Konten dari Pengguna

Kenangan yang Menetap

Anggi Kusumadewi

Anggi Kusumadewiverified-green

Kepala Liputan Khusus kumparan. Senang berjalan-jalan, melihat-lihat, dan menulis. Berharap masa depan yang lebih baik bagi negeri dan bumi.

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggi Kusumadewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

… memories, even your most precious ones, fade surprisingly quickly. But I don't go along with that. The memories I value most, I don't see them ever fading. ― Kazuo Ishiguro, Never Let Me Go

Kenangan yang Menetap
zoom-in-whitePerbesar

Ingatan akan angka amat mudah luntur, bak daun-daun musim gugur. Namun tidak dengan ingatan Anjani tentangnya—dan senyumnya yang berlesung pipit. (Ah, tapi apakah ingatan itu benar? Anjani mendadak ragu. Mereka sudah cukup lama tak berjumpa).

Sore itu, seperti sore lain pada hari-hari sebelumnya, Anjani lekas meringkas tas—masukkan laptop, headphone, beres. Ia berdiri, menyandang ransel di bahu, dan bergegas menuju pintu kaca, melangkah cepat-cepat.

Sudah pukul 17.00, waktu pulang. Selalu begitu--tak lebih, tak kurang. Jam lima sore, Anjani mengejar langit merah dan matahari yang hendak terbenam dari balik jendela kereta.

Pintu kaca sudah di depan mata saat bayangnya berkelebat--dengan kerling menggoda. Anjani terperangah sejenak, lalu memalingkan wajah, mencoba meredam dentam di hati.

Sial, pintu kaca tak bisa ia lewati. Anjani lupa jarinya tak terbaca mesin fingerprint. Jangan tanya kenapa, ia pun tak tahu.

Paspor pertama Anjani bahkan dibuat tanpa sidik jari sama sekali. Mesin pembaca sidik jari di kantor imigrasi gagal membaca garis-garis melingkar di kulit jari tangannya.

Satu jari 10 kali ditekan pada mesin fingerprint, dan kesepuluh jari tangan Anjani gagal terbaca—itu artinya 100 kali mencoba, dan gagal.

Andai jari-jari itu manusia jempol—Thumbelina-Thumbelina mungil di negeri dongeng—yang mengalami kegagalan hingga 100 kali dalam hidupnya, seperti apa rasanya kira-kira? Pikiran Anjani melantur seperti biasa, macam korsleting karena tersambar guntur.

Apa sesungguhnya yang sedang ia bicarakan? Oh ya, sidik jari. Lagi-lagi mereka tak terbaca mesin fingerprint. Anjani melangkah mundur, mengedikkan tubuh sambil mengangkat bahu.

Sesosok lelaki, bayang itu, mengintai di kejauhan dan tersenyum geli. Anjani menangkap senyum itu dari ekor matanya.

Lelaki itu melangkah perlahan menghampiri Anjani, dan menjulurkan jari jemari ke arah mesin fingerprintmasih dengan senyum terkulum.

Pintu terbuka, Anjani melangkah keluar, dengan bayang lelaki mimpi menetap.

Wajah itu, di lembayung sore itu, terukir sempurna di sulur-sulur serebrum Anjani.

***

Kenangan yang Menetap (1)
zoom-in-whitePerbesar

Peri

Kenapa kamu selalu minta yang lain bukakan pintu tak bisa sendiri?

Mesin fingerprint tak berfungsi untukku tak bisa baca ini sepuluh sidik jari

Mungkin kamu setengah peri

video youtube embed

Gambar-gambar ilustrasi diambil dari Unsplash.