Kumparan Logo
Lima sosok yang berjuang dan tumbuh bersama Indonesia
Lima sosok yang berjuang dan tumbuh bersama Indonesia.

Tumbuh Bersama Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sungai di hutan Gunung Muria. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sungai di hutan Gunung Muria. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Ada air yang harus diangkat dari perut bumi, ada hutan yang harus dijaga dari kepunahan, ada lapangan hijau yang harus direbut dari anggapan “itu bukan tempat perempuan”, ada dapur profesional yang harus ditembus berbekal ijazah SMK, dan ada panggung dunia yang harus digapai dari langkah-langkah kecil di kampung Betawi.

Lima jalan ini tampak tak berkaitan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, semua bermuara pada satu hal yang sama: keyakinan bahwa tidak ada jalan pintas untuk bertumbuh.

Kisah bermula di kawasan karst Pegunungan Sewu, selatan Jawa Tengah yang berbatasan dengan Gunungkidul. Di sana, kekeringan menghantui bertahun-tahun. Dan di salah satu sudutnya, Desa Gendayakan, Kabupaten Wonogiri, warga dilanda krisis air karena kontur perbukitan kapur sulit menyimpan air tanah.

Romel Nofrianto, Tim Eksplorasi Gua Jomblang. Foto: Dok. Istimewa

Di sanalah Romel Nofrianto—atau akrab disapa Ciken—mempertaruhkan diri menyusuri Gua Jomblang bersama tim Mapala GADAPRI Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY). Ia datang sebagai mahasiswa yang diajak bergabung dalam eksplorasi.

Siapa sangka eksplorasi itu menjadi awal dari titik terang. Di dasar gua sedalam 180 meter itu, tim menemukan sumber air bersih yang selama bertahun-tahun dicari-cari warga Desa Gendayakan. Namun, menemukan air baru separuh perjuangan.

Air itu masih harus diangkat dari kedalaman gua, lalu dialirkan lewat pompa dan jaringan pipa hingga sampai ke rumah-rumah warga—pekerjaan panjang yang terus disempurnakan dari tahun ke tahun, hingga Bakti Sosial Djarum Foundation dan berbagai pihak turut membangun sistem kelistrikan, pompa, dan pipanya.

Alhasil, air yang dulu hanya jadi impian warga, kini mengalir ke 11 dusun berkat ketekunan Romel bersama tim yang tak pernah berhenti bekerja meski anggotanya terus berkurang seiring lulusnya mereka dari bangku kuliah.

Ketua Yayasan Pengiat Konservasi Muria, Teguh Budi Wiyono, di hutan Gunung Muria, Agustus 2025. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Jauh dari Wonogiri, di lereng Gunung Muria di utara Jawa Tengah, ada Teguh Budi Wiyono yang menempuh jalan berbeda namun berangkat dari keresahan serupa: menyaksikan alam yang perlahan rusak.

Kegelisahan itu membuat Teguh—yang semula merupakan tukang ojek peziarah yang mengantarkan orang ke makam Sunan Muria—berubah menjadi penjaga hutan yang rela membeli lahan dengan uang pribadi untuk membendung laju perambahan.

Ia memasang kamera jebak, memantau macan tutul dan elang jawa yang nyaris punah, serta menanam ribuan bibit pohon bersama komunitas pelestarian lingkungan Peka Muria yang didukung oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation.

Sama seperti Romel yang berjuang mengalirkan air ke rumah-rumah warga, Teguh berupaya menjaga agar sumber air di hutan tidak habis mengering, sehingga akan terus mengalir untuk menghidupi generasi berikutnya.

Ika Wonda, pesepak bola wanita. Foto: Dok. Istimewa

Sementara Ciken dan Teguh berjuang dengan sumber air, Ika Wonda berjuang pada jalan berbeda. Putri Papua yang meninggalkan kampung halamannya di Distrik Ilu, Puncak Jaya, pada usia tujuh tahun itu kini berupaya membuktikan bahwa ia berhak berdiri di tempat yang selama ini dianggap bukan miliknya.

Ribuan kilometer dari dari rumahnya, Ika mengejar mimpi jadi pesepak bola profesional di Surakarta. Bakatnya terus diasah lewat MilkLife Soccer Challenge, ajang pemassalan sepak bola putri usia dini besutan Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Kini, Ika tumbuh menjadi mesin gol yang mengoleksi lebih dari 200 gol. Ia menyabet gelar Top Scorer lima kali berturut-turut. Pada setiap tendangannya, ada pesan yang sama: bahwa rumput hijau bukan hanya milik anak laki-laki, dan bahwa mimpi anak-anak dari pelosok negeri berhak tumbuh sejauh apa pun jaraknya dari kampung halaman.

I'zaaz Alyaa Ramadhana, koki profesional dengan pengalaman internasional. Foto: Dok. Istimewa

Semangat membuktikan diri yang sama juga mengantarkan I’zaaz Alyaa Ramadhana, perempuan asal Blora yang dibesarkan di warung makan sederhana milik orang tuanya, hingga ke dapur hotel bintang lima di Amman, Yordania.

Bermodal pendidikan Tata Boga di SMK Negeri 1 Kudus—salah satu sekolah kejuruan mitra Bakti Pendidikan Djarum Foundation yang sejak 2011 membenahi kurikulum dan fasilitas praktiknya agar setara industri, Alya menembus dapur profesional yang secara historis didominasi laki-laki. Ia bahkan akhirnya dipercaya memimpin tim dapur yang seluruh anggotanya adalah laki-laki, di usianya yang belum genap seperempat abad.

Jika Ika membuktikan diri di lapangan hijau, Alya membuktikannya di balik meja dapur yang panas, dengan keringat dan dedikasi yang sama besarnya.

Fathur "Ojak" Rizki, aktor Betawi yang belajar seni teater sampai London. Foto: Dok. Istimewa

Dan di ujung rangkaian cerita-cerita menakjubkan ini, ada Fathur “Ojak” Rizki yang menunjukkan bahwa akar budaya tidak perlu ditinggalkan untuk bisa melangkah jauh.

Sejak kecil akrab dengan tari tradisi dan hadrah khas Betawi, Ojak justru membawa identitas itu menembus panggung teater musikal modern yang berkiblat ke Barat. Lewat Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya—program pelatihan gratis dari Bakti Budaya Djarum Foundation, ia terpilih dari ratusan peserta dan diterbangkan ke West End, London, untuk belajar langsung dari para pelaku teater musikal kelas dunia.

Dari Cawang ke London, Ojak membuktikan bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling meniadakan, melainkan bisa tumbuh berdampingan di satu panggung yang sama.

Lima sosok yang berjuang dan tumbuh bersama Indonesia. Foto: Dok. Istimewa

Air yang diangkat dari gua, hutan yang dijaga dari kepunahan, gol yang dicetak jauh dari kampung halaman, dapur yang ditaklukkan di negeri orang, dan panggung yang direbut lintas benua—lima kisah ini berjalan di jalur yang berbeda-beda, namun ditenun oleh benang yang sama: kerja keras untuk tumbuh bersama.

Kelimanya adalah pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar tanggal yang diperingati setiap Agustus, melainkan sesuatu yang perlu terus dirawat lewat kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, di berbagai sudut Indonesia, oleh orang-orang yang mungkin namanya belum banyak dikenal.

Simak perjalanan lengkap kelima sosok ini hanya di kumparan.com.

Dalam mencintai bangsa, tak ada istilah “orang biasa”—yang ada hanyalah orang-orang yang terus memupuk semangat untuk tumbuh bersama Indonesia.