Konten dari Pengguna

Tentang Tangan yang Kasar & Hati yang Tenang: Menemukan Kemuliaan di Garis Depan

Anggit Pragusto Sumarsono

Anggit Pragusto Sumarsono

Praktisi Perbankan Syariah, Master of Science (M.Si) Islamic Economic And Finance Universitas Indonesia (UI)

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggit Pragusto Sumarsono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembangunan Jalan Raya Pos Anyer Panarukan (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembangunan Jalan Raya Pos Anyer Panarukan (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)

Jika ada kesempatan untuk memutar kembali jarum jam ke masa dua ratus tahun yang lalu, kita mungkin akan berdiri di pinggir jalan tanah yang sedang dibelah. Sejarah mencatat pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan sebagai sebuah mahakarya infrastruktur yang menyatukan Nusantara. Namun, sejarah yang tertulis di buku-buku sekolah sering kali hanya memuja nama besar sang Gubernur Jenderal yang memberi perintah. Jarang sekali ada ajakan untuk melihat lebih dekat ke tanah merah, pada ribuan pundak yang memikul batu, pada telapak tangan yang pecah-pecah terkena godam, dan pada nyawa-nyawa sunyi yang menjadi fondasi jalan tersebut.

Ada sebuah paradoks yang menyakitkan dalam perjalanan peradaban: dunia cenderung memberikan penghormatan setinggi langit kepada pemegang pena dan pemberi instruksi, namun sering kali abai menaruh hormat yang setara kepada tangan-tangan yang memegang kunci inggris atau menyapu debu jalanan. Padahal, jika berani jujur pada nurani, kemuliaan seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh seberapa bersih meja kerjanya atau seberapa mentereng gelar yang berderet di kartu namanya. Kemuliaan sejati selalu bermuara pada satu hal: seberapa jernih alur rezeki yang dibawa pulang untuk keluarga.

Kejujuran di Balik Peluh yang Menetes

Bagi siapa saja yang hari ini bertugas di barisan paling depan, mereka yang berhadapan langsung dengan deru mesin, panasnya aspal, atau lelahnya melayani keluhan pelanggan satu per satu, ada satu hal yang harus tertanam kuat di dalam dada: Di sinilah tempat pemilik hubungan yang paling jujur antara usaha dan hasil. Di level operasional, tidak ada ruang untuk "bermain kata-kata" atau berlindung di balik jargon-jargon kosong. Jika sebuah tugas tidak diselesaikan, dampaknya akan langsung terasa. Jika sebuah pelayanan tidak diberikan dengan ketulusan, raut kecewa pelanggan tidak akan bisa disembunyikan. Ada keadilan yang sangat presisi di sana; sebuah hukum alam yang menyatakan bahwa setiap rupiah yang diterima adalah upah murni dari energi yang benar-benar dicurahkan.

Tidak perlu ada rasa kecil hati di hadapan pakaian yang necis atau ruangan yang ber-AC. Justru, tugas di lapangan menyimpan sebuah kemewahan batin yang sulit dicari di zaman sekarang: sebuah malam yang dilewati dengan tidur nyenyak karena tahu bahwa setiap suapan nasi yang masuk ke mulut anak-istri tidak berasal dari hasil memotong hak orang lain, bukan dari hasil menjilat atasan, dan bukan pula dari manipulasi laporan. Keringat yang membasahi baju bukanlah kotoran yang harus dimalukan; itu adalah air penyuci jiwa. Itu adalah bukti otentik dari manusia yang bermanfaat, yang menjadi kaki dan tangan bagi roda kehidupan agar tetap bisa berputar. Tanpa gerak tangan yang jujur di lapangan, seluruh strategi hebat setinggi langit yang dirancang di ruang rapat hanya akan menjadi tumpukan kertas tak bermakna.

Kepemimpinan: Menjadi Peneduh di Tengah Terik

Di sisi lain, bagi setiap jiwa yang saat ini dipercayai memegang amanah di posisi atas, jabatan tersebut sebenarnya adalah sebuah pengingat besar untuk tetap membumi. Kepemimpinan sejati adalah tentang bagaimana berhenti melihat manusia di bawah sebagai angka statistik atau "sumber daya" yang bisa diperas, dan mulai melihat mereka sebagai pribadi yang memiliki martabat utuh.

Kesadaran harus selalu terjaga bahwa kursi empuk yang diduduki hari ini, privilege yang dinikmati, dan keberhasilan yang dibanggakan, sebenarnya ditopang oleh punggung-punggung kuat di lapangan. Menjadi atasan di dunia modern bukan berarti mewarisi takhta "Bupati zaman kolonial" yang merasa berhak dilayani. Sebaliknya, posisi ini menuntut jiwa untuk menjadi peneduh. Ada sebuah kewibawaan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar memberikan perintah, yaitu kewibawaan yang lahir dari empati dan rasa syukur.

Ilustrasi kepemimpinan yang menjadi peneduh di tengah terik (Gambar dibuat dengan menggunakan AI)

Seorang pemimpin yang tulus adalah dia yang merasa gelisah jika dirinya menerima pujian sendirian, sementara tim yang berjibaku di lapangan bahkan tidak sempat mengusap keringat mereka. Kepemimpinan yang bijak akan selalu mengingat sebuah prinsip sederhana: "Jangan pernah merasa besar jika orang-orang di sekitarmu masih merasa kecil karena perlakuanmu." Penghargaan bagi barisan bawah tidak selalu harus soal materi; terkadang ia berupa sapaan tulus yang menyebut nama, ucapan terima kasih yang menatap mata, atau keberanian untuk berdiri paling depan pasang badan ketika tim sedang dirundung masalah. Itulah kepemimpinan yang akan diingat selamanya, bukan karena target yang tercapai, tapi karena ada manusia yang merasa dimanusiakan di bawah arahan tersebut.

Menuju Simfoni yang Harmonis dan Berkah

Pada akhirnya, sebuah organisasi, perusahaan, atau lembaga apa pun sebenarnya ibarat sebuah rumah besar. Keindahannya bukan hanya karena atapnya yang megah atau catnya yang mengkilap, melainkan karena fondasinya yang tertanam dalam dan pilar-pilarnya yang tegak lurus. Manusia hanya sedang berbagi peran dalam sebuah drama besar kehidupan. Secara kebetulan, ada peran yang berada di atas untuk memetakan arah agar tidak tersesat, dan ada peran yang berada di bawah untuk memastikan kaki-kaki tetap melangkah maju.

Tidak ada yang lebih mulia di antara keduanya, kecuali mereka yang paling jujur dalam menjalankan perannya. Jika yang di atas memimpin dengan hati dan yang di bawah bekerja dengan integritas, maka keberkahan akan turun menyelimuti semuanya. Mari kita bangun suasana yang sejuk, di mana yang di atas tidak segan untuk merunduk dan merangkul, dan yang di bawah tetap tegak dengan harga diri yang tinggi karena tahu bahwa setiap tetes peluhnya dihargai sebagai kontribusi bagi peradaban.

Mari terus berkarya dengan rasa bangga yang sehat. Di lapangan, teruslah bekerja dengan integritas, karena keringat itu adalah saksi kebaikan di hadapan Tuhan. Di ruang rapat, teruslah memimpin dengan ketulusan, karena setiap kebijakan adalah doa yang akan berbalik kepada diri sendiri. Sebab ketika semua urusan dunia ini selesai dan seragam kerja ditanggalkan untuk selamanya, yang akan dibawa pulang hanyalah satu jawaban atas satu pertanyaan: Seberapa bersih tangan ini dan seberapa banyak manfaat yang telah tertanam di hati orang lain?