Kenapa Membenci?

ASN yang bercita-cita jadi novelis.
Tulisan dari Anggres Yudistira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tuhan tak pernah ajarkan Adam benci
Ia hanya perintahkan untuk jauhi khuldi
Hawa tak dilahirkan untuk benci
Ia diciptakan untuk jadi permaisuri
Malaikat dan Jin tak diajarkan untuk benci
Mereka dititah untuk mengabdi
Alam tak dibentang untuk benci
Melainkan tempat labuhan segala hati
Lantas darimana datangnya benci?
Pernahkah kita merenung, kapan pertama kali kita membenci? Apakah saat si sulung menjadi juara kelas? Atau saat si bungsu dibelikan sepatu baru? Sebab apa kita membenci?
Saat ini jagat media ramai membicarakan prestasi 21 Heroes 2021 yang diperoleh Gubernur Anies Baswedan dari Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI). Banyak yang memuji, namun tak sedikit pula yang mencaci. Tidak hanya pada pribadi Anies, hinaan juga ditujukan pada pengguna media sosial yang bahkan hanya menyampaikan apresiasi berupa ucapan selamat. Tidak heran, kolom media menjadi ajang caci maki pihak-pihak yang masih terjebak dalam propaganda Pilkada DKI 2017.
Darimana Datangnya Benci?
Manusia lahir dalam keadaan fitrah, suci. Bagai kain putih tanpa noda. Lingkunganlah yang kemudian memberi warna. Terlahir dengan warna yang sama, namun tumbuh berkembang dengan warna yang berbeda. Lantas, warna apa yang mendominasi kita? Kebaikan kah? Atau kebencian?
Kita mungkin sudah gelisah dengan kebencian ini. Kebencian yang ditularkan para fanatik. Dibungkus sedemikian rupa, melahirkan mata rantai kebencian yang tak ada habisnya. Para fanatik yang dipelihara untuk berbagai kepentingan. Menggeser perlahan watak asli bangsa yang ramah, menjadi benci. Mungkin jika Belanda dan Jepang datang di abad ini, kita masih akan terjajah. Sejarah masih saja akan sama, bahkan lebih pelik, sebab kita yang semakin mudah diadu domba.
Tentu kita sepakat akan satu hal, bahwa para fanatik yang dipelihara untuk kepentingan tertentu adalah nyata. Sekelompok fanatik yang kita kenal dengan istilah Buzzer itu sungguh benar adanya. Sekelompok orang yang dipelihara untuk membela kepentingan sang tuan. Pribadi-pribadi yang bertanggung jawab dalam pergeseran norma sosial dalam masyarakat.
Hal yang membahayakan dari Buzzer bukan hanya kehadirannya, melainkan juga dampak yang ditimbulkan atas aksinya. Serangan verbal berupa cacian maupun hinaan yang dilancarkan oleh Buzzer akan memicu kebencian pada pengguna media sosial lainnya. Giringan opini bahkan ujaran kebencian akan menjadi perdebatan yang tidak berkesudahan. Pengguna media sosial yang awalnya biasa-biasa saja, akan terdorong untuk mengutarakan pandangannya. Syukur bila ia menanggapi para Buzzer dengan penyampaian yang baik. Bagaimana halnya bila ia menanggapi dengan balas mencaci? Tentu akan menjadi ajang kebencian tanpa akhir.
Memutus Kebencian
Sangat mengkhawatirkan bila siklus ini dibiarkan berlanjut. Bangsa yang dikenal ramah ini akan menjadi negeri para pembenci. Setiap hal yang berseberangan dengan pendapatnya, akan dihujani dengan makian. Kita butuh memotong mata rantai ini. Upaya memotong rantai kebencian yang dipicu oleh para Buzzer ini tak bisa diserahkan kepada Pemerintah saja untuk menertibkan, melainkan kesadaran kita semua. Lantas bagaimana menyadarinya?
Pertama, menyadari bahwa kebencian hanya akan melahirkan kebencian, tak akan pernah melahirkan kebaikan. Cahaya bahkan menyisakan gelap, namun gelap tidak pernah memancarkan cahaya. Artinya, setiap hal baik pasti mengundang benci yang lahir dari rasa iri. Namun hal buruk, tidak pernah mengundang kebaikan. Apakah kita berlomba-lomba dalam membenci?
Kedua, kendalikan diri. Tentu kita sadari, setiap melihat propaganda, ujaran kebencian, cacian dalam kolom komentar suatu tajuk berita misalnya, beberapa pihak tergerak untuk meluruskan. Namun bukan tanggapan baik yang diterima, melainkan serangan verbal. Apa yang bisa kita pelajari? Boleh jadi yang mereka inginkan bukanlah penjelasan, melainkan hasrat menebar kebencian. Jika kita terjebak dalam hasad, lantas apa yang membedakan kita dengan mereka?
Ketiga, selalu berbaik sangka. Boleh jadi yang kita baca, yang kita temui di media, adalah potongan-potongan kesalahpahaman. Karenanya perlu terlebih dahulu mencari sumber akurat untuk meyakini kebenaran suatu berita.
Terakhir, Jack Schafer pernah berujar, not all insecure people are haters, but all haters are insecure people.
Bahwa kebencian, lahir dari ketidakmampuan kita. Benci adalah konsentrasi warna yang kuat. Ketika ia dipupuk, maka warna-warna kebaikan yang ada dalam tubuh kita akan perlahan tersingkirkan. Karena itu, mari bersama-sama menjadi pribadi baik, berkomentar yang baik, dan berhati baik.
