Konten dari Pengguna

Menyeduh Kenangan dan Keikhlasan di Kafe 'Funiculi Funicula'

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggie Cesylia Sitorus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Poster Novel Funiculi Funicula 'Before The Coffee Gets Cold"
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Poster Novel Funiculi Funicula 'Before The Coffee Gets Cold"

Pernahkah terlintas di pikiranmu, kalimat apa yang ingin kamu sampaikan sekiranya diberikan satu kesempatan langka untuk kembali ke masa lalu dan menemui seseorang yang sangat berarti? Di tengah tumpukan rasa penyesalan, keheningan yang salah diartikan, dan kata-kata yang tak sempat terucap, novel Funiculi Funicula karya Toshikazu Kawaguchi mengajak kita menyelami ruang emosional yang sangat hangat.

Sebelum membedah kisah unik di dalamnya, yuk intip dulu sekilas informasi dari novel terjemahan Jepang ini:

Sekilas Tentang Buku

  1. Judul Buku: Funiculi Funicula (Before the Coffee Gets Cold)

  2. Penulis: Toshikazu Kawaguchi

  3. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Edisi Terjemahan Indonesia)

  4. Tahun Terbit: 2021 (Cetakan Pertama Terjemahan)

  5. Tebal Halaman: 224 Halaman

  6. Genre: Fiksi, Drama, Magical Realism

Lintas Waktu dalam Seteguk Kopi Hangat

Tersembunyi di sebuah gang sempit kota Tokyo, berdiri sebuah kafe tua legendaris bernama Funiculi Funicula. Di balik aroma biji kopi yang khas, kafe ini menyimpan legenda unik: kemampuannya membawa pengunjung melintasi waktu kembali ke masa lalu. Namun, perjalanan mistis ini terikat oleh aturan yang sangat kaku dan tidak bisa ditawar.

Pengunjung hanya bisa bertemu dengan orang yang pernah menginjakkan kaki di kafe tersebut, takdir di masa kini sama sekali tidak akan berubah apa pun yang dilakukan di masa lalu, dan yang paling krusial: kamu wajib menghabiskan kopi serta kembali ke masa kini sebelum cangkirnya mendingin!

Melalui empat kisah yang sangat emosional, kita diajak melihat seorang wanita yang ingin memperbaiki kesalahpahaman dengan kekasihnya, seorang istri yang berusaha menyapa suaminya sebelum ingatan sang suami terhapus oleh Alzheimer, seorang kakak yang merindukan adiknya, serta seorang ibu yang ingin bertemu buah hatinya. Batas waktu yang sangat singkat seteguk kopi justru memaksa para tokohnya untuk melepas gengsi dan mengungkapkan kejujuran yang lama terpendam.

Ketika Waktu Tak Mampu Mengubah Takdir, Hanya Hati yang Berubah

Jujur, daya pikat utama novel ini terletak pada gagasannya yang unik dan menggugah emosi. Berbeda dari fiksi time travel pada umumnya yang berfokus pada ambisi mengubah masa depan, Kawaguchi justru menetapkan aturan mutlak bahwa masa lalu tidak akan mengubah kenyataan hari ini. Batasan inilah yang secara cerdas membuat fokus cerita tertuju pada transformasi emosional para karakternya. Keajaiban sejati ternyata bukan berasal dari cangkir kopi mistis, melainkan dari keberanian para tokoh untuk menyampaikan rasa sayang, maaf, dan ikhlas yang terlambat.

Gaya penulisan Kawaguchi terasa begitu hangat, bersahaja, dan penuh detail suasana. Karena awalnya diadaptasi dari naskah teater, latar tempat yang hampir sepenuhnya berlokasi di dalam kafe justru menghadirkan nuansa intim antara pembaca dan jalan cerita. Walaupun alur di awal cerita terasa agak perlahan karena penjelasan aturan kafe yang cukup mendetail, narasi perlahan mengalir semakin intens dan emosional hingga lembar terakhir.

Kesimpulan & Rating

Menurut saya pribadi, novel ini sangat layak mendapat nilai 8.5 dari 10. Funiculi Funicula memberi pelajaran berharga bahwa walaupun kita tak sanggup memutar ulang waktu demi mengubah kenyataan, kita selalu memegang kendali untuk mengubah cara pandang dan melapangkan hati dalam menyongsong masa depan.

Buat kamu yang sedang berjuang menyembuhkan rasa penyesalan atau ingin belajar mengutarakan perasaan secara lebih terbuka kepada orang-orang tersayang, buku ini wajib banget masuk daftar bacaanmu!