Dari Dompet ke Layar: Ketika Cara Bayar Mengubah Cara Kita Membelanjakan Uang

mahasiswa unpam 2026
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Anggun Almaas Fatihatun Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari Dompet ke Layar: Ketika Cara Bayar Mengubah Cara Kita Membelanjakan Uang
Dulu, membeli sesuatu berarti membuka dompet, mengeluarkan uang, lalu melihat jumlah uang yang tersisa. Sekarang, cukup dengan memindai QRIS atau menekan beberapa tombol di layar ponsel, transaksi selesai. Bahkan ketika uang belum tersedia, ada pilihan paylater yang memungkinkan barang dibawa pulang terlebih dahulu dan dibayar kemudian.
Perubahan cara pembayaran ini terlihat seperti perkembangan teknologi yang biasa. Namun, jika dilihat lebih jauh, sistem pembayaran ternyata tidak hanya mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi juga dapat memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan ekonomi.
Dari Uang Tunai ke Transaksi Digital
Penggunaan pembayaran cashless membuat transaksi menjadi jauh lebih praktis. Masyarakat tidak perlu membawa banyak uang tunai dan transaksi dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Di sisi lain, kemudahan tersebut dapat membuat seseorang kurang merasakan bahwa dirinya sedang mengeluarkan uang. Berbeda dengan uang tunai yang jumlahnya terlihat secara langsung, transaksi digital hanya meninggalkan angka di layar.
Pengeluaran Kecil yang Tidak Terasa
Perubahan ini dapat dilihat dari kebiasaan sehari-hari, terutama di kalangan mahasiswa. Seseorang mungkin merasa hanya mengeluarkan Rp20.000 untuk makan, Rp15.000 untuk membeli minuman, dan Rp25.000 untuk transportasi. Masing-masing terlihat kecil.
Namun, jika dilakukan berkali-kali dalam sehari, pengeluaran tersebut dapat menjadi cukup besar. Masalahnya bukan pada nominal satu transaksi, melainkan pada akumulasi pengeluaran yang terkadang baru disadari ketika saldo mulai menipis.
Paylater: Membeli Sekarang, Membayar Kemudian
Kemudian muncul paylater yang membawa perubahan lebih jauh. Jika cashless membuat pembayaran menjadi lebih mudah, paylater membuat konsumsi dapat dilakukan sebelum seseorang benar-benar memiliki uang untuk membayarnya.
Bagi sebagian masyarakat, fasilitas ini dapat membantu ketika digunakan untuk kebutuhan yang memang diperlukan. Tetapi di sisi lain, paylater juga berpotensi menggeser pola pikir dari “apakah saya mampu membeli? menjadi “apakah saya mampu membayar cicilannya?
Misalnya, seorang mahasiswa melihat barang seharga Rp600.000. Jika harus membayar secara tunai, ia mungkin akan mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Namun, ketika tersedia pilihan pembayaran bertahap, harga tersebut dapat terasa lebih ringan.
Jika pola yang sama diterapkan pada beberapa barang sekaligus, kewajiban pembayaran dapat menumpuk dan akhirnya mengurangi ruang keuangan untuk kebutuhan yang lebih penting.
Kemudahan Transaksi vs Perilaku Konsumtif
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pembayaran memiliki dua sisi. Di satu sisi, cashless meningkatkan efisiensi transaksi, sedangkan paylater memberikan fleksibilitas pembayaran.
Namun di sisi lain, kemudahan tersebut dapat memengaruhi perilaku konsumsi jika tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan. Promo, cashback, dan kemudahan cicilan juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan pembelian tanpa perencanaan.
Bukan Teknologinya, tetapi Cara Menggunakannya
Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada apakah masyarakat menggunakan uang tunai, cashless, atau paylater. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Semakin mudah seseorang melakukan transaksi, semakin penting pula kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Teknologi pembayaran seharusnya menjadi alat untuk mempermudah aktivitas ekonomi, bukan alasan untuk mengabaikan kemampuan finansial.
Ketika Uang Tidak Lagi Terlihat
Perubahan dari dompet ke layar pada akhirnya bukan sekadar perubahan alat pembayaran. Ia juga menunjukkan perubahan dalam perilaku ekonomi masyarakat.
Ketika uang semakin tidak terlihat secara fisik, kesadaran terhadap pengeluaran justru perlu semakin kuat. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membuat transaksi lebih efisien justru membuat kita lebih mudah membeli sesuatu tanpa benar-benar mempertimbangkan kemampuan ekonomi sendiri.
