Konten dari Pengguna

Karhutla Bukan Sekadar Bencana Lingkungan, tetapi Ancaman bagi Ekonomi Masyarakat

Angie Febia Syafa

Angie Febia Syafa

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angie Febia Syafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dampak Karhutla bagi Ekonomi Masyarakat. Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dampak Karhutla bagi Ekonomi Masyarakat. Sumber: Dok. Pribadi/AI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali dipandang sebagai persoalan lingkungan yang hanya berkaitan dengan kerusakan alam dan pencemaran udara. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Karhutla juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi, menghambat kegiatan usaha, hingga memengaruhi daya beli masyarakat.

Ketika kebakaran terjadi dan asap menyebar ke permukiman, masyarakat tidak hanya menghadapi masalah kesehatan. Kegiatan sehari-hari seperti bekerja, berjualan, bertani, dan melakukan aktivitas di luar ruangan juga dapat terganggu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Aktivitas UMKM Berpotensi Ikut Terganggu

Salah satu kelompok yang berpotensi merasakan dampak karhutla adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak usaha kecil bergantung pada aktivitas masyarakat secara langsung, seperti pedagang makanan, warung, pedagang kaki lima, hingga usaha jasa.

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap, masyarakat cenderung mengurangi kegiatan di luar rumah. Situasi tersebut dapat mengurangi kesempatan pelaku usaha untuk mendapatkan pelanggan, terutama bagi usaha yang mengandalkan pembeli secara langsung.

Di sisi lain, pelaku usaha juga dapat menghadapi biaya tambahan, misalnya untuk menjaga kebersihan tempat usaha, melindungi barang dagangan dari paparan asap dan debu, atau menyesuaikan kegiatan operasional. Walaupun tidak semua UMKM mengalami kerugian yang sama, kondisi ini menunjukkan bahwa bencana lingkungan dapat memberikan tekanan tambahan bagi usaha kecil.

Daya Beli Masyarakat Bisa Semakin Tertekan

Dampak ekonomi karhutla juga dapat dirasakan dari sisi pengeluaran rumah tangga. Masyarakat yang terdampak asap mungkin perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli masker, obat-obatan, maupun memenuhi kebutuhan kesehatan lainnya.

Pengeluaran tersebut dapat membuat anggaran rumah tangga menjadi lebih terbatas. Uang yang sebelumnya bisa digunakan untuk kebutuhan sekunder, berbelanja, atau menikmati produk dan jasa dari pelaku UMKM mungkin harus dialihkan untuk kebutuhan kesehatan.

Jika kondisi berlangsung cukup lama, aktivitas konsumsi masyarakat berpotensi ikut melemah. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu bagian penting dalam menggerakkan perekonomian. Ketika masyarakat mengurangi belanja, pelaku usaha kecil juga berisiko menghadapi penurunan permintaan.

Kerugian Karhutla Mencapai Puluhan Triliun Rupiah

Besarnya dampak ekonomi karhutla juga terlihat dalam laporan CELIOS berjudul The Hidden Cost of Fire: Economic and Health Impacts of Forest and Land Fires in Indonesia 2026, yang diterbitkan pada 2 September 2026.

Dalam laporan tersebut, CELIOS memperkirakan total kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla selama Januari hingga Agustus 2026 berada pada kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun. Estimasi ini mencakup kerugian aset fisik dan aktivitas ekonomi, potensi kehilangan penerimaan pajak daerah, serta biaya kesehatan masyarakat.

CELIOS juga memperkirakan kerugian aset fisik dan aktivitas ekonomi mencapai Rp29,54 triliun, sementara potensi kehilangan penerimaan pajak daerah mencapai Rp269,86 miliar.

Untuk dampak kesehatan, laporan tersebut memperkirakan biaya sebesar Rp9,75 triliun berdasarkan masyarakat yang terdiagnosis mengalami gangguan kesehatan terkait karhutla. Jika masyarakat yang mengalami gejala tetapi belum terdiagnosis turut diperhitungkan, estimasi biaya kesehatan dapat mencapai Rp93,56 triliun.

Angka tersebut merupakan hasil estimasi dengan skenario perhitungan yang berbeda, bukan laporan kerugian aktual yang telah diaudit. Namun, besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas hingga ke sektor ekonomi dan kesehatan.

Penanganan Karhutla Perlu Melibatkan Banyak Pihak

Melihat dampaknya yang luas, penanganan karhutla tidak seharusnya hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga perlu memperkuat upaya pencegahan, pengawasan terhadap pembukaan lahan, serta memberikan perhatian kepada masyarakat dan pelaku usaha yang terdampak.

Dukungan bagi UMKM juga penting dilakukan, terutama bagi usaha kecil yang mengalami gangguan operasional. Bantuan dan pendampingan usaha dapat membantu mereka mempertahankan kegiatan ekonomi selama masa pemulihan.

Selain pemerintah, perusahaan dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Pencegahan pembakaran lahan, pengelolaan lingkungan yang baik, serta kepedulian terhadap kondisi sekitar merupakan langkah yang perlu dilakukan bersama.

Pada akhirnya, karhutla bukan hanya meninggalkan hutan yang rusak dan udara yang tercemar. Bencana ini juga dapat mengganggu sumber penghasilan, menekan pengeluaran rumah tangga, dan memperlambat aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, mencegah karhutla berarti turut melindungi kehidupan dan perekonomian masyarakat.

Sumber Data:

CELIOS. (2026). The Hidden Cost of Fire: Economic and Health Impacts of Forest and Land Fires in Indonesia 2026. Diterbitkan pada 2 September 2026.

https://celios.co.id/publications/the-hidden-cost-of-fire-economic-and-health-impacts-of-forest-and-land-fires-in-indonesia-2026

Ditulis Oleh: Angie Febia Syafa Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang