Alternatif Strategi untuk Mengurangi Kegaduhan Timses Saat Debat Capres-Cawapres

Dosen Politeknik STIA LAN Makassar. Podcaster Sains.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Anhar Dana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harap tenang. Harap tenang. Harap tenang.
Begitu kalimat yang biasanya diucapkan para moderator debat capres-cawapres untuk menenangkan para timses pendukung capres yang tampaknya tidak bisa tenang jika tidak bersorak setiap kali kandidat presiden atau wakil presiden yang mereka dukung mengucapkan kalimat-kalimat pamungkasnya. Dua kata itu diucapkan oleh moderator biasanya dibarengi dengan ekspresi tajam dan intonasi nada yang setengah berteriak, sambil mengangkat satu tangan. Seperti laiknya seorang guru yang sedang menegur murid-muridnya yang beringas dan membuat kegaduhan di kelas. Terlihat sekali mereka kesal.
Tidak heran. Siapa yang tidak kesal kepada para timses ini, sebab tampaknya mereka seperti gerombolan orang yang tidak bisa diatur. Selain itu, sorakan mereka sangat gaduh, bising dan seringkali timing-nya justru mengganggu konsentrasi dan menghambat jalannya debat. Kita saja yang menyaksikan sangat sebal melihatnya.
Bayangkan bagaimana perasaan para moderator debat capres yang harus bertugas dan meladeni mereka. Saya pikir saya tidak akan membantah jika ada yang bilang kalau saat ini orang paling sabar di Indonesia adalah para moderator debat capres.
Debat capres-cawapres tinggal satu kali pelaksanaan lagi. Debat pamungkas akan berlangsung kurang lebih seminggu dari sekarang. Sebagai seseorang yang merindukan jalannya debat yang tertib dan tenang, agar kita semua bisa fokus mendengarkan para kandidat saling beradu visi dan argumentasi, sekaligus sebagai seseorang yang menggeluti bidang ilmu psikologi sosial dan perubahan perilaku, melalui artikel ini saya ingin memaparkan beberapa rekomendasi praktis yang barangkali bisa menjadi alternatif strategi untuk diterapkan agar para timses ini bisa berkurang kegaduhannya.
Karena persoalan kegaduhan timses saat debat capres-cawapres berlangsung merupakan persoalan yang menyangkut perilaku kelompok, maka setidaknya ada dua strategi yang bisa diterapkan berdasarkan pendekatan psikologi sosial dan ilmu perilaku.
Pertama adalah pendekatan precommitment. Pendekatan ini merupakan pendekatan di mana seseorang dikondisikan untuk menyatakan di depan publik komitmennya untuk melakukan sebuah perilaku di waktu tertentu sebelum akhirnya benar-benar melakukannya di waktu yang telah ditentukan. Sederhananya, membuat seseorang berkomitmen terhadap sebuah perilaku terlebih dahulu sebelum melakukannya.
Pendekatan ini didasari oleh temuan dalam bidang psikologi sosial yang bilang bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk melihat keberlanjutan dan konsistensi di dalam dirinya. Berdasarkan tesis ini bisa disimpulkan bahwa jika seseorang dibuat berkomitmen terlebih dahulu terhadap suatu perilaku, maka besar kemungkinan mereka akan benar-benar melakukan perilaku tersebut di kemudian hari, karena mereka tidak ingin merasa tidak nyaman jika harus melabeli dirinya inkonsisten. Apalagi pelabelan itu datang dari orang lain.
Pendekatan ini telah berhasil pada beberapa kasus, misalnya pada program 'Save More Tomorrow' yang dilakukan oleh pemenang nobel ekonomi tahun 2017 Richard Thaler dan rekannya Shlomo Benartzi yang bertujuan membantu karyawan menghemat lebih banyak uang. Program ini mengkondisikan karyawan untuk berkomitmen menyisihkan gaji mereka di awal sebelum menerima gaji, dan ternyata strategi kecil ini berhasil membuat lebih banyak karyawan yang menabung untuk masa depan dan meningkatkan penghasilannya.
Jika diterapkan di kasus kegaduhan timses, pendekatan precommitment ini bisa diterapkan dengan meminta para timses untuk menandatangani sebuah lembar pernyataan untuk tidak membuat gaduh sebelum memasuki area debat, entah secara manual ataupun secara digital. Dengan asumsi ketika para timses ini sudah memberikan komitmen sendiri-sendiri sebelumnya, akan menciptakan motivasi untuk mengurangi intensinya berbuat gaduh karena tidak ingin melanggar komitmennya sendiri.
Alternatif kedua adalah pendekatan social norm. Manusia adalah makhluk konformis. Mengikuti norma sosial adalah salah satu bias terbesar manusia. Seseorang bisa terdorong melakukan perilaku tertentu hanya karena mayoritas orang-orang di sekitarnya melakukan perilaku yang sama. Pendekatan social norm memanfaatkan bias ini untuk melakukan perubahan perilaku, dengan cara mengekspos seseorang pada informasi aktual tentang perilakunya dan perbandingannya dengan perilaku kelompok atau perilaku orang-orang di sekitarnya. Memaparkan informasi kepada seseorang tentang perilaku orang-orang di sekitarnya dapat mengarahkan seseorang untuk akhirnya memutuskan berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan.
Salah satu contoh kasus paling legendaris dalam pendekatan ini adalah program penghematan listrik yang dilakukan oleh Opower. Perusahaan efisiensi energi asal Amerika ini berhasil menghemat listrik senilai 3 miliar dolar hanya dengan sebuah intervensi sederhana, yakni dengan menempelkan stiker yang menampilkan pemakaian listrik tetangga mereka di setiap rumah. Dampaknya, rumah-rumah yang melihat jumlah pemakaian listrik mereka lebih besar daripada tetangganya akhirnya terdorong untuk menurunkan pemakaian listrik mereka.
Pendekatan ini barangkali juga bisa diterapkan dalam kasus kegaduhan timses di debat capres. Pendekatan ini bisa dipadukan dengan pendekatan precommitment tadi, di mana pada lembar pernyataan yang akan ditandatangani itu dipaparkan data terkait seberapa sering mereka berbuat gaduh di debat sebelumnya sekaligus disandingkan dengan data jumlah kegaduhan yang ditimbulkan timses lawannya. Jika timses melihat kegaduhan yang mereka timbulkan lebih tinggi daripada timses lawan, asumsinya mereka akan terdorong untuk mengurangi kegaduhan mereka. Sebaliknya jika kegaduhan mereka lebih rendah maka diasumsikan itu akan menjadi penguatan untuk terus berperilaku serupa karena membuat mereka merasa lebih baik daripada timses lawan. Jika ingin dampaknya lebih powerful, data tersebut bisa ditampilkan di layar besar sebelum debat berlangsung. Paparan data tersebut bisa sekalian menjadi public shaming kepada timses yang paling gaduh, sekaligus semacam reward bagi timses yang paling tertib.
Kedua pendekatan ini juga bisa diterapkan dengan bungkusan gamifikasi. Memanfaatkan kecenderungan alami manusia yang gemar bermain. Penyelenggara debat bisa membungkus kedua alternatif tadi dalam sebuah “permainan” semacam “mencari timses yang paling tertib” yang bisa “dimainkan” oleh timses pada saat debat berlangsung. Hadiahnya bisa berupa pemberian tambahan waktu berbicara bagi para kandidat presiden yang didukung, penambahan kuota kursi bagi timses yang berhasil atau apa pun yang menarik bagi para timses.
Seluruh alternatif yang saya tawarkan ini tentu saja tidak bisa dijamin seratus persen akan berhasil. Namun setidaknya, ada alternatif lain yang bisa dilakukan, dan yang paling penting berbasis teori dan bukti saintifik. Tidak hanya bergantung pada cara yang sama yang sudah terbukti tidak efektif.
Seorang jenius bernama Einstein pernah bilang bahwa cuma orang gila yang melakukan hal yang sama berkali-kali tetapi tetap mengharapkan hasil yang berbeda. Sudah cukup moderator debat capres menjadi kesal saja, kita tidak ingin mereka juga menjadi gila.
