Konten dari Pengguna

Antara Lelah dan Marah: Dari Perspektif Biopsikologi

ANGGUN SITI NUR SOLEKAH

ANGGUN SITI NUR SOLEKAH

Mahasiswa S1 jurusan Psikologi - Universitas Muhammadiyah Surakarta

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ANGGUN SITI NUR SOLEKAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang pasti pernah mengalami hari yang melelahkan, entah karena pekerjaan, kurang tidur, atau tekanan mental. Marah yang kita rasakan adalah respon alami terhadap situasi di mana kita merasa terganggu, percaya ada bahaya, merasa orang lain bersalah kepada kita, atau merasa frustasi. Menariknya, saat-saat seperti itu, banyak orang jadi lebih mudah tersinggung atau marah, bahkan oleh hal-hal yang biasanya bisa diabaikan. Fenomena ini tidak hanya berasal dari pengalaman pribadi, tetapi juga dibuktikan oleh berbagai penelitian psikologi.

Marah adalah emosi, sebuah respon wajar yang bisa dirasakan oleh siapa aja. Menurut Cohen (2020), ketika kita marah, proses kimia di otak teraktivasi dan memengaruhi car akita merespons. Pada situasi yang mungkin di otak teraktivasi dan memengaruhi cara kita, biasanya menjadi pemicu marah. Bagian otak yang disebut amigdala, yang bertugas merespons rasa takut dan marah, akan aktif. Amigdala yang lebih aktif ini membuat kita merasa ancaman lebih nyata, sehingga memicu reaksi marah sebagai mekanisme perlindungan.

Ilustrasi orang sedang marah. Sumber: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang sedang marah. Sumber: iStock

Selain itu, kelelahan yang terjadi baik fisik maupun mental, memang terbukti dapat memengaruhi cara kerja otak, khususnya dalam mengatur emosi. Kelelahan juga memengaruhi kinerja korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas mengendalikan impuls dan membuat keputusan rasional terkait emosi. Ketika seseorang lelah, fungsi penghambatan korteks prefrontal melemah sehingga kemampuan menahan kemarahan dan mengelola stres menjadi berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa kelelahan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Kelelahan berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur, yang juga berkontribusi pada pengaturan emosi yang buruk. Gangguan tidur berdampak negatif pada fungsi otak terutama area yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan, sehingga menyebabkan penurunan kemampuan seseorang untuk mengontrol kemarahan.

Dalam hal ini, kelelahan dan kurang tidur memperkuat siklus buruk yang membuat seseorang lebih rentan terhadap kemarahan dan stres. Dari pandangan biopsikologi juga menekankan pentingnya faktor lingkungan dan sosial dalam memengaruhi respons emosional saat lelah. Pandangan biopsikologi sendiri adalah pendekatan dalam psikologi yang melihat bahwa perilaku, pikiran, dan emosi manusia sangat dipengaruhi oleh proses-proses biologis dalam tubuh.

Ilustrasi orang sedang lelah. Sumber: iStock

Dalam konteks ini, proses kognitif yang biasanya membantu mengontrol reaksi emosional menjadi terganggu, sehingga kemarahan lebih mudah muncul saat seseorang merasa kelelahan. Dari sisi hormonal, stres yang ditimbulkan oleh kelelahan memicu pelepasan hormon kortisol yang dapat memengaruhi suasana hati dan respons emosional. Kadar kortisol yang meningkat secara kronis dapat menyebabkan gangguan dalam regulasi emosi dan berkontribusi pada keadaan mudah marah.

Hormon ini berperan dalam meningkatkan kewaspadaan, namun jika tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup, efek negatifnya adalah overaktivasi sistem saraf simpatik yang membuat tubuh dan pikiran menjadi tegang dan gampang tersulut emosi. Faktor psikologis juga memegang peran penting dalam menghubungkan kelelahan dengan kemarahan. Dalam suatu studi yang menganalisis hubungan stres dan kelelahan dari aspek biopsikososial, dijelaskan ketegangan emosional yang diakibatkan oleh kelelahan fisik dan psikologis dapat memperburuk mood seseorang. Saat mengalami kelelahan, seseorang biasanya mengalami penurunan toleransi terhadap gangguan atau masalah kecil yang sebelumnya dapat dihadapi dengan tenang.

Tidak hanya pada faktor biologis, tekanan dari lingkungan sosial juga ikut berperan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, masalah dalam hubungan dengan orang lain, hingga tekanan sosial yang menjadi menumpuk akan memperburuk kondisi lelah kita. Ketika tubuh dan pikiran sudah lelah, hal-hal kecil yang biasanya bisa kita abaikan menjadi terasa sangat mengganggu dan membuat kita marah. Inilah yang menyebabkan siklus kemarahan dan kelelahan menjadi semakin sulit diatasi.

Pemahaman mengenai hubungan antara kelelahan dan kemarahan ini sangat penting. Dengan menyadari bahwa mudah marah saat lelah adalah proses biologis dan psikologis yang alami, kita bisa lebih bijak dalam merespons emosi tersebut. Salah satu langkah paling efektif yang bisa dilakukan adalah memberikan waktu cukup untuk istirahat dan tidur yang berkualitas. Melakukan relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau aktivitas ringan yang menyenangkan juga dapat menjadi alternatif untuk membantu menenangkan pikiran dan menurunkan tingkat stres.

Selain itu, jika kemarahan yang muncul sulit dikendalikan atau terlalu sering, psikoterapi bisa menjadi solusi yang tepat. Terapi dalam membantu mengelola emosi dan mengatasi stres secara lebih mendalam, sehingga kemampuan untuk mengendalikan impuls marah menjadi lebih baik.

Kesimpulannya, kemarahan yang mudah muncul saat lelah bukanlah tanda kelemahan atau kesalahan kita, melainkan sinyal tubuh dan otak yang mengingatkan untuk lebih memperhatikan kebutuhan fisik dan mental. Mengabaikan sinyal ini hanya akan memperburuk keadaan dan berdampak negatif pada kesehatan serta hubungan sosial kita. Oleh karena itu, mendengarkan tubuh, menghargai waktu istirahat, dan menjaga keseimbangan emosi menjadi hal yang penting agar kita bisa menjalani hari dengan lebih tenang dan bahagia.

Al Baqi, S., (2015). Ekspresi Emosi Marah. Buletin Psikologi. 23(1). 22-30.

https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/10574/7969

Gamayanti, W., & Hidayat, I. N. (2019). Marah Dan Kualitas Orang Yang Mengalami Psikomatik. 18(2). 177-186. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/download/17842/pdf

Wiganti, I., (2013). Teori Kompetensi Marah Dalam Persepektif Psikologi Islam. 18(2). 193-212. https://share.google/esXCPcs5lxfxA9BpY

Alifandi, Y. (2016). Kelelahan Emosi (Emotional Exhaustion) Pada Mahasiswa Yang Bekerja Paruh Waktu. Universitas Negeri Semarang.

Cohen, I. S., (2020). How to manage your anger. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/your-emotional-meter/202002/how-manage-your-anger