Bisnis
·
31 Januari 2021 13:08

Selamat Datang Bank Syariah Indonesia: Peluang dan Tantangan Merger Bank Syariah

Konten ini diproduksi oleh anggitps
Selamat Datang Bank Syariah Indonesia: Peluang dan Tantangan Merger Bank Syariah (56286)
Foto Gedung Bank Syariah Indonesia (BSI)
Setelah menjalani rangkaian proses yang cukup panjang tetapi bisa dilalui dengan sangat cepat, akhirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan izin penggabungan usaha ketiga bank syariah milik bank BUMN yakni Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank BNI Syariah (BNIS) dan BRI Syariah (BRIS).
ADVERTISEMENT
Kini ketiga bank syariah tersebut menyandang nama baru yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengungkapkan izin ini sesuai dengan surat dengan Nomor : SR-3/PB.1/2021. BSI akan resmi diluncurkan dan diresmikan pada bulan Februari 2021.
Banyak pro dan kontra yang mengiringi perjalanan proses merger tiga Bank Syariah ini. Namun kita patut berbangga dan menyambut gembira atas lahirnya BSI. Selain itu kita hendaknya bisa mencoba untuk berfikir positif dan strategis dalam menyikapi merger Bank Syariah ini.
Berfikir positif dalam artian bahwa dengan lahirnya BSI yang mengusung semangat ta’awun ini harapannya bisa menjadikan pondasi kebangkitan ekonomi syariah di Indonesia. Ini sekaligus menghidupkan mimpi kita supaya Indonesia bisa menjadi barometer perbankan syariah dunia
ADVERTISEMENT
Berfikir strategis bahwa dengan lahirnya BSI akan meningkatkan keunggulan kompetitif dari Bank Syariah yang di merger. Dengan peningkatan keunggulan kompetitif ini bisa jadi terobosan dalam mendorong pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia yang selama ini banyak dikritik karena cenderung stagnan.
Atas lahirnya BSI, kita bisa melihat adanya peluang dan tantangan yang besar kedepannya. Apabila peluang dan tantangan ini mampu dijawab dengan baik maka impian kita selama ini untuk bisa meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah akan lebih mudah untuk dicapai.
PELUANG BSI
Sebenarnya banyak peluang yang bisa dimaksimalkan dari lahirnya Bank Syariah Indonesia, namun pada tulisan kali ini coba akan kita kaji 3 peluang strategis dari merger bank syariah ini. Ketiga peluang tersebut adalah: menjadi Bank Syariah yang komplet, menjadi Bank Syariah BUKU 4 dan menjadi Bank Syariah global.
ADVERTISEMENT
Menjadi Bank Syariah yang Komplet
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Bank Syariah Indonesia merupakan gabungan dari tiga Bank Syariah yaitu: BSM, BRIS dan BNIS. Ketiga bank syariah ini masing-masimg memiliki keunggulan tersendiri dengan segmen yang sangat spesifik.
BSM selama ini dikenal sangat kuat dalam menjalankan bisnis konsumer yang terbukti mampu menopang bisnis Bank tersebut di masa pandemi Covid-2019. Pada tahun 2020 di saat banyak perusahaan pada gulung tikar, BSM justru mencatatakan laba sebesar Rp1,4 triliun di tahun 2020 atau ada kenaikan dibandingkan laba tahun 2019 yang sebesar Rp1,2 triliun.
Untuk bisnis di sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), BRIS adalah jagoannya. Bisnis di sektor UMKM selama ini menjadi andalan dari BRIS dan terbukti mampu memberikan sumbangan pendapatan untuk perusahaan. Sama seperti BSM, BRIS juga mengalami kenaikan laba di masa pandemi Covid-19. Pada tahun 2020 BRIS berhasil mencatatkan lama sebesar Rp248 miliar atau terjadi kenaikan jika dibandingkan dengan laba tahun 2019.
ADVERTISEMENT
Sedangkan BNIS memiliki Hasanah Card (kartu kredit syariah) sebagai salah satu produk unggulannya. Laba BNIS per Desember 2020 datanya belum berhasil kami dapatkan, namun sampai dengan bulan November 2020 laba yang telah dicatatkan adalah sebesar Rp441 miliar.
Dengan bergabungnya BSM, BRIS dan BNIS dengan keunggulannya masing-masing menjadi satu Bank Syariah BSI tentunya akan menjadikan bank ini menjadi Bank Syariah yang komplet.
Sebelumnya nasabah kalau pengen mendapatkan layanan pembiayaan konsumer yang bagus harus ke BSM, kemudian ke BRIS untuk mendapatkan pembiayaan KUR UMKM dan harus ke BNIS kalau pengen memiliki kartu kredit syariah. Maka setelah mereka digabung akan memudahkan nasabah untuk mendapatkan semua layanan tersebut dalam satu atap.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut tentunya akan semakin menambah kemolekan BSI. Karena seperti yang kita ketahui bahwa Bank Syariah selama ini sudah memiliki produk-produk unggulan yang tidak dimiliki oleh bank konvensional seperti: gadai emas, cicil emas, tabungan emas, haji, umroh, zakat dan wakaf.
Peluang untuk mendapatkan manfaat yang lebih lengkap tersebut akan bisa dirasakan oleh nasabah di BSI. Nasabah akan bisa mendapatkan layanan komplet BSI di 1.200 cabang dan didukung oleh 20.000 karyawan.
Menjadi Bank Syariah BUKU 4
BUKU adalah singkatan dari Bank Umum Kegiatan Usaha. BUKU merupakan tingkat kelompok dari perusahaan perbankan berdasarkan jumlah modal intinya.
Setiap Bank baik Bank Umum maupun Bank Syariah, dalam operasionalnya harus memiliki modal yang disebut dengan Modal Inti. Modal Inti ini terdiri dari modal yang disetor ditambah keuntungan yang diperoleh Bank setelah dipotong pajak.
ADVERTISEMENT
Menurut peraturan OJK nomor 6 /POJK.03/2016, usaha perbankan dikelompokkan menjadi 4 kelas BUKU yaitu:
• BUKU 1 adalah Bank dengan Modal Inti < Rp1 triliun.
• BUKU 2 adalah Bank dengan Modal Inti antara Rp1 triliun – Rp5 triliun.
• BUKU 3 adalah Bank dengan Modal Inti antara Rp5 triliun – Rp30 triliun.
• BUKU 4 adalah Bank dengan Modal Inti >= Rp30 triliun.
Per Desember 2020, gabungan dari BSM, BRIS dan BNIS mencatat total aset sebesar Rp239,56 triliun. Dana pihak ketiga mencapai sebesar Rp209,98 triliun.
Selanjutnya, pembiayaan mencapai Rp156,51 triliun, modal Rp22,61 triliun. Serta, laba bersih yang dibukukan senilai total Rp2,19 triliun.
Gabungan tiga Bank Syariah ini juga akan membuat modal inti BSI menjadi sebesar Rp20,4 triliun. Itu artinya untuk mencapai modal Rp30 triliun yang menjadi persyaratan dari Bank BUKU 4 tinggal sedikit lagi.
ADVERTISEMENT
Dengan laba di tahun 2021 dan penambahan saham dari masyarakat maka BSI diharapkan secepatnya bisa mencapai modal inti Rp30 triliun. Apalagi kalau pemerintah mau menambah modalnya di BSI maka akan lebih mudah lagi untuk mencapai angka tersebut.
Jadi dengan bergabungnya BSM, BRIS dan BNIS menjadi BSI akan menjadikan peluang untuk kita memiliki Bank Syariah BUKU 4 semakin terbuka. Dan peluang untuk menjadi bank syariah BUKU 4 ini akan memberikan banyak manfaat bagi umat.
Ketika sudah menjadi Bank Syariah BUKU 4 maka BSI dapat melakukan penyertaan sebesar 35% pada lembaga keuangan di dalam dan luar negeri dengan cakupan wilayah international.
Selain cakupan produk dan aktivitas, dengan menjadi Bank BUKU 4 maka akan semakin meningkatkan penyaluran pembiayaan pada sektor UMKM karena dengan semakin besarnya aset Bank maka penyaluran pembiayaan pada sektor UMKM akan naik pula.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan peraturan OJK nomor 6 /POJK.03/2016 pada Pasal 12 dijelaskan bahwa Bank pada masing-masing BUKU wajib menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada usaha produktif dengan ketentuan:
• paling rendah 55% (lima puluh lima persen) dari total kredit atau pembiayaan, bagi BUKU 1;
• paling rendah 60% (enam puluh persen) dari total kredit atau pembiayaan, bagi BUKU 2;
• paling rendah 65% (enam puluh lima persen) dari total kredit atau pembiayaan, bagi BUKU 3; dan
• paling rendah 70% (tujuh puluh persen) dari total kredit atau pembiayaan, bagi BUKU 4.
Itu artinya ketika nanti kita memiliki Bank Syariah BUKU 4 maka penyaluran pembiayaan Bank Syariah pada sektor produktif akan semakin meningkat yaitu menjadi 70% dari total pembiayaan Bank.
ADVERTISEMENT
Kenaikan porsi pembiayaan produktif ini tentunya akan mendorong peningkatan penyaluran pembiayaan UMKM yang ada di dalamnya. Hal ini sekaligus menjadikan jawaban atas kritikan bahwa dengan adanya merger Bank Syariah ini maka sektor UMKM akan ditinggalkan.
Dengan menjadi Bank Syariah BUKU 4 maka kepercayaan investor di dalam dan luar negeri akan semakin meningkat karena mereka semakin yakin dengan kemampuan BSI. Hal tersebut akan meningkatkan keunggulan daya saing BSI dan menjadi semakin kompetitif.
Menjadi Bank Syariah Global
Seperti disampaikan diatas bahwa dengan mergernya BSM, BRIS dan BNIS menjadi BSI akan menjadikan Bank ini menjadi Bank Syariah yang sangat komplet dan memiliki peluang untuk menjadi Bank Syariah BUKU 4.
Pada tahun 2020 disaat masa pandemi Covid-19, kinerja BSM, BRIS dan BNIS lebih bagus jika dibandingkan dengan Bank Konvensional. Investor juga sangat optimis dengan Bank ini kalau kita lihat pergerakan harga saham BRIS yang terus naik setelah adanya rencana merger 3 Bank Syariah ini.
ADVERTISEMENT
Hal ini seakan memberikan jaminan bahwa bisnis BSI di pasar dalam negeri nantinya akan aman dan terkendali karena manajemen di Bank ini sudah berpengalaman menggarapnya. Dengan kokohnya bisnis di dalam negeri akan menjadikan pondasi untuk ekspansi dalam menggarap bisnis di luar negeri.
Menjadi Bank Syariah Global adalah salah satu alasan kenapa BSI lahir. Hal ini bukanlah omong kosong karena BSI memiliki kemampuan dan peluang untuk kesitu. Karena dari hasil penggabungan aset dan modal inti akan menjadikan BSI menjadi lebih kuat untuk mencoba bersaing di tataran global.
Saat ini BSI memiliki modal inti sebesar Rp20,4 triliun sehingga menjadi Bank Syariah BUKU 3. Dengan posisi sebagai Bank Syariah BUKU 3 maka BSI dapat melakukan penyertaan modal pada lembaga keuangan syariah di Indonesia dan/atau di luar negeri terbatas pada wilayah regional Asia.
ADVERTISEMENT
Jadi saat ini BSI sudah bisa buka cabang di luar negeri untuk lingkup Asia. Negara-negara di Timur Tengah bisa menjadikan target market yang potensial untuk ekspansi bisnis BSI di luar negeri.
Nanti ketika modal inti bisa naik menjadi Rp30 triliun maka BSI akan menjadi Bank Syariah BUKU 4. Ketika sudah menjadi Bank Syariah BUKU 4 maka BSI bisa melakukan penyertaan modal pada lembaga keuangan syariah di Indonesia dan/atau seluruh wilayah di luar negeri.
Dengan adanya peluang menjadi Bank Syariah Global dan diimbangi pondasi yang kuat di dalam negeri maka manfaat yang akan diberikan oleh BSI kepada umat akan semakin luas.
TANTANGAN BSI
Selain peluang yang menjanjikan di atas, BSI juga memiliki tantangan yang harus bisa diatasi dengan sebaik mungkin.
ADVERTISEMENT
Ibarat sebuah kendaraan, apabila kendaraan tersebut berubah menjadi kendaraan yang lebih besar tentunya dibutuhkan keahlian yang lebih untuk mengendarainya. Apalagi kalau nanti penumpangnya campuran dari beberapa kendaraan maka akan menimbulkan hal-hal yang lebih kompleks untuk bisa di manage dengan baik.
Paling tidak ada 2 tantangan yang akan dihadapi oleh BSI yaitu kapasitas SDM dan penyatuan budaya perusahaan
Kapasitas SDM
Lahirnya BSI sebagai Bank Syariah dengan aset Rp240 triliun maka otomatis akan meningkatkan volume dalam mengelola perusahaan. Hal ini perlu diimbangi dengan kapasitas SDM yang mumpuni.
Manajemen di BRIS dan BNIS yang biasanya mengelola aset Bank sebesar Rp50-an trilun sekarang harus mengelola Bank dengan aset diatas Rp200 triliun. Manajemen di BSM yang biasanya mengelola aset Rp100-an triliun sekarang harus mengelola Bank dengan aset diatas Rp200 triliun. Demikian juga dengan para Group Head, Regional Head, Area Head, Branch Manager dan posisi-posisi lainnya yang akan mengalami peningkatan volume bisnis.
ADVERTISEMENT
Kalau dibuat rata-rata maka volume dalam mengelola perusahaan yang dilakukan oleh SDM exs BRIS dan BRIS akan meningkat empat kali lipat sedangkan untuk exs BSM akan meningkat dua kali lipat.
Manajemen dari BSI nanti harus bisa segera menutup GAP dari kapasitas SDM ini sehingga nantinya perusahaan dapat dikelola dengan aman.
Ada dua cara yang bisa ditembuh yaitu: pertama, peningkatan kapasitas SDM internal BSI dengan melakukan pelatihan untuk peningkatan kompetensi dan yang kedua dengan mengambil beberapa SDM luar yang berpengalaman mengelola aset besar.
Kolaborasi antara SDM internal yang handal dengan SDM eksternal berpengalaman untuk sharing knowladge maka diharapkan akan bisa mengisi GAP kapasitas SDM dalam mengelola perusahaan.
Penyatuan Budaya Organisasi
Antara BSM, BRIS dan BNIS memiliki fokus bisnis yang berbeda seperti yang dijelaskan di atas. Dengan fokus bisnis yang berbeda ini juga menjadikan budaya organiasi dari ketiga Bank Syariah tersebut berbeda juga.
ADVERTISEMENT
Budaya organisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam perusahaan. Robbins dan Judge (2008) menjelaskannya sebagai berikut:
• Budaya mempunyai suatu peran pembeda.
• Budaya organisasi membawa suatu rasa identitas bagi anggota organisasi
• Budaya organisasi mempermudah timbul pertumbuhan komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual.
• Budaya korporat itu meningkatkan kemantapan sistem sosial.
Menyatukan pegawai dari tiga Bank Syariah yang sama-sama telah bekerja dalam waktu yang lama dan memiliki latar belakang budaya organisasi yang berbeda tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen BSI. Tantangan ini juga harus bisa diatasi dengan baik supaya tidak menimbulkan konflik internal akibat perbedaan karakter pegawai.
ADVERTISEMENT
BSI perlu membangun budaya organisasi yang merupakan perpaduan dari budaya organisasi dari BSM, BNIS dan BRIS. Budaya organisasi BSI tersebut perlu diperkenalkan kepada seluruh pegawai melalui proses sosialisasi.
Dengan adanya sosialisasi budaya organisasi BSI tersebut maka diharapkan akan terdapat standar perilaku pegawai saat bekerja. Ketika perilaku pegawai saat bekerja telah terstandarisasi maka akan berdampak kepada standar layanan kepada nasabah yang maksimal.
Anggit Pragusto Sumarsono, Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi & Keuangan Syariah, Universitas Indonesia