Teen-Finance Academy: Edukasi Keuangan bagi Siswa SMAN 66 Jakarta

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Angie Febia Syafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemampuan mengelola keuangan merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup yang semakin konsumtif, remaja sering dihadapkan pada berbagai pilihan pengeluaran, mulai dari membeli makanan, mengikuti tren, hingga berbelanja melalui platform digital. Sayangnya, tidak semua remaja memahami bagaimana cara mengatur uang saku dengan baik.
Melihat kondisi tersebut, Teen-Finance Academy hadir sebagai konsep edukasi literasi keuangan yang menggabungkan pembelajaran dan hiburan atau edutainment. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan kepada siswa SMAN 66 Jakarta melalui metode yang interaktif dan mudah dipahami, yaitu Cashflow Envelope Challenge.
Membangun Kesadaran Finansial Sejak Bangku Sekolah
Literasi keuangan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung uang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan dalam menggunakan uang yang dimiliki. Pemahaman ini penting ditanamkan sejak sekolah agar siswa terbiasa membedakan kebutuhan dan keinginan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit pelajar yang menggunakan uang saku tanpa perencanaan. Keinginan membeli makanan kekinian, mengikuti tren, atau membeli barang karena diskon terkadang lebih diutamakan dibandingkan menabung.
Melalui Teen-Finance Academy, siswa SMAN 66 Jakarta dapat diperkenalkan pada konsep pengelolaan uang sederhana. Materi yang diberikan mencakup penyusunan anggaran, menentukan skala prioritas, membangun kebiasaan menabung, serta memahami pentingnya dana darurat.
Dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan pelajar, pembelajaran diharapkan tidak terasa seperti materi ekonomi yang hanya berisi teori.
Cashflow Envelope Challenge: Belajar Sambil Bermain
Salah satu metode utama dalam program ini adalah Cashflow Envelope Challenge. Metode ini menggunakan beberapa amplop sebagai media simulasi untuk membagi uang berdasarkan kebutuhan tertentu.
Dalam kegiatan ini, setiap siswa diberikan uang simulasi sebesar Rp100.000. Selanjutnya, mereka diminta membagi uang tersebut ke dalam beberapa amplop, yaitu kebutuhan sehari-hari, tabungan, hiburan, dan dana darurat.
Sebagai contoh, Rp40.000 dialokasikan untuk kebutuhan, Rp30.000 untuk tabungan, Rp20.000 untuk hiburan, dan Rp10.000 untuk dana darurat.
Tantangan dimulai ketika siswa diberikan beberapa situasi yang mengharuskan mereka mengambil keputusan. Misalnya, ketika muncul kebutuhan mendadak, ada barang yang sedang tren, atau teman mengajak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Siswa harus menentukan apakah akan menggunakan uang yang tersedia, mengurangi anggaran hiburan, atau mempertahankan tabungan. Dari permainan tersebut, mereka dapat melihat secara langsung bahwa setiap keputusan keuangan memiliki konsekuensi.
Metode ini juga melatih siswa agar tidak mudah menghabiskan uang hanya untuk memenuhi keinginan sesaat.
Menciptakan Pembelajaran yang Interaktif di SMAN 66 Jakarta
Penerapan Teen-Finance Academy di SMAN 66 Jakarta dapat menjadi alternatif kegiatan edukasi yang melibatkan siswa secara aktif. Tidak hanya mendengarkan pemateri, siswa juga dapat berdiskusi dalam kelompok, mengikuti simulasi keuangan, dan membandingkan strategi pengelolaan uang masing-masing.
Suasana pembelajaran yang interaktif diharapkan membuat siswa lebih berani menyampaikan pendapat serta memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar bekerja sama, berpikir kritis, dan menyelesaikan permasalahan sederhana yang berkaitan dengan keuangan.
Membentuk Generasi yang Cerdas Finansial
Pendidikan literasi keuangan sebaiknya tidak hanya diberikan ketika seseorang sudah memiliki penghasilan sendiri. Justru, kebiasaan mengelola uang perlu dibangun sejak remaja melalui hal-hal sederhana, seperti menyisihkan uang saku dan membuat catatan pengeluaran.
Melalui Teen-Finance Academy dengan metode Cashflow Envelope Challenge, siswa SMAN 66 Jakarta diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, tujuan utama literasi keuangan bukan membuat seseorang menjadi pelit atau takut menggunakan uang, melainkan membantunya memahami cara menggunakan uang secara bijak.
Sebab, generasi muda yang cerdas finansial bukanlah mereka yang memiliki uang paling banyak, tetapi mereka yang mampu mengelola uang dengan baik dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan keuangannya.
Ditulis Oleh:
Angie Febia Syafa
Amanda Putri Wardhani
Eliza Dwi Anggraeni
Mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang
