknik geometrik berdasarkan standar Ditjen Bina Marga, seperti jalur pendakian (climbing lane) sehingga tidak membutuhkan relokasi.

Adapun sebagian jalan akses Mandeh memiliki geometrik yang curam. Bila pada umumnya jalan nasional memiliki standar geometrik sebesar 10 persen, akses Mandeh bisa mencapai maksimal 15 persen.

"Untuk jalur wisata hal tersebut tidak masalah, justru makin menarik. Ada tanjakan dan turunannya," tandas Arie.