Melihat Dua Ikon Jembatan di Daerah Perbatasan

Pembangunan kawasan perbatasan tak melulu terkait pembenahan pos lintas batas negara atau infrastruktur jalan dan jembatan. Namun, ada yang lebih dari itu, membuat ikon daerah agar bisa mudah dikenang yang pernah singgah.
Indonesia memiliki tiga wilayah perbatasan, yakni di Kalimantan yang berbatasan dengan Serawak Malaysia, wilayah perbatasan Papua-Papua Nugini, dan perbatasan Nusa Tenggaran Timur dengan Timor Leste.
Dari tiga wilayah perbatasan itu, dua jembatan dibangun sebagai ikon.
1. Jembatan Tayan
Menjadi kebanggaan warga Pontianak Kalimantan Barat. Jembatan Tayan menelan anggaran senilai Rp 907 miliar dengan total panjang 1.420 kilometer. Dibangun pada 2012, Jembatan Tayan diresmikan Presiden Jokowi pada 2016.

Jembatan Tayan juga dilengkapi jalan akses dengan total panjang 3,7 kilometer dan menghubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah. Jembatan ini juga dilengkapi akses koneksi bagi masyarakat pulau Tayan yang diapit kedua jembatan Tayan.

"Kami nanti akan bangun pelabuhan kecil dan akse ke sana. Sehingga nanti bisa dibangun perahu wisata supaya pengunjung bisa menyusuri sungai itu nanti," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto, kepada kumparan (kumparan.com) di kantornya, Kebayoran, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
2. Jembatan Hotelkamp
Selain Jembatan Tayan yang menjadi landmark di kawasan perbatasan Kalimantan, ada juga Jembatan Holtekamp yang akan menjadi ikon wilayah perbatasan Papua-Papua Nugini. Berada di Provinsi Jayapura, jembatan ini rencananya dibangun dengan panjang 732 kilometer dengan lebar 21 meter.

Saat ini, jembatan Holtekamp masih dalam tahap pembangunan konstruksi. Arie mengaku optimistis dengan adanya jembatan ini kawasan di sekitar akan tumbuh dan sektor pariwisata akan menggeliat. "Papua sangat kaya akan alam. Jembatan ini menjadi ikon dan bisa menjadi magnet bagi wisatawan," ujarnya.
Jembatan Holtekamp dibangun di atas Teluk Youtefa. Dengan adanya jembatan, maka jarak dan waktu tempuh kota Jayapura menuju Pos Lintas Batas Negara di Skouw, Distrik Muara Tami yang menjadi wilayah perbatasan RI-PNG.

“Dari kawasan pemerintahan (Jayapura) ke Muara Tami jaraknya 50 kilometer dengan waktu tempuh 2,5 jam karena harus memutar teluk. Jika ada jembatan ini, jaraknya bisa dipangkas jadi hanya 33 kilometer, dengan waktu tempuh hanya 1,5 jam," katanya.
Pembangunan Jembatan Holtekamp terdiri dari tiga sumber pendanaan, yaitu APBN untuk Jembatan Utama, APBD Provinsi Papua untuk Jembatan Pendekat Arah Holtekamp, dan menggunakan APBD II dari Kotamadya Jayapura untuk pembangunan Jalan Pendekat dan pembebasan lahan. Seluruhnya mencapai Rp 1,7 Triliun.
