Konten dari Pengguna

Letnan I Nawawi Manaf dan Peran Pentingnya dalam Revolusi Fisik di Bengkulu

Anggi N Batubara

Anggi N Batubara

Mahasiswi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggi N Batubara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

mobil yang melintas di jalanan Curup, Kepahiang, Rejang Lebong, Bengkulu. (https://instagram.com/potolawasofficial?igshid=YmMyMTA2M2Y=)
zoom-in-whitePerbesar
mobil yang melintas di jalanan Curup, Kepahiang, Rejang Lebong, Bengkulu. (https://instagram.com/potolawasofficial?igshid=YmMyMTA2M2Y=)

Revolusi fisik yang berlangsung pada tahun 1945-1950 yang berpusat di pulau Jawa dan merembet tidak sedikit ke wilayah lainnya di Indonesia salah satunya adalah Bengkulu yang pada masa tersebut masih bagian dari Sumatra Selatan. Revolusi fisik ini berawal dari bangsa asing (Belanda) yang tidak rela untuk melepas Indonesia dari tangan mereka, dan reaksi bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan inilah yang dimaksud revolusi fisik. Rakyat Indonesia berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Dan salah satu daerah yang mengalami revolusi fisik adalah Bengkulu, Bengkulu pada masa kolonial merupakan daerah administratif yang dipimpin oleh residen dan belum berbentuk provinsi.

Letnan I Nawawi Manaf lahir di, Bengkulu pada 22 maret 1923 yang menempuh pendidikan umum di HIS (Hollandsch Inlandsche School), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan AMS (Algemeene Middlebare School), dan sekolah terakhir yang ditempuh adalah AMS yaitu sekolah menengah umum yang didirikan Belanda. dan setelah Jepang mengambil alih kekuasaan, Nawawi Manaf melanjutkan pendidikan militernya di Heiho dan Giyugun.

Pada tahun 1945-1946 gema kemerdekaan Indonesia sudah sampai ke Bengkulu dan Nawawi Manaf sebagai pejuang yang memiliki hubungan yang baik dengan pihak Jepang ingin menyampaikan berita kemerdekaan ini kepada pihak Jepang sendiri terutama gubernur yang memimpin Bengkulu pada masa tersebut yaitu Suchokan Inumata. Nawawi Manaf berusaha meyakinkan masyarakat atas berita tersebut dan untuk pertama kalinya bendera merah putih berkibar di tanah Bengkulu.

Pengibaran bendera Indonesia ini juga mendapat kecaman dari pihak Jepang dan menggertak kembali Nawawi Manaf dengan memberikan pernyataan bahwa keududukan mereka di Bengkulu masih kuat. Tetapi sebagian rakyat tidak lagi peduli dan Nawawi Manaf berusaha berdiplomasi dengan pihak Jepang agar menurunkan bendera Jepang dan menggantikannya dengan bendera merah putih. Tidak semua masyarakat mau mengibarkan bendera merah putih, hal ini disebabkan masyarakat masih setia dan sudah bergantung kepada Jepang sehingga untuk meyakinkan mereka butuh waktu yang tidak sebentar.

Peristiwa Pasar Bengkulu

Nawawi Manaf sempat memimpin berbagai organisasi kemiliteran diantaranya API (Angkatan Pemuda Indonesia), BKR (Badan Keamanan Rakyat), PKR (Penjaga Keamanan Rakyat), dan sekaligus sebagai wakil komandan PKR. Di akhir tahun 1945, Nawawi manaf sempat di penjara karena peristiwa pasar Bengkulu. Peristiwa ini bermula pada 3 november 1945 ketika PKR berjaga-jaga di daerah mereka masing-masing dan ketika mereka melihat sedan biru yang datang dari arah Lubuk Linggau mereka curiga dan memberhentikan sedan tersebut. Sedan tersebut ditumpangi 3 orang Inggris yaitu Kapten Ir. Trevoro, Kapten Smith, dan Kapten Dr. Mycree. Setelah di introgasi mereka ingin ke tambang emas Lebong Tandai.

Mengetahui tujuan dari orang Inggris tersebut, Nawawi Manaf dan rekan-rekannya melakukan pemeriksaan ke Lebong Tandai dan setelah pemeriksaan, ternyata disana tidak terdapat tentara Jepang, tawanan perang, atau sangkut pautnya dengan sekutu mereka dengan daerah tersebut, sehingga menambah kecurigaan dan membuat Nawawi Manaf dan rekannya menambah penghalang di jembatan demi memperketat keamanan.

Ketika M. Syafei yang berjaga-jaga di jembatan dan melihat mobil tersebut melaju, mereka dengan sigap untuk memberhentikan mobil tersebut kembali, dan ketika M. Syafei berjaga, salah seorang dari anggota PKR lainnya melihat salah satu dari orang inggris tersebut menyodorkan pistol kepada M. Syafei dan otomatis Syafei meminta tombak sebagai isyarat untuk berjaga-jaga, tetapi anggota PKR lainnya salah paham dan mengira bahwa isyarat tersebut untuk menyerang, sehingga anggota PKR langsung menyerang mobil tersebut dan dari peristiwa itu 2 orang Inggris tersebut tumbang dan 1 diantaranya berhasil kabur.

Mendengar peristiwa tersebut, tentara Jepang langsung menghubungi residen Bengkulu untuk meminta nama pembunuh dan penanggungjawab atas peristiwa tersebut. bahkan juga meminta hasil rampasan senjata agar segera diserahkan.

Pada 10 november 1945, dua buah kapal perang Inggris mendarat di depan pelabuhan Bengkulu dan memberikan ultimatum ke pimpinan Bengkulu yaitu jika dalam 24 jam pemimpin Bengkulu tidak menyerahkan pelaku dan penanggungjawab atas pembunuhan tersebut, maka Bengkulu akan hancur. Karena tidak ada yang mengaku atas pembunuhan tersebut, Nawawi Manaf ditangkap dan dipenjarakan di Muara Aman. Sedangkan jasad kedua orang Inggris tersebut yang sebelumnya sudah di kubur, dibongkar kembali untuk dipulangkan ke Inggris.

Pada 1 juni 1948, Nawawi Manaf ditunjuk sebagai Komandan Batalyon XXVII Bengkulu menggantikan komandan sebelumnya yaitu Mayor Burhan Dahri. Pada tahun yang sama, agresi militer Belanda II pecah dan Nawawi Manaf serta rekan-rekannya berusaha melindungi Bengkulu dan sampai ke tahun 1949 agresi Belanda II masih berlanjut yang mengakibatkan pecahnya pertempuran antara Pimpinan Batalyon XXVII yang dipimpin Nawawi Manaf dengan Belanda.

Setelah pertempuran berakhir, perjuangan Nawawi Manaf dan rekan-rekannya belum selesai dan melanjutkan perjuangan mereka yaitu meyakinkan masyarakat Bengkulu atas kemerdekaan Indonesia karena banyak masyarakat yang masih setia dengan Jepang dan tidak percaya akan kemerdekaan Indonesia. Di samping hal tersebut, Nawawi Manaf masih terus berjuang melakukan aksi pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) Sumatra Selatan, yang bertujuan mendorong otonomi daerah yang harus merata sampai ke pulau Sumatra dan tidak hanya dipusatkan di pulau Jawa saja.

Sumber :

Fauziah, Amatullah, dkk. Peran Letnan I Nawawi Manaf di Bengkulu pada Masa Revolusi Fsisik tahun 1945-1959.

Yusuf, Syafruddin, dkk (2020). Perjuangan Rakyat Musi Rawas pada Masa Revolusi Fisik (1945-1949).