Dua Pengalaman Horor yang Pernah Kualami

sedang belajar menulis
Tulisan dari Riski Anggrarini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertama-tama aku sendiri juga bingung, apa yang kualami ini bisa disebut pengalaman mistis atau bukan?
Sebenarnya saat kumparan memberi tugas tentang artikel horor. Jujur sempat kebingungan karena aku orangnya penakut. Namun saat mengalami kejadian horor itu bukan rasa takut yang kurasakan. Namun justru kebingungan lagi yang melanda, apa itu benar kejadian mistis atau hanya halusinasi saja? Pengalaman ini sempat kurasakan saat sempat menginap di rumah kakak.
Rumah itu kebetulan tidak dibangun sendiri oleh kakakku. Ada rumah cukup besar dijual dengan harga terjangkau. Namun kakakku banyak melakukan renovasi ini-itu karena ada beberapa bagian yang kurang menurut kakakku.
Kebetulan aku tinggal di sama di kota yang sama dengan kakakku. Aku berkunjung kesana sekitar seminggu sekali atau sebulan sekali. Rumah itu cukup besar dengan tiga kamar tidur dan garasi yang bisa menampung mobil dan motor.
Jangan pikir karena ini cerita horor, maka latar yang kalian bayangkan adalah rumah dengan aura gelap dan tidak memiliki tetangga di kiri,kanan,depan dan belakang rumah. Rumah kakakku jauh dari kata itu.
Sebenarnya cukup menyenangkan tinggal di rumah itu. Namun aku lebih suka tinggal di rumah orangtuaku yang berada di tengah kota daripada tinggal di kompleks perumahan yang letaknya di pinggiran kota kami. Alasan lainnya adalah tidak adanya fasilitas internet rumah karena kakakku lebih suka membeli paket data.
Bahkan aku lupa kapan peristiwa itu tejadi. Kalau tidak salah ini terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu.
Kebetulan kasurku itu menghadap jendela,di luar jendela memang ada gundukan tanah untuk tumbuhan dedaunan. Kejadian ini mesti terjadi pada malam hari. Aku melihat bayangan dedaunan panjang menjelang aku tidur. Dua hari kemudian, aku memutuskan tidur berbalik arah tidak menghadap jendela. Seperti merasakan aura seram jika tidur menghadap jendela.
Beberapa bulan kemudian,aku menginap lagi di rumah kakakku. Selesai maghrib,aku melihat bayangan dedaunan panjang meliuk-liuk. Setelah langsung melihat ke luar. Tumbuhan di depan kamarku hanya daun-daun biasa yang tidak bergerak sama sekali. Namun anehnya,aku bingung antara terlalu cuek atau merasa itu halusinasi. Aku menganggap biasa kejadian itu.
Padahal dua film horor yang seram seperti Ju-On dan film IT yang dibintangi oleh Bill Skarsgard bisa membuatku takut setengah mati. Namun saat melihat kejadian horor dengan mata kepalaku sendiri. Reaksiku malah cuek dan absurd.
Kalau aku ingat kembali pengalaman horor di rumah kakakku adalah peristiwa kedua yang pernah terjadi di hidupku. Peristiwa pertama malah terjadi saat aku masih SD. Saat teman-teman sekelasku main jelangkung. Temanku sendiri diisengi saat siang hari. Aku sih tidak mengalami apa-apa saat di sekolah. Namun malam harinya,sebenarnya aku tidak melihat apa-apa. Akan tetapi di balik jendela kamarku seperti merasa diawasi makhluk halus. Aku ketakutan kala itu, langsung saja kubaca ayat-ayat pendek yang kuhafal. Akhirnya setelah membaca surat pendek,aku merasa tenang dan bisa tidur dengan nyenyak. Esok harinya aku terbangun segar bugar dan tidak ada kejadian seram yang menimpaku.
Bagi yang membaca cerita ini. Mungkin bakal bilang, cerita apaan ini? Bahkan tidak ada perasaan takut saat membaca cerita ini. Namun inilah yang kurasakan jika kumparan ingin tahu pengalaman horor yang pernah kualami.
Lantas aku berpikir bukannya manusia itu makhluk yang derajatnya paling tinggi bahkan manusia lebih mulia daripada malaikat. Jadi buat apa kita takut dengan jin dan setan?
Bahkan menurut surat Al Israa' ayat 70 yang penafsirannya adalah para anak Adam selalu dimuliakan,Allah angkut mereka di daratan dan lautan. Bahkan manusia diberi rezeki dari hal-hal baik sekaligus manusia diberi kelebihan sempurna atas kebanyakan makhluk yang Allah ciptakan. Hadis riwayat Tirmidzi juga bilang jin saja lari dari sahabat Nabi yaitu Umar bin Khattab ra karena takut melihat kehadiran beliau.
Balik lagi ke pengalaman horor yang kusebut di atas. Akhirnya sadar apalagi setelah membaca Al Israa' ayat 70 dan hadis riwayat Tirmidzi. Manusia dengan segala keistimewaan yang diberikan Allah padanya. Harusnya tidak takut dengan keberadaan setan dan jin.
Selanjutnya beberapa bulan kemudian,aku mengunjungi rumah kakakku. Aku sempat melihat keberadaan jin iseng tersebut kemudian menghilang. Setelah kejadian tersebut makhluk halus yang mengganggu di rumah kakakku berangsur-angsur menghilang.
Kalau ditanya apa aku percaya dengan keberadaan makhluk halus? Bisa dikatakan jawabannya antara percaya dan tidak percaya. Mengapa bisa percaya karena Allah saja bilang bahwa dia yang menciptakan setan dan jin. Sebaliknya ada sisi merasa tidak percaya karena kadang berpikir apa benar ada hal seperti itu? Makanya saat ada testimoni cerita horor yang berdasarkan pengalaman nyata. Bukan bermaksud mengecilkan mereka yang pernah mengalami kejadian itu. Aku sering banget berpikir,apa itu beneran ada?
Dua hari lalu,aku mendengar ceramah ustadz. Mengapa banyak jin dan setan berkeliaran di Indonesia? Ustadz bilang karena kurangnya rasa tauhid dalam hati kita dan masih banyaknya ritual klenik dengan kata lain masih banyak orang bergantung kepada selain Allah. Padahal Allah itu sebaik-baiknya pelindung menurut kata ustadz.
Entahlah aku tidak tahu bagaimana reaksi editor kumparan jika mereka melihat cerita ini? Sebenarnya aku berekspektasi mereka ingin mendapat cerita horor dengan suasana seram mencekam sehingga yang membacanya bakal ogah ke kamar mandi sendirian.
Namun jika membaca kisahku. Mungkin kisah wanita yang katanya penakut tapi ketika mengalami peristiwa horor yang terjadi malah perasaan absurd dan dipikir hanya halusinasi semata.
Maafkan aku kumparanplus jika ceritaku tidak memenuhi ekspektasi editor kumparan. Bahkan ketika membaca hampir keseluruhan cerita,aku hampir tertawa terbahak-bahak saat menulisnya. Cerita macam apa yang kutulis ini?
Ah iya ... hampir saja lupa, ini agak keluar sedikit dari topik. Sejak SD aku suka membaca dan bercita-cita menjadi penulis fiksi. Akan tetapi aku sempat berhenti menulis dalam jangka waktu yang sangat lama karena alasan tertentu.
Namun ternyata menjadi penulis tidak semudah yang terbayangkan selama ini. Menjadi penulis harus bisa mengikuti kaidah penulisan tertentu. Kadang kita dituntut memuat pesan moral dalam cerita kita. Jujur jika disuruh menulis dengan tujuan pesan moral malah jadinya kebingungan. Bagiku menulis sesuatu karena ada sebuah ide yang keluar dan syukur-syukur ceritaku bisa menghibur pembaca. Makanya aku lebih suka menulis cerita fiktif daripada kisah nyata karena bagiku membuat cerita dengan pesan moral tertentu adalah tugas teramat berat bagi diriku.
Namun syukurnya novel pertamaku sudah selesai walau banyak kekurangan di sana-sini. Novel dengan tema drama keluarga ini kubuat dari tahun 2020 dan hanya butuh waktu tiga bulan menyelesaikannya dan sempat kutaruh di platform baca daring walaupun akhirnya kuhapus. Akhirnya novel itu menurutku benar-benar selesai di tahun ini dan butuh revisi sekitar empat kali.
Balik lagi ke tema horor. Pesanku jangan takut dengan setan ataupun jin karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna di antara ciptaan-Nya yang lainnya. Justru harusnya setan dan jin yang harusnya takut pada kita.
