Purbaya Sebut Harga BBM Pertamax Naik Tak Berdampak Banyak Terhadap Inflasi
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi.
Menurut dia, pengaruhnya relatif terbatas karena BBM tersebut bukan bahan bakar utama yang digunakan sektor transportasi umum maupun angkutan barang.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya merespons keputusan PT Pertamina Patra Niaga yang menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Purbaya mengatakan dampak kenaikan harga Pertamax terhadap laju inflasi diperkirakan tidak besar karena penggunaannya lebih banyak untuk kendaraan pribadi.
“Dampaknya harusnya relatif minim karena kan Pertamax enggak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen RI, Rabu (10/6).
Menurut dia, efek kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi nasional seharusnya terbatas, sebab sektor transportasi yang berkontribusi besar terhadap pembentukan harga barang dan jasa tidak bergantung pada BBM tersebut.
“Harusnya limited karena bukan bukan buat angkutan umum, angkutan barang enggak pakai (Pertamax),” ujar dia.
Ditanya bagaimana langkah pemerintah menjaga agar kuota BBM bersubsidi tidak mengalami pembengkakan setelah harga Pertamax naik cukup tajam, Purbaya mengatakan hal tersebut seharusnya sudah sudah dipersiapkan oleh Kementerian ESDM.
“Itu nanya ke pak Bahlil mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau salah nanya pak Bahlil yang ngerti,” kata Purbaya.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan perubahan harga dilakukan setelah melalui evaluasi sesuai formula yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Pertamina, keputusan tersebut telah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Meski harga Pertamax dan Pertamax Green naik, sejumlah produk BBM lainnya tidak mengalami perubahan. Pertamax Turbo tetap dibanderol Rp 20.750 per liter, Dexlite Rp 23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp 24.800 per liter.
Sementara itu, harga BBM bersubsidi masih dipertahankan. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter. Kondisi tersebut dinilai membantu menahan dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap biaya transportasi dan distribusi barang, sehingga tekanan terhadap inflasi diperkirakan tetap terkendali.
