Kumparan Logo

The Fed Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Federal Reserve. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve atau The Fed, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Hal itu dinilai juga memiliki dampak ke Indonesia khususnya kepada rupiah dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate.

Ekonom dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menjelaskan memang kenaikan suku bunga The Fed bisa membuat arus kas dolar yang keluar bisa semakin besar. Dampak dari situ rupiah berpotensi tertekan.

Jika rupiah tertekan, Trioksa menjelaskan hal itu juga membuat BI berpotensi untuk menaikkan suku bunga acuan.

“Dampaknya adalah arus kas dolar keluar akan semakin besar, rupiah tertekan dan mendorong BI untuk menaikkan bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah. Bagi bank, potensi Suku bunga akan naik, biaya dana naik dan bunga kredit akan terdorong naik yang dapat meningkatkan risiko kredit. Bila menahan kenaikan bunga kredit maka margin bunga bersih akan tertekan,” kata Trioksa kepada kumparan pada Kamis (17/9).

Sementara itu, terkait besarnya potensi BI menaikkan suku bunga akibat suku bunga The Fed yang naik, Trioksa memperkirakan BI masih akan mencermati pergerakan rupiah.

“Iya, tergantung dampak ke pelemahan rupiah,” ujarnya.

Meski demikian, ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet berpendapat berbeda. Menurutnya, keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75 sampai 4 persen tidak serta merta membuat BI harus menaikkan BI Rate. Hal ini karena BI sebelumnya sudah melakukan penyesuaian sehingga memiliki ruang untuk menahan suku bunga.

“BI sebelumnya sudah melakukan penyesuaian secara pre-emptive hingga 5,75 persen, sehingga saat ini BI masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga dan menggunakan instrumen lain, seperti intervensi valas, SRBI, serta pengelolaan likuiditas, untuk menjaga stabilitas rupiah dan menarik arus modal,” ujarnya.

Sementara itu, ia menjelaskan dari sisi rupiah sebenarnya BI sudah sudah mengantisipasi sebagian keputusan The Fed sehingga pergerakannya relatif terbatas.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap ada karena penguatan dolar dan meningkatnya imbal hasil aset AS. Dolar yang menguat itulah dinilai Yusuf bisa membuat harga minyak bertahan tinggi sehingga hal itu bisa meningkatkan biaya impor khususnya untuk sektor energi

“Jika dolar terus menguat atau harga minyak bertahan tinggi, dampaknya bisa masuk ke Indonesia melalui kenaikan biaya impor, terutama energi, pangan, dan barang modal. Kondisi itu pada akhirnya bisa mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat,” kata Yusuf.

Dampak ke Sektor Rumah Tangga

Sementara terkait dampaknya terhadap sektor rumah tangga di Indonesia, ia melihat memang tak ada dampak langsung. Alih-alih demikian, dampaknya akan terjadi bergantung pada langkah yang diambil sektor perbankan untuk menyikapi kenaikan suku bunga The Fed.

“Jika perbankan menaikkan bunga kredit, masyarakat dengan KPR atau pinjaman berbunga mengambang akan menghadapi kenaikan cicilan. Sebaliknya, bunga deposito berpotensi ikut meningkat karena bank perlu menjaga dana pihak ketiga,” ujarnya.

Dengan demikian, selama tekanan eksternal masih bisa dikelola dan arus modal tetap terjaga, ia memang melihat bahwa BI tidak harus mengikuti The Fed. Namun, jika tekanan terhadap rupiah dan inflasi berlangsung lebih lama, Yusuf menilai ruang BI untuk melonggarkan kebijakan akan semakin sempit.

Beri Sinyal Hawkish

Kevin Warsh. Foto: Ann Saphir/REUTERS

Selain menaikkan suku bunga, The Fed juga memberikan sinyal kenaikan tambahan pada tahun ini. Kebijakan tersebut sekaligus menguji hubungan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dengan Presiden AS, Donald Trump, yang berulang kali mendesak bank sentral menurunkan suku bunga.

“Kami mengurangi sebagian akomodasi sehingga kondisi keuangan dan kredit menjadi lebih sesuai dengan tujuan akhir kami,” kata Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, dikutip dari Bloomberg pada Kamis (17/9).

Adapun Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) AS pada Rabu (16/9) waktu setempat, sepakat secara bulat menaikkan federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.

Namun, yang menjadi perhatian pasar bukan hanya kenaikan suku bunga tersebut. Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan para pejabat bank sentral mulai melihat tingkat suku bunga yang lebih tinggi hingga 2026.

Dalam proyeksi yang dirilis Rabu (16/9), median proyeksi suku bunga pada akhir 2026 naik menjadi 4,1 persen dari sebelumnya 3,8 persen. Sinyal ini menunjukkan dukungan yang semakin besar di internal The Fed terhadap serangkaian kenaikan suku bunga.

Sebanyak 16 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya ada satu kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.

Sementara pada 2027, median proyeksi menunjukkan tidak ada kenaikan suku bunga tambahan. Meski demikian, 8 pembuat kebijakan menginginkan suku bunga naik lagi sebesar 25 basis poin hingga akhir 2027 dibandingkan level saat ini.

Trump Minta Suku Bunga Lebih Rendah

Kenaikan suku bunga itu mendapat respons dari Trump. Melalui media sosial setelah keputusan The Fed, Trump mengatakan suku bunga AS seharusnya berada di level 1 persen atau lebih rendah, meski tidak secara langsung menyebut Warsh.

“Kami ‘menanggung’ hampir setiap negara di dunia, dan hal itu tidak bisa terus berlanjut,” kata Trump.

Kepada wartawan pada Rabu (16/9), Trump mengatakan telah berbicara dengan Warsh dan masih memiliki kepercayaan terhadap ketua The Fed itu.

“Anda sebaiknya memilih bersama dewan karena itu tidak akan menjadi masalah. Dewan tersebut sangat bermusuhan, sangat politis,” ujar Trump.

Di sisi lain, Warsh menegaskan kekhawatirannya terhadap inflasi. Menurut dia, terlalu banyak kategori barang dan jasa yang masih mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam basis 6 bulan dan 12 bulan.

“Angka inflasi pada musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik,” kata Warsh.

Pasar obligasi langsung merespons. Imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun, yang paling sensitif terhadap kebijakan The Fed, menghapus penurunan sebelumnya dan naik ke 4,73 persen.

Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turut naik selama konferensi pers Warsh, membalikkan penurunan sebelumnya dan akhirnya menembus 5 persen.

instagram embed