Konten dari Pengguna

Punya Banyak Potensi, Bingung Jadi Apa: Identitas yang Terbagi oleh Kemungkinan

Anggita Indy Diananza

Anggita Indy Diananza

Anggita Indy Diananza - Prodi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Mahasiswi aktif di Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggita Indy Diananza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era yang menawarkan begitu banyak kemungkinan, justru banyak anak muda merasa kehilangan arah dalam memahami dirinya sendiri. Dunia yang penuh dengan pilihan tidak selalu membantu memberikan kejelasan justru sebaliknya, ia sering menciptakan tekanan, kebimbangan, dan rasa cemas yang tak terlihat. Ini bukan soal tidak memiliki kemampuan, tetapi lebih pada bagaimana terlalu banyaknya opsi membuat kita bingung menentukan satu jalan yang terasa tepat. Kita hidup dalam zaman yang membuat kita merasa harus segera tahu siapa diri kita dan ingin menjadi apa, padahal kenyataannya banyak dari kita belum punya jawabannya.

ilustrasi seorang pemuda Ketika pilihan begitu banyak, identitas pun terasa terpecah. Potensi besar bisa jadi membingungkan jika tidak diarahkan. Sumber Gambar: pixaby.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seorang pemuda Ketika pilihan begitu banyak, identitas pun terasa terpecah. Potensi besar bisa jadi membingungkan jika tidak diarahkan. Sumber Gambar: pixaby.com

Sejak kecil, kita kerap disuguhkan dengan kalimat yang tampaknya menyemangati “Kamu bisa menjadi siapa saja.” Kalimat ini terdengar indah, namun tidak selalu dibarengi dengan ruang untuk mengenali apa yang benar-benar kita inginkan. Banyak dari kita sudah dipaksa memilih arah hidup sejak muda entah memilih jurusan, bidang karier, atau bahkan prinsip hidup padahal kita belum betul-betul mengenal diri sendiri. Akibatnya, meskipun memiliki kemampuan di berbagai bidang, kita sering kali tidak tahu mana yang paling mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.

Kebingungan ini justru semakin parah karena derasnya arus informasi. Kita setiap hari dibanjiri oleh pencapaian orang lain yang berseliweran di media sosial mulai dari yang membangun usaha sendiri, mendapat penghargaan, sampai yang viral karena ide cemerlangnya. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri, merasa tertinggal, dan mempertanyakan nilai diri kita sendiri. Padahal, tiap orang punya jalur dan waktu yang berbeda. Namun dalam budaya yang mengagungkan kecepatan dan keberhasilan instan, kita merasa harus segera “jadi sesuatu,” bahkan saat belum siap.

Dorongan untuk cepat berhasil ini seringkali membuat kita melewatkan proses penting mengenali diri sendiri dengan jujur. Kita mulai membuat keputusan bukan berdasarkan rasa ingin tahu atau ketertarikan, tapi karena takut ketinggalan dari orang lain. Kita berusaha keras untuk terlihat produktif, bukan karena mencintai prosesnya, melainkan karena takut dicap gagal. Lambat laun, banyak dari kita merasa seperti sedang menjalani hidup yang ditentukan oleh orang lain, bukan yang berasal dari keyakinan pribadi.

Sayangnya, lingkungan kita pun tidak banyak membantu. Sistem pendidikan masih terlalu fokus pada hasil akhir dan seragam, tanpa mempertimbangkan bahwa tiap individu punya karakter, minat, dan ritme yang berbeda. Sekolah dan kampus seolah menyiapkan kita untuk bekerja, bukan untuk mengenali siapa diri kita atau bagaimana menjalani hidup yang bermakna. Setelah lulus, tidak sedikit yang merasa kosong dan tersesat, karena selama ini lebih sering diarahkan untuk mencapai sesuatu ketimbang memahami makna dari apa yang sedang dijalani.

Di tengah tekanan seperti ini, wajar bila banyak anak muda merasa lelah bahkan sebelum benar-benar memulai. Rasa lelah ini bukan karena tidak mampu, tapi karena dihantui rasa takut akan kegagalan dan ketidaktepatan langkah. Dalam dunia yang semakin perfeksionis, ruang untuk mencoba dan gagal terasa semakin sempit. Potensi yang kita miliki pun berubah menjadi beban, seolah-olah harus terus dibuktikan dan divalidasi agar dianggap layak dan bernilai.

Padahal, menemukan jati diri bukanlah proses instan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Identitas tidak terbentuk hanya dari satu keputusan, tapi dari perjalanan panjang dan keberanian untuk berubah. Sayangnya, kita hidup dalam sistem yang terburu-buru, yang memaksa kita tahu jawabannya dari awal, seolah kebingungan adalah kesalahan. Padahal, tidak sedikit dari kita justru menemukan makna dalam langkah yang kelima, bukan di langkah pertama. Dan itu tidak apa-apa. Mencari, gagal, dan mulai lagi adalah bagian penting dari proses menjadi diri sendiri.

Banyak dari kita tumbuh sebagai individu yang punya ketertarikan di berbagai bidang bisa menulis, mendesain, memimpin, bahkan memahami hal-hal teknis namun sering kali merasa tidak benar-benar ahli di satu hal. Kita disebut "serba bisa," tapi juga dikritik karena “tidak fokus.” Seringkali, kondisi ini membuat kita merasa ada yang salah dalam diri kita, padahal kenyataannya kita mungkin tergolong sebagai pribadi orang yang punya kapasitas berkembang dalam banyak bidang sekaligus. Sayangnya, konsep ini belum banyak dipahami di masyarakat. Mereka yang tidak berjalan di jalur tunggal dianggap ragu-ragu atau belum ‘matang,’ padahal mereka justru sedang menyelami potensi secara luas dan mendalam. Tanpa pemahaman dan dukungan yang cukup, kemampuan serbaguna ini malah berubah jadi keraguan diri, seolah-olah minat yang bercabang adalah bukan kelebihan.

Tekanan tersebut kemudian diperparah oleh budaya produktivitas yang terus mendorong kita untuk menjadi 'mesin pencapaian'. Kita tumbuh dengan pesan-pesan seperti "jangan malas", "jangan santai", atau "kamu harus selalu sibuk kalau mau berhasil." Kata-kata itu terus menggema, membuat kita merasa bersalah setiap kali ingin beristirahat atau ketika belum mencapai sesuatu yang besar. Maka banyak dari kita akhirnya berlari, bekerja, mencoba sebanyak-banyaknya bukan karena terdorong oleh semangat hidup, tapi karena takut dicap gagal atau kalah dari orang lain. Bahkan ketika akhirnya berhasil mencapai sesuatu, tidak sedikit yang justru merasa hampa karena ternyata keberhasilan itu bukan berasal dari pilihan yang benar-benar kita cintai, tapi dari kebutuhan untuk membuktikan diri kepada dunia. Rasa puas tidak datang, karena apa yang kita raih ternyata tidak selaras dengan siapa diri kita sebenarnya.

Di sinilah pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk tidak tahu. Tidak tahu arah, tidak tahu pilihan yang paling tepat, tidak tahu apa yang akan terjadi lima tahun lagi. Itu semua bukan bentuk kelemahan, tapi bagian sah dari proses menjadi. Ketidaktahuan itu justru membuka peluang untuk mengeksplorasi dan menyentuh bagian-bagian terdalam dari diri kita sendiri. Dunia terlalu cepat memberi label harus jelas, harus sukses, harus tahu. Padahal, sebagian dari kita justru sedang jujur ketika berkata, "Aku belum tahu." Dalam kejujuran itulah, identitas sejati mulai tumbuh bukan berdasarkan ekspektasi orang lain, tapi dari pemahaman yang lahir perlahan, dari dalam.

Mungkin, hidup tidak harus selalu punya arah yang pasti sejak awal. Mungkin, yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun belum bisa melihat ke depan dengan jelas. Kita boleh punya banyak potensi dan tetap merasa belum yakin. Kita boleh merasa bingung tanpa harus merasa bersalah. Tidak semua orang harus menjadi sesuatu di usia muda. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan di media sosial. Karena inti dari hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling dalam mengenal dirinya sendiri. Bahkan saat kita belum punya pencapaian besar, perjalanan mengenal diri tetaplah sesuatu yang berharga dan sah untuk dihargai.

Jadi jika hari ini kamu merasa tidak yakin, merasa ragu, merasa seperti sedang tersesat di tengah jalan itu tidak berarti kamu kalah melainkan kamu masih berjalan. Kamu masih dalam proses dan proses itu sendiri adalah bagian dari keberanian. Mencari arah bukanlah kelemahan, justru itu bukti bahwa kamu ingin hidup dengan makna. Kamu tidak asal mengikuti arus, tapi sedang mencari arus yang paling sesuai dengan jiwamu. Dan dalam pencarian itulah, kamu sedang tumbuh menjadi versi terbaik dirimu meskipun belum semua orang bisa melihatnya.

Penulis:

Anggita Indy Diananza

Mahasiswi di Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi