Persepsi Masyarakat Indonesia Timur di Jawa: Antara Stereotip dan Kenyataan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Anggun Sulastri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Anggun sulastri, Mahasiswa Universitas Pamulang (semester 5)

Bayangkan seorang mahasiswa dari daerah Indonesia Timur pertama kalinya tiba di Jawa. Ia masuk kelas, duduk tenang, dan tidak banyak berbicara. Beberapa teman melirik sekilas lalu berbisik, “Kayaknya orangnya tegas banget ya… agak serem.” Padahal, ia hanya pendiam. Bukan marah, bukan keras. Hanya berbeda cara menyampaikan pendapat. Cerita seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun bagi sebagian mahasiswa dari Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan NTT, situasi ini cukup familiar. Mereka sering diperkirakan sebagai orang yang keras, agresif, atau menakutkan. Bagi sebagian orang, anggapan ini dianggap lucu. Namun bagi mereka yang mengalaminya, label itu terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Stereotip dalam Kacamata Sosiologi
Dalam sosiologi, stereotip adalah cara memberi label yang terlalu umum kepada sebuah kelompok tanpa memperhatikan perbedaan antar individu. Artinya, yang dinilai bukan lagi diri seseorang, tapi identitas kelompoknya. Stereotip biasanya muncul karena beberapa hal, seperti:
• jarak geografis dan sosial
• kurangnya interaksi langsung
• cerita yang turun-temurun dari generasi ke generasi
• pengaruh dari media
Seringkali seseorang sudah diberi label sebelum kita benar-benar mengenalnya.
Peran Media: Hal-Hal Ekstrem Lebih Mudah Disiarkan
Jika kita perhatikan, media cenderung fokus pada hal-hal yang ekstrem, seperti konflik, kekerasan, atau tragedi. Dalam berita-berita tertentu, masyarakat dari Indonesia Timur sering muncul dalam konteks tersebut. Tubuh yang atletis, kulit yang lebih gelap, dan cara berbicara khas mereka kadang membentuk gambaran tertentu, yaitu tegas, keras, atau bahkan menakutkan. Namun, hal itu hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Di sisi lain, masih banyak mahasiswa berprestasi, seniman, atlet, aktivis, dan profesional dari wilayah Indonesia Timur yang tidak banyak diberitakan.
Dimensi Sejarah: Ketimpangan yang Meninggalkan Jejak
Kita juga tidak bisa memisahkan isu ini dari sejarah pembangunan bangsa. Dulu, pembangunan lebih fokus di Jawa. Akibatnya, tercipta ketimpangan ekonomi dan akses pendidikan yang membentuk struktur sosial yang tidak terlihat.
Jawa pun dianggap lembut dan beradab, sementara daerah Timur sering dikaitkan dengan sifat keras dan jauh. Padahal, itu bukan sifat alami. Tapi hasil dari proses sejarah yang berlangsung lama.
Perbedaan Budaya: Kesalahpahaman, Bukan Kesalahan Orang
Di berbagai komunitas di Indonesia Timur, cara berbicara cenderung lebih terbuka, ekspresif, dan jujur. Mereka biasanya melihat kontak mata sebagai hal yang wajar. Suara mereka mungkin terdengar lebih keras. Sementara itu, dalam budaya Jawa, orang cenderung berkomunikasi dengan lembut dan menghindari konflik.
Ketika budaya yang berbeda bertemu, bisa terjadi kesalahpahaman. Orang yang ekspresif mungkin dianggap marah. Orang yang berkata tegas mungkin disebut menakutkan. Padahal, itu hanya perbedaan cara berkomunikasi.
Dampak Nyata dalam Kehidupan Sehari-Hari
Kata "serem" mungkin terdengar biasa, tetapi dalam kenyataannya bisa menjadi stigma yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Beberapa mahasiswa dari wilayah Indonesia Timur menceritakan bahwa mereka sering dianggap berbahaya hanya karena cara mereka berjalan, berbicara, atau memandang orang lain. Akibatnya, ada yang dijauhi secara perlahan, ditempatkan di jarak tertentu, bahkan kesulitan mendapatkan tempat tinggal karena dianggap membahayakan tanpa alasan jelas. Banyak orang akhirnya merasa harus selalu tersenyum, menurunkan suara, atau menahan diri agar tidak disalahpahami, meskipun itu bukan sifat alami mereka sehari-hari. Perlahan-lahan, pengalaman seperti ini bisa membuat mereka merasa tidak nyaman, bingung, dan lelah secara emosional karena terus-menerus harus “memperbaiki diri” agar bisa diterima. Dalam kajian sosial, proses ini disebut othering ketika seseorang dilihat sebagai “orang luar” hanya karena identitas budaya yang melekat pada dirinya.
