Reformasi Birokrasi dan Fenomena Quite Quitting ASN

Analis SDM Aparatur di Kementerian Perindustrian
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anggraeni Anggie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, banyak kajian yang membahas fenomena Quiet Quitting. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan Quiet Quitting? Istilah ini mulai dikenal dan mendapat perhatian luas di media sosial sekitar tahun 2022. Popularitas Quiet Quitting semakin meningkat setelah Bryan Creely, seorang Career Coach, merilis video di TikTok.
Dalam konteks ASN, fenomena ini tentu tidak bisa langsung disamakan dengan pelanggaran disiplin. ASN yang menyelesaikan tugas sesuai ketentuan tidak dapat disebut melakukan pelanggaran hanya karena ia menolak menjalankan pekerjaan di luar kewajibannya. Persoalannya justru terletak pada wilayah yang lebih halus, yaitu pada keterlibatan serta hubungan psikologis seseorang dengan pekerjaannya, itulah yang menjadi inti Quiet Quitting.
Fenomena Quite Quitting dalam Birokrasi
Fenomena Quiet Quitting dalam birokrasi bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan respons dari sistem yang kurang memberi apresiasi kepada mereka yang bekerja keras, sementara pihak yang bersikap santai tetap merasa nyaman. Quiet Quitting seharusnya tidak langsung diartikan sebagai kemalasan ASN. Fenomena ini dapat menjadi indikator bahwa sebagian ASN mengalami penurunan semangat, kehilangan rasa tujuan, melemahnya keterlibatan, atau kurangnya peluang untuk berkembang dalam pekerjaannya. Karena itu, fenomena ini penting untuk dijadikan bahan refleksi guna memperkuat reformasi birokrasi.
Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat sebanyak 2.722 ASN mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri (APS) pada semester I 2026. Tentunya ada berbagai alasan yang mendasari keputusan mereka untuk mundur teratur dari birokrasi, mulai dari gaji, persoalan karier, beban kerja hingga pertimbangan pribadi. Secara statistik, jumlah 2.722 ASN yang mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri terlihat relatif kecil dibandingkan dengan total ASN yang mencapai sekitar 6,77 juta pegawai.
Reformasi birokrasi pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan penyederhanaan prosedur, pembangunan aplikasi digital, atau perbaikan struktur organisasi. Di balik setiap sistem yang dirancang, selalu ada manusia yang mengoperasikannya. Oleh karena itu, keberhasilan reformasi birokrasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia di dalam birokrasi itu sendiri: bagaimana mereka bekerja, berkembang, berkolaborasi, serta memberikan kontribusi bagi organisasi dan masyarakat.
Semangat tersebut selaras dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara yang menempatkan transformasi ASN sebagai elemen penting dalam mewujudkan aparatur dengan hasil kerja yang tinggi. Pengelolaan ASN tidak hanya menekankan disiplin dan kepatuhan, tetapi juga mencakup manajemen kinerja, pengembangan kompetensi, pengelolaan talenta dan karier, serta pemberian penghargaan dan pengakuan. Dalam pengelolaan ASN, reward dan punishment memegang peran yang penting. Penghargaan berfungsi sebagai bentuk apresiasi atas kinerja, sedangkan mekanisme disiplin diperlukan agar setiap ASN dapat menjalankan kewajibannya secara bertanggung jawab.
Quite Quitting VS Work Engagement dalam Birokrasi
Temuan penelitian terbaru semakin menegaskan pentingnya memperhatikan work engagement dalam organisasi sektor publik. Sebuah jurnal penelitian tentang work engagement dalam administrasi publik yang terbit pada tahun 2025 menunjukkan bahwa engagement menjadi topik penting dalam kajian sektor publik, dipengaruhi oleh beragam faktor, organisasi maupun pekerjaan. Kajian tersebut juga memperlihatkan bahwa Job Demands–Resources (JD-R) Model merupakan salah satu kerangka kerja yang paling banyak digunakan untuk memahami work engagement dalam konteks administrasi publik.
Perspektif JD-R Model menawarkan sudut pandang yang menarik. Keterlibatan pegawai tidak semata ditentukan oleh karakteristik individu, tetapi juga oleh keseimbangan antara tuntutan pekerjaan (job demands) dan sumber daya yang tersedia (job resources). Tuntutan seperti beban kerja, tekanan, dan kompleksitas pekerjaan dapat menguras energi. Sebaliknya, dukungan atasan, otonomi, umpan balik, penghargaan, peluang pengembangan, serta lingkungan kerja yang suportif dapat berperan sebagai sumber daya untuk menjaga energi dan mempertahankan keterlibatan pegawai.
Menariknya, studi tahun 2025 yang melibatkan 500 ASN di Maluku Utara juga menemukan adanya hubungan antara kepemimpinan, work engagement, dan perilaku kerja inovatif. Temuan ini mengindikasikan bahwa work engagement tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan pegawai saat bekerja, tetapi juga terkait dengan dorongan untuk menghadirkan perilaku yang lebih inovatif bagi organisasi. Temuan ini menjadi penting bagi agenda reformasi birokrasi. Sebab, birokrasi tidak cukup hanya didukung oleh ASN yang hadir dan menyelesaikan tugas. Birokrasi membutuhkan ASN yang mau berpikir, mengambil inisiatif, berkolaborasi, berinovasi, serta memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat.
Dengan demikian, tantangan reformasi birokrasi tidak hanya terletak pada upaya memastikan ASN menjalankan kewajibannya. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun lingkungan yang mendorong ASN untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Pada konteks inilah work engagement menjadi penting. Barangkali persoalan Quiet Quitting tidak selalu perlu diatasi dengan menambah pengawasan atau menuntut pegawai bekerja lebih keras. Bisa jadi pertanyaan yang lebih tepat adalah "Apa yang menyebabkan seorang pegawai, yang sebenarnya memiliki kemampuan dan potensi, memilih untuk mengurangi atau berhenti memberikan usaha ekstra?".
Pada akhirnya, reformasi birokrasi bukan hanya berkaitan dengan pembenahan sistem, prosedur, dan teknologi. Reformasi juga menyangkut manusia yang menjalankan sistem tersebut. Birokrasi yang produktif tidak sekadar ditandai oleh keberadaan pegawai yang bekerja. Melainkan, birokrasi yang produktif adalah yang mampu menjaga pegawainya tetap memiliki energi untuk bekerja, merasakan makna dalam kontribusi, serta memiliki ruang untuk memberikan yang terbaik.
