Konten dari Pengguna

Beda Kebiasaan atau Red Flag? Cara Gen Z Memahami Tanda Bahaya dalam Hubungan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggi Nurul Fauzia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi simbolis perbedaan perilaku dalam hubungan, antara tanda bahaya (red flag) dan hubungan yang sehat. Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi simbolis perbedaan perilaku dalam hubungan, antara tanda bahaya (red flag) dan hubungan yang sehat. Sumber: Shutterstock

Belakangan ini, istilah red flag semakin sering muncul dalam perbincangan anak muda di media sosial, terutama ketika membahas hubungan asmara. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perilaku yang dapat menjadi tanda adanya masalah dalam hubungan, baik saat pendekatan atau PDKT maupun ketika sudah berpacaran. Sikap posesif, kebiasaan mengontrol pasangan, hingga perilaku yang merendahkan atau menyakiti pasangan sering dianggap sebagai contoh red flag. Sementara itu, kebiasaan seperti jarang mengunggah hubungan di media sosial atau lambat membalas pesan masih kerap menimbulkan perdebatan. Lantas, bagaimana cara membedakan perbedaan kebiasaan dengan tanda bahaya dalam hubungan?

Media sosial menjadi salah satu tempat Gen Z mengenal istilah ini. Berdasarkan survei yang saya lakukan terhadap 17 responden, sebanyak 16 orang (94,1 persen) menyebut TikTok sebagai salah satu sumber informasi mereka tentang red flag. Hasil survei ini menggambarkan jawaban para responden dan tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh Gen Z.

Tidak Semua Perbedaan Berarti Red Flag

Dalam hubungan, setiap orang memiliki kebiasaan dan cara berkomunikasi yang berbeda. Salah satu contohnya adalah kebiasaan membalas pesan. Ada orang yang terbiasa membalas pesan dengan cepat, sementara yang lain baru sempat merespons setelah menyelesaikan aktivitasnya.

Dalam survei tersebut, 9 responden (52,9 persen) menilai bahwa kebiasaan membalas pesan dengan lambat bergantung pada situasi, sedangkan 8 responden (47,1 persen) menganggapnya sebagai perbedaan karakter atau kebiasaan. Tidak ada responden yang langsung mengategorikannya sebagai red flag dalam pertanyaan tersebut.

Hal serupa juga dapat terjadi ketika pasangan jarang mengunggah hubungan di media sosial. Bagi sebagian orang, mengunggah pasangan merupakan bentuk keterbukaan dan cara menunjukkan kasih sayang. Namun, bagi orang lain, hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang penting atau biasa dilakukan.

Dari 17 responden, sebanyak 11 orang (64,7 persen) menganggap kebiasaan tersebut sebagai perbedaan karakter atau kebiasaan. Lima responden (29,4 persen) menilai bahwa hal itu bergantung pada situasi, sedangkan satu responden (5,9 persen) menganggapnya sebagai red flag.

Hasil ini menunjukkan bahwa suatu perilaku tidak selalu memiliki makna yang sama bagi setiap orang. Jarang membalas pesan atau tidak mengunggah pasangan di media sosial tidak serta-merta menjadi tanda bahaya. Namun, konteks dan alasan di balik perilaku tersebut tetap perlu dipahami, terutama jika disertai kebohongan atau tindakan yang sengaja merugikan pasangan.

Ketika Perhatian Berubah Menjadi Kontrol

Meski tidak semua perbedaan merupakan tanda bahaya, ada perilaku yang berkaitan dengan pelanggaran batas pribadi. Salah satunya adalah memeriksa ponsel pasangan tanpa izin. Berbeda dengan keinginan untuk membangun keterbukaan, tindakan ini mengabaikan persetujuan dan privasi pasangan. Dalam hubungan yang sehat, keterbukaan seharusnya dibangun melalui komunikasi dan kepercayaan, bukan dengan memaksa pasangan menunjukkan isi ponselnya.

Sebanyak 16 dari 17 responden (94,1 persen) menganggap tindakan tersebut sebagai red flag. Perhatian dalam hubungan seharusnya tidak menghilangkan hak seseorang atas privasi dan ruang pribadi. Rasa cemburu pun perlu dikelola agar tidak berubah menjadi sikap mengontrol, membatasi pergaulan, atau menuntut pasangan untuk selalu mengikuti keinginan kita.

Dalam podcast kanal Pacitanku berjudul “Waspada Red Flags! Kenali Tanda Bahaya Teman & Pasangan Toxic Bersama Psikolog Pacitan”, psikolog Bu Denti menjelaskan bahwa kecemburuan berlebihan dan sikap posesif dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat. Perhatian yang awalnya dianggap sebagai bentuk kasih sayang perlu diwaspadai ketika mulai membatasi kebebasan pasangan.

Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa seluruh responden menganggap kebiasaan merendahkan pasangan secara berulang sebagai red flag. Sebanyak 16 dari 17 responden (94,1 persen) juga menilai kebiasaan berbohong sebagai tanda bahaya. Kebohongan yang terus berulang dapat merusak kepercayaan dan membuat hubungan dipenuhi keraguan.

Sikap manipulatif juga perlu diwaspadai. Tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahpahaman merupakan bentuk manipulasi. Perilaku ini perlu diperhatikan ketika seseorang berulang kali memutarbalikkan keadaan untuk menghindari tanggung jawab, mengendalikan pasangan, atau membuatnya merasa bersalah. Jika terus terjadi tanpa adanya upaya untuk memperbaiki keadaan, pola tersebut dapat membuat pasangan meragukan penilaiannya sendiri dan merasa selalu menjadi pihak yang bersalah.

Memahami Red Flag dengan Bijak

Meskipun istilah red flag membantu anak muda mengenali perilaku yang tidak sehat, penggunaannya juga perlu dipahami dengan bijak. Tidak semua hal yang membuat seseorang merasa kecewa atau tidak nyaman otomatis berarti pasangannya memiliki tanda bahaya.

Dalam pertanyaan mengenai apakah istilah red flag sekarang terlalu mudah digunakan, 12 dari 15 responden yang menjawab (80 persen) setuju bahwa istilah tersebut terkadang digunakan terlalu mudah dan perlu mempertimbangkan konteks. Sementara itu, tiga responden (20 persen) menilai istilah red flag tetap berguna untuk membantu seseorang menetapkan batasan dan tidak terus-menerus menoleransi perilaku pasangan yang merugikan. Dua responden lainnya tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa istilah red flag memiliki peran penting, tetapi perlu digunakan secara tepat. Memahami konteks bukan berarti membenarkan semua perilaku pasangan. Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu seseorang membedakan kesalahpahaman biasa dengan perilaku yang berulang kali melanggar batas, merendahkan, atau menyakiti.

Memahami Konteks Sebelum Memberi Label

Pada akhirnya, membedakan perbedaan kebiasaan dan red flag membutuhkan pemahaman terhadap situasi serta pola perilaku seseorang. Membalas pesan dengan lambat atau jarang mengunggah hubungan di media sosial belum tentu menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli. Namun, kebohongan berulang, perilaku mengontrol, dan tindakan yang merendahkan pasangan tidak seharusnya diabaikan.

Hubungan yang sehat tidak menuntut kedua orang memiliki kebiasaan yang sama dalam segala hal. Hal yang lebih penting adalah adanya rasa saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Dengan demikian, Gen Z dapat memahami red flag secara lebih bijak: tidak terburu-buru menghakimi perbedaan, tetapi tetap berani mengenali perilaku yang dapat merugikan dirinya maupun pasangannya.

Sumber Referensi

Pacitanku. “Waspada Red Flags! Kenali Tanda Bahaya Teman & Pasangan Toxic Bersama Psikolog Pacitan.” YouTube.

Video: https://youtu.be/brVuOMfa3oE