Kumparan Logo

Tanggapi MSCI, Menko Airlangga: Progres Reformasi Pasar Modal Harus Kelihatan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Universitas Negeri Semarang (Unnes).  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Foto: Dok. Istimewa

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara mengenai langkah penyedia indeks global MSCI Inc. yang meninjau ulang posisi Indonesia di klasifikasi Emerging Market.

Airlangga menekankan pemerintah dan regulator perlu memastikan implementasi reformasi pasar modal berjalan nyata dan dapat dilihat langsung oleh para investor, baik domestik maupun asing.

"Nah namun ini menjadi catatan bagi kita ke depan bahwa reform itu harus dijalankan Dan progresnya itu harus kelihatan Terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor dalam negeri maupun luar negeri," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (16/10).

Target Baru Hingga Juni Tahun Depan

Airlangga menjelaskan, MSCI kini memberikan tenggat waktu (deadline) baru bagi Indonesia untuk mengeksekusi janji reformasi pasar modal, yakni hingga April dan Juni tahun depan.

Menurutnya, fokus utama MSCI saat ini adalah kepastian implementasi regulasi serta aksi konkret dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai membutuhkan waktu relatif lebih panjang dibanding negara lain.

"Tentu yang mereka minta itu adalah implementasi dari apa yang sudah dijanjikan. Nah tentu kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi daripada regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal Ini kan mereka merasa periodenya agak panjang," tuturnya.

Pemerintah, lanjut Airlangga, akan berkoordinasi dengan BEI untuk menyusun langkah perbaikan yang konkret beserta linimasa (timeline) yang jelas.

Pertanyakan Sikap MSCI dan Tekankan Fundamental Ekonomi

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Menanggapi kekhawatiran soal status standalone market, Airlangga menilai posisi tersebut berada di antara emerging market dan frontier market. Ia juga mempertanyakan langkah MSCI yang terkesan mendadak, mengingat pimpinan MSCI sempat bertemu dengan jajaran pejabat Indonesia di Bangkok, Thailand, belum lama ini tanpa menyinggung hal tersebut.

"Apalagi kenapa udah ketemu di Thailand kemarin gak bicara pasal ini? Bukan ini kan ada tanda-tanda besar Kemarin di Thailand kok gak ngomong yang ini Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum. Ya tentu kita lihat aja tapi kita tidak boleh suudzon," tambah Airlangga.

Airlangga menambahkan, lembaga pemeringkat (rating agency) lain tidak meragukan kondisi pasar modal Indonesia. Oleh karena itu, dia menilai gejolak pasar saat ini termasuk kejatuhan IHSG dan pelemahan rupiah ke level Rp 18.000 per dolar AS lebih didorong oleh faktor sentimen.

"Nah tentu faktor sentimental, ini kita berharap para investor paham Mana yang sentimental, mana yang fundamental Dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain," tuturnya.

Untuk merespons dinamika pasar keuangan tersebut, Airlangga memastikan pemerintah menggelar pertemuan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada hari ini, Jumat (16/10).

instagram embed