Konten dari Pengguna

Tumbuh di Tengah yang Tidak Minta Maaf: Luka dari Lingkungan Tanpa Pengakuan

Anggita Indy Diananza

Anggita Indy Diananza

Anggita Indy Diananza - Prodi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Mahasiswi aktif di Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggita Indy Diananza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada luka yang tidak berbentuk, tidak berbunyi, dan tidak berdarah tapi rasanya sangat nyata. Salah satunya berasal dari tumbuh di sekitar orang-orang yang tidak pernah meminta maaf. Bukan karena mereka tidak pernah salah, tapi karena mereka tidak tahu atau tidak mau mengakui bahwa mereka bisa saja menyakiti. Dalam banyak rumah, institusi, bahkan lingkungan pertemanan, kita diajarkan bahwa permintaan maaf hanya milik mereka yang kalah, bukan bagian dari hubungan yang sehat. Kita tumbuh tanpa contoh bagaimana cara memperbaiki ketika menyakiti, tanpa tahu seperti apa rasanya dilihat dan dihargai setelah terluka.

Ilustrasi menunjukkan ruang dan pemulihan psikologis dalam konteks hubungan dan emosi individu. Sumber Gambar:pixaby.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menunjukkan ruang dan pemulihan psikologis dalam konteks hubungan dan emosi individu. Sumber Gambar:pixaby.com

Sejak kecil, banyak dari kita dipaksa menerima bahwa orang dewasa selalu benar. Kalau kita menangis karena kecewa, kita dianggap manja. Kalau kita merasa disakiti, kita dianggap terlalu sensitif. Tidak ada ruang untuk marah, apalagi berharap akan ada yang datang dan berkata, “Maaf ya, aku salah.” Kita jadi terbiasa menahan, mengabaikan luka kecil karena sadar tidak akan pernah ada yang mengakui keberadaannya. Dan dari situlah muncul kebiasaan untuk membungkam perasaan sendiri, seolah semua salah paham yang kita alami adalah sesuatu yang harus kita tanggung sendirian.

Dalam diam yang dipaksakan itu, kita tumbuh jadi pribadi yang pelan-pelan kehilangan kepercayaan pada rasa sendiri. Kita mulai mempertanyakan apakah perasaan kecewa kita valid. Kita jadi terlalu sering mengalah, karena takut dianggap memperbesar masalah. Kita belajar bahwa hubungan yang baik adalah yang tenang, bukan yang jujur. Maka ketika kita merasa tidak dihargai, kita diam saja. Karena kita tahu, tidak akan ada yang mengakui kesalahan mereka, dan tidak ada ruang untuk kita menyuarakan luka tanpa dianggap berlebihan.

Pola ini terus berulang hingga kita dewasa. Kita terbiasa menutupi rasa sakit dengan senyum, menyimpan kecewa dalam kepala, dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Kita begitu takut jadi orang yang “merepotkan” hanya karena menyuarakan perasaan. Dan yang lebih menyedihkan, ketika seseorang akhirnya mengucap “maaf” secara tulus, kita malah curiga. Kita bertanya-tanya, “Apa ini serius?” karena kita tidak terbiasa menerima pengakuan yang jujur. Bukan karena kita tidak ingin dipulihkan, tapi karena kita tak pernah benar-benar diajarkan bahwa luka bisa diobati dengan pengakuan, bukan pengabaian.

Di banyak ruang sosial, meminta maaf masih dianggap sebagai tanda kelemahan. Kita tumbuh di masyarakat yang lebih mementingkan menjaga harga diri daripada memperbaiki hubungan. Banyak orang tua yang lebih rela bersikap seolah tidak ada masalah daripada mengakui bahwa mereka pernah menyakiti anaknya. Guru-guru yang menyalahkan murid tanpa dasar pun enggan menarik ucapan mereka. Karena minta maaf, dalam kultur ini, dianggap meruntuhkan wibawa, bukan menumbuhkan kedekatan. Kita pun tumbuh jadi pribadi yang bingung bagaimana caranya memperbaiki sesuatu yang rusak, kalau bahkan kata “aku salah” saja tidak boleh keluar?

Akibatnya, kita kesulitan menyelesaikan konflik dengan sehat. Kita menjadi generasi yang lebih memilih menjauh daripada menyelesaikan. Kita takut karena tidak ingin disalahkan. Kita takut membuka luka karena tidak tahu apakah ada yang akan bertanggung jawab. Dan parahnya, kita pun membawa pola ini dalam hubungan dekat. Kita jadi pasangan yang mendiamkan daripada bicara. Jadi teman yang menghilang daripada meminta maaf. Bukan karena tidak peduli, tapi karena kita tidak tahu caranya hadir saat menyakiti atau disakiti.

Dan di tengah semua itu, ada rasa iri tersembunyi saat melihat orang lain bisa menyelesaikan pertengkaran dengan kata “maaf.” Ada keinginan yang begitu dalam untuk mengalami sendiri seperti apa rasanya disembuhkan melalui pengakuan. Tapi kita pun sadar, tidak semua orang punya keberanian untuk meminta maaf, apalagi mereka yang telah lama merasa tak perlu berubah. Maka, kita harus belajar menerima bahwa beberapa luka tak akan pernah mendapat penjelasan. Tapi kita juga bisa memilih untuk tidak terus hidup menunggu penyesalan orang lain demi merasa layak sembuh.

Sebagian dari proses pulih adalah menerima bahwa tidak semua akan selesai seperti yang kita harapkan. Kita tidak bisa memaksa orang dewasa untuk jadi versi yang lebih sehat jika mereka sendiri menolak melihat luka yang pernah mereka timbulkan. Tapi kita bisa berhenti mewarisi siklus itu. Kita bisa mulai jadi orang yang tahu bahwa meminta maaf bukan bentuk kekalahan, tapi keberanian untuk hadir penuh dalam relasi. Kita bisa jadi orang yang mengakui bahwa menyakiti tidak menjadikan kita buruk, tapi lari dari tanggung jawablah yang menyakitkan.

Pelan-pelan, kita bisa belajar berkata “maaf” tanpa merasa harga diri kita hilang. Kita bisa menciptakan ruang dalam hubungan untuk berkata “Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku paham jika itu melukai.” Kita bisa belajar bahwa menjadi manusia artinya juga belajar memperbaiki, bukan sekadar tampil baik. Kita bisa mewariskan ke anak-anak kita sesuatu yang berbeda, contoh bahwa cinta yang sehat selalu tahu cara kembali, dengan rendah hati.

Dan saat kita berhenti menunggu permintaan maaf dari orang yang mungkin tidak akan pernah bisa memberikannya, di situlah kita mulai bebas. Bebas dari beban menjadi orang yang terus menahan sakit demi menjaga ketenangan semu. Bebas dari keharusan menjadi kuat sepanjang waktu. Kita bisa berkata pada diri sendiri, “Apa yang aku rasakan itu nyata, dan pantas untuk diakui.” Bahkan jika satu-satunya yang mengakuinya adalah diri sendiri.

Karena memaafkan tidak selalu butuh permintaan. Kadang, kita hanya perlu berhenti memaksa diri untuk bertahan dalam hubungan yang tak memberi ruang untuk luka. Kita bisa memilih jalan pulang ke dalam diri sendiri ke tempat yang akhirnya bisa berkata “Kamu tidak perlu terus kuat hanya karena tidak ada yang minta maaf.” Kita bisa menjadi rumah bagi diri sendiri. Tempat di mana luka boleh ada, tapi tidak perlu terus dilupakan agar diterima.

Dan mungkin dari titik itu, penyembuhan perlahan bisa dimulai. Bukan karena semua telah selesai atau semua luka telah dijelaskan, tapi karena kita memilih untuk berhenti menunggu pengakuan yang tidak kunjung datang. Kita mulai memulihkan diri sendiri, dengan cara yang lembut dan penuh kesadaran. Kita belajar bahwa meskipun dulu tidak pernah ada yang memberi contoh bagaimana meminta maaf, bukan berarti kita tidak bisa menciptakan ruang itu sekarang untuk orang lain, tapi yang lebih penting lagi, untuk diri kita sendiri. Kita layak sembuh, bahkan jika tidak pernah ada yang berkata “aku salah.” Kita layak merasa ringan, tanpa harus terus membawa beban yang diwariskan dari keengganan orang lain untuk mengakui kesalahan. Dan meski tidak semua luka akan hilang sepenuhnya, kita bisa memilih untuk tidak lagi berpura-pura bahwa luka itu tidak nyata. Kita bisa tetap melangkah, dengan kejujuran, dengan ketenangan, dan dengan niat untuk menciptakan versi diri yang tidak hanya kuat, tapi juga utuh. Bukan karena kita tidak pernah disakiti, tapi karena kita memilih untuk tidak terus hidup dalam bayangannya.

Penulis:

Anggita Indy Diananza

Mahasiswi di Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi