Konten dari Pengguna

Ketika Belajar Tak Hanya Mengejar Nilai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fifi Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Foto: Shutterstock

Dalam setiap diskusi tentang pendidikan, pertanyaan yang sama kerap muncul.

Apakah anak-anak kita benar-benar belajar, bisa memahami materi secara bermakna, dan bertumbuh melalui tiap prosesnya? Atau jangan-jangan mereka hanya menjalani pendidikan sebagai sebuah kewajiban, dengan tujuan utama memperoleh nilai yang bagus?

Bagi kita sebagai guru sekaligus pendidik, pertanyaan tersebut juga menjadi ruang refleksi: apakah pengalaman belajar yang kita ciptakan di kelas sudah benar-benar membantu peserta didik berkembang melampaui sekadar mengejar nilai? Ataukah tanpa disadari kita masih memperkuat sistem yang menempatkan angka sebagai ukuran utama keberhasilan belajar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia. Anak-anak saat ini tumbuh di tengah dunia yang menuntut lebih dari sekadar prestasi akademik. Kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan beradaptasi menjadi bekal yang sama pentingnya. Namun keterampilan tersebut hanya dapat berkembang melalui pengalaman belajar yang aktif dan bermakna, bukan sekadar melalui hafalan atau hanya satu bentuk penilaian.

Bagi seorang guru, menghadirkan pengalaman belajar seperti ini berarti berani melihat kembali cara kita merancang pembelajaran maupun penilaian. Kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menggunakan angka untuk memberi peringkat siswa, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki proses pembelajaran, memberikan umpan balik yang bermakna, serta mengamini berbagai bentuk perkembangan peserta didik yang mungkin tak selalu tercermin dalam angka di rapor.

Satu tujuan pembelajaran sejatinya bisa dicapai melalui berbagai cara. Seorang siswa bisa memilih menunjukkan pemahamannya melalui sebuah laporan, sementara yang lain membuat presentasi, bagan, atau bahkan melalui komik. Ketika guru memberikan ruang untuk berbagai pilihan tersebut, kelas menjadi tempat di mana beragam potensi dan kekuatan siswa bisa dihargai. Hal ini tidak mengurangi kualitas atau standar akademik. Sebaliknya, pendekatan tersebut membantu siswa membangun pemahaman yang lebih bermakna terhadap materi yang dipelajari dengan caranya masing-masing.

Menjadikan pembelajaran yang “lebih dari sekadar mendapatkan nilai” juga bergantung pada lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru. Sebagian siswa mungkin masih merasa cemas atau enggan berpartisipasi dan menyampaikan pendapat, terutama pada hari-hari pertama mereka masuk sekolah. Suasana kelas yang aman dan mendukung, yang dibangun secara tepat oleh guru, dapat mengubah hal tersebut. Langkah-langkah sederhana, seperti mengajukan pertanyaan terbuka, menghargai setiap pendapat siswa, serta memberi mereka waktu untuk berpikir, dapat membuat siswa merasa lebih aman dan percaya diri. Perkembangan seperti ini mungkin tidak selalu tercermin dalam nilai, tetapi patut diingat kalau ini juga bagian penting dari proses tumbuh kembang anak.

Selain itu, pembelajaran bisa lebih bermakna ketika guru menyemangati siswa untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pembelajaran tentang penghematan energi tidak hanya berhenti pada pemahaman konsep di kelas, tetapi juga mendorong mereka membangun kebiasaan sederhana di rumah, seperti mematikan lampu saat tidak digunakan atau mengingatkan anggota keluarga untuk menggunakan energi secara bijak. Hal-hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan hanya tentang mendapatkan angka, tetapi juga tentang menciptakan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam praktik mengajar saya maupun rekan-rekan di Sekolah Victory Plus, saya melihat secara langsung bagaimana peserta didik dapat berkembang ketika guru secara sadar menciptakan ruang bagi suara, pilihan, dan kemandirian mereka dalam belajar. Kami menerapkan kerangka pembelajaran International Baccalaureate (IB), yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kemandirian, serta kepemilikan atas proses belajar mereka. Kami berupaya menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai individu yang aktif membangun pemahamannya sendiri melalui bertanya, mengeksplorasi berbagai topik, berkolaborasi dengan teman, serta menentukan cara terbaik untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari.

Sebagai guru, kami juga terus didukung dan dibekali untuk bertransformasi dari sekadar menjadi sumber pengetahuan menjadi fasilitator pembelajaran. Perubahan ini menuntut kesiapan untuk menerima pertanyaan dari peserta didik, keterbukaan terhadap beragam sudut pandang, serta kemauan untuk mendampingi proses belajar, bukan mengendalikan setiap langkahnya.

Namun, mewujudkan visi tersebut tidak dapat dibebankan kepada guru semata. Pimpinan di sekolah dan orang tua juga memiliki peran yang pentingnya. Bagi sekolah, hal ini berarti terus berinvestasi dalam pengembangan profesional guru, membangun budaya kolaboratif, serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan para guru terus mengembangkan praktik pembelajarannya. Sementara bagi orang tua, memilih sekolah seharusnya tidak hanya didasarkan pada nama kurikulum atau peringkat akademik, tetapi juga pada bagaimana sekolah mendorong anak untuk belajar. Yang tidak kalah penting adalah apakah siswa diberi kesempatan untuk berpikir secara mandiri, berpartisipasi aktif, serta berkembang, baik secara akademik maupun sebagai pribadi.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan saat ini perlu melampaui sekadar angka di rapor. Nilai tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai apakah proses belajar benar-benar terjadi.

Harapan kami, semakin banyak ruang-ruang kelas di Indonesia yang menjadi tempat bagi guru untuk merasa siap membangun rasa ingin tahu dan kepercayaan diri siswa, sekaligus menjadi ruang yang aman bagi mereka untuk bertanya, berpartisipasi aktif, atau sekadar

menemukan suara mereka sendiri. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan siswa berprestasi pada satu titik waktu, melainkan tentang membentuk generasi muda yang tangguh, memiliki rasa ingin tahu, serta siap berkontribusi bagi bangsa dan menghadapi dunia dengan cara berpikir yang kritis dan bijaksana.