Tidak Punya Cita-Cita Bukan Tidak Bernilai: Normalisasi Hidup Tanpa Narasi Besar

Anggita Indy Diananza - Prodi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Mahasiswi aktif di Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Anggita Indy Diananza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah zaman yang penuh tuntutan untuk punya visi hidup yang jelas, tidak memiliki cita-cita besar sering dianggap sebagai tanda kegagalan. Kita seolah hidup dalam dunia yang menilai seseorang dari seberapa ambisius dan terarah mereka. Sejak kecil, kita diajarkan untuk tahu apa yang ingin dicapai, seolah tidak punya rencana sama saja dengan tidak punya masa depan. Padahal, tidak semua orang dilahirkan dengan hasrat untuk mengejar sesuatu yang megah. Beberapa dari kita hanya ingin hidup dengan tenang, menjalani hari demi hari tanpa rencana besar, dan itu sah. Tapi sayangnya, dalam sistem yang memuja pencapaian, keberadaan yang tenang seperti itu sering tidak terlihat dan tidak dihargai.

Tekanan semakin kuat ketika kita melihat media sosial yang terus menampilkan pencapaian luar biasa dari orang-orang seusia kita. Seakan semua orang sedang berlari menuju kesuksesan, sementara kita masih duduk di tempat yang sama, mencoba memahami siapa diri kita sebenarnya. Di tengah gempuran informasi tentang kesuksesan orang lain, menjadi “biasa” terasa seperti kutukan. Kita jadi mempertanyakan nilai diri sendiri hanya karena tidak punya target yang bisa dipamerkan. Padahal, tidak semua perjalanan hidup harus dibagikan, dan tidak semua tujuan harus besar. Menjadi pribadi yang tenang dan tidak tahu arah bukan berarti kita kalah dalam hidup.
Banyak dari kita merasa tertekan bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena dipaksa untuk punya jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum kita pahami. Dari usia muda, kita diminta menentukan pilihan hidup jangka panjang, padahal kita masih belajar mengenal diri sendiri. Kita diberi target, tapi tidak diberi ruang untuk mengeksplorasi. Maka, saat ada seseorang yang berkata “Aku belum tahu mau jadi apa,” sering kali jawaban yang diterima adalah kekhawatiran, bukan penerimaan. Seolah kebingungan itu sendiri adalah kesalahan. Padahal, justru di ruang ketidaktahuan itu, ada proses bertumbuh yang lebih jujur dan alami.
Kita hidup dalam pola pikir yang menuntut semuanya memiliki alasan. Bahkan ketika lelah dan ingin diam, kita merasa perlu menjelaskan mengapa. “Aku capek karena kerjaan,” atau “aku burnout karena tugas menumpuk,” bukan “aku ingin diam karena tubuh dan jiwaku butuh hening.” Seakan jika tidak produktif atau tidak lelah karena kerja keras, kita tidak punya hak untuk istirahat. Kita takut tidak melakukan apa pun, karena takut dianggap malas atau tidak bernilai. Padahal, istirahat bukanlah tanda kemunduran, melainkan bentuk keberanian untuk berhenti sejenak dan mendengarkan diri sendiri.
Kecemasan itu makin kuat saat kita mulai mengikuti arah yang bukan milik kita. Kita mencoba masuk ke jalur orang lain, berharap arah itu bisa mengisi kekosongan kita. Tapi, menjalani sesuatu yang tidak kita yakini justru menguras lebih banyak energi. Kita terus berlari, takut tertinggal, tapi tidak benar-benar tahu ke mana. Kita kehilangan hubungan dengan diri sendiri karena terlalu fokus membuktikan bahwa kita juga punya arah. Padahal, tidak semua orang ingin sampai puncak. Ada yang hanya ingin berjalan pelan dan merasa cukup, dan itu bukan bentuk kegagalan.
Kita butuh ruang untuk tidak tahu, untuk diam, untuk salah, dan tetap diterima. Tidak semua proses harus produktif. Ada yang tumbuh dalam diam, dalam keraguan, dan dalam kesederhanaan yang tidak terlihat. Tidak punya ambisi besar bukan berarti tidak punya nilai. Banyak orang yang hidup tanpa gemerlap pencapaian, tapi justru memberi banyak kebaikan di sekitar mereka. Hidup mereka tidak masuk headline, tapi tetap bermakna. Dan mungkin, makna sejati justru lahir dari kejujuran untuk menerima hidup apa adanya, bukan dari usaha keras untuk jadi seperti orang lain.
Sayangnya, sistem pendidikan dan lingkungan kita sering hanya mengajarkan cara menjadi ‘seseorang,’ bukan cara menjadi diri sendiri. Kita diajarkan menyusun CV, membuat rencana lima tahun ke depan, tapi tidak pernah diajarkan cara mengenal emosi, mengolah kebingungan, atau menghadapi ketidakpastian. Maka ketika kita tidak bisa menjawab “Mau jadi apa?”, kita merasa gagal, padahal itu adalah pertanyaan yang wajar untuk dijawab dengan “Aku belum tahu.” Kita butuh belajar bahwa tidak punya jawaban pun adalah bagian dari proses tumbuh, bukan akhir dari segalanya.
Selama ini kita merasa harus terus tampil mengesankan agar diakui. Kita takut kalau hidup kita terlihat tenang dan biasa saja, orang akanuntuk dianggap berhasil. menilai kita tidak ambisius atau tidak serius. Tapi kenyataannya, banyak hal luar biasa justru terjadi dalam keheningan. Kita tidak harus jadi luar biasa di mata orang lain untuk merasa cukup. Kita cukup hanya dengan menjadi manusia yang jujur terhadap dirinya sendiri, bahkan jika hidupnya tidak dipenuhi pencapaian. Kehidupan yang tenang pun tetap layak untuk dihargai.
Menjadi manusia bukan berarti harus terus memiliki arah yang jelas. Ada kalanya kita hanya perlu hadir dan menjalani hari ini, tanpa beban menjadi sesuatu. Mimpi boleh ada, tapi bukan keharusan. Kita tetap utuh bahkan jika tidak punya target besar. Kita tidak perlu membuktikan nilai diri dengan pencapaian. Bahkan dalam kebingungan pun, kita tetap bisa memberi makna pada diri sendiri dan pada hidup orang-orang di sekitar kita.
Mungkin yang sebenarnya kita perlukan bukan tujuan, tapi keberanian untuk berhenti sejenak dan jujur pada perasaan sendiri. Bukan untuk langsung menemukan arah baru, tapi untuk menyadari bahwa arah itu tidak harus selalu jelas. Kadang, dalam diam, kita lebih mengenali diri. Kadang, di tengah rasa tersesat, kita justru belajar menerima dan merawat bagian diri yang paling rapuh. Hidup bukan perlombaan, tapi perjalanan mengenal diri sendiri dalam segala bentuknya.
Jika suatu hari kita merasa belum tahu akan jadi siapa, tidak mengapa. Kita tetap memiliki makna dalam keberadaan yang sekarang. Hidup tidak harus spektakuler untuk bisa disebut berhasil. Hidup tidak menunggu kita jadi sempurna untuk layak dijalani. Dan mungkin, di momen paling sunyi saat kita berhenti mencari arah, kita justru menemukan bahwa menjadi ‘tidak tahu’ pun adalah bentuk keberanian yang paling tulus.
Penulis:
Anggita Indy Diananza
Mahasiswi di Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi
