Pikolo-6: Komik Navigasi Wisata Pertama di Kota Solo

Penulis, Public Speaker, Freelance Copywriter, ASN di ISI Solo
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anhar Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![Tim Dosen ISI Solo, Ikatan Komikus Solo (IKILO), dan sejumlah mahasiswa serta masyarakat yang tertarik dengan aktivitas kreatif komik di Kota Solo melakukan Uji Keterbacaan Pikolo-6, sebelum dirilis dalam edisi cetak dan digital. Kegiatan dilakukan pada Sabtu (8/8) di sebuah Kafe di Solo. [foto: anhar/istimewa]](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01kzn6yetv65ep3t8c83xpvek4.jpg)
Tim Dosen dan Mahasiswa ISI Solo berkolaborasi dengan Ikatan Komikus Solo (IKILO) berhasil mewujudkan Pikolo (Kompilasi Komik Solo) edisi ke-6. Mengambil latar destinasi wisata Kota Solo dan genre bertema eksplorasi petualangan, komik ini sekaligus menjadi navigasi wisata di Kota Solo yang penuh cerita, menghibur, dan atraksi urban.
M. Harun Rosyid Ridlo, M.Sn, Ketua Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 yang juga merupakan dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual ISI Solo, mengatakan bahwa dengan program ini, narasi tentang kampus seni yang sering dianggap kurang memiliki kontribusi positif di masyarakat sudah tidak relevan.
Selain Harun, tiga dosen lain sebagai anggota tim adalah Rendya Adi Kurniawan, M.Sn. dan Alfiandi Eka Kusuma, M.Sn., dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Pratita Rara Raina, S.H., M.B.A (Prodi Destinasi Pariwisata). Tim ini melibatkan tiga orang mahasiswa DKV: Mufida Qonita, Reyhan Jovansa, dan Naufal Ahmad Nuril Anwar.
“Melalui Program ini, kami Dosen dan Mahasiswa ISI Solo secara proaktif berkolaborasi dengan komunitas kreatif Ikatan Komikus Solo (IKILO), sebuah wadah kolektif yang menghimpun para kreator komik berbakat di Kota Solo,” ungkap Harun.
Menurut Harun, ekosistem komik di Kota Solo ini punya potensi ilustrasi dan kekuatan bercerita yang tidak perlu diragukan lagi. “Namun, tantangan terbesar bagi komunitas komik ini sering kali bermuara pada bagaimana menginkubasi karya agar tidak hanya berakhir sebagai ekspresi personal. Lebih dari itu, memiliki daya guna strategis di ruang publik dan bernilai ekonomi. Di sinilah letak urgensi kehadiran kami berkolaborasi bersama IKILO,” tegas Harun..
Intervensi Kreatif
Intervensi kreatif dari ISI Solo ini tidak untuk merombak gaya gambar atau jati diri seniman IKILO. Potensi yang sudah ada ini dioptimalkan menjadi produk yang lebih atraktif.
Melalui pendekatan akademik, tim Dosen ISI Solo memberikan beberapa pendampingan. Pertama, pendampingan standardisasi kualitas komik dilakukan dengan pemberian materi terkait perancangan desain original character dan potensinya menjadi Intellectual Property (IP). Selain itu juga disampaikan materi terkait perwujudan desain karakter berciri khas lokal. Pendampingan ini dilakukan pada Minggu, 26 Juli 2026 di Twins Cafe.
Kedua, untuk mendukung kualitas luaran komik yang baik, tim juga memberikan pendampingan manajemen proyek dengan luaran SOP perancangan dan produksi komik. Pendampingan manajemen proyek ini dilakukan sepanjang bulan Juni-Juli 2026 seiring dengan proses pembuatan komik yang juga menjadi luaran program ini.
Hasilnya, karya bertajuk Kompilasi Komik Solo “Pikolo” edisi ke-6 berhasil diwujudkan. Komik kompilasi ini tidak hanya menjadi bahan bacaan yang menghibur. Lebih dari itu, komik kompilasi ini bertransformasi menjadi media navigasi wisata-budaya Kota Solo yang estetik dan edukatif bagi wisatawan.
Guna memastikan kualitas komik Pikolo ke-6, tim dosen ISI Solo dan IKILO melakukan uji keterbacaan pada Sabtu-Minggu, 8-9 Agustus 2026. Setelah uji keterbacaan dilakukan dan dinyatakan layak, komik Pikolo ke-6 siap diterbitkan dan dipublikasikan secara fisik maupun digital. Sementara strategi advertising dilakukan untuk meningkatkan public exposure yang lebih luas. Selanjutnya Pikolo-6 juga akan berpartisipasi dalam ajang Comipara 2026 mendatang.
Kolaborasi Berdampak
Sinergi ini sejatinya adalah jalan dua arah yang saling menghidupi. Bagi IKILO, pendampingan ini menjadi pemantik yang membuka wawasan tentang hilirisasi produk kreatif. Para komikus didorong untuk melihat bahwa kekayaan intelektual yang mereka ciptakan dapat diaplikasikan ke dalam berbagai medium. Mulai dari produk turunan yang bernilai jual tinggi hingga sesuatu yang relevan dengan kebutuhan branding kota. Selain itu juga soal menerapkan manajemen proyek komik agar kualitas komik lebih terstandardisasi.
Di sisi lain, bagi civitas akademika ISI Solo, IKILO adalah laboratorium hidup yang valid. Tidak ada uji klinis yang lebih nyata bagi sebuah teori desain selain melihat apakah karya tersebut mampu memecahkan masalah komunikasi visual di tengah masyarakat. Mahasiswa dan dosen didorong untuk melihat bahwa karya desain berwujud komik bukan sekadar urusan keindahan, melainkan juga soal penyelesaian masalah dan pemberdayaan komunitas.
“Oleh karena itu, kolaborasi ISI Solo dengan IKILO ini menjadi ruang yang perlu terus dipertahankan. Tantangannya adalah soal keberlanjutan yang mana perlu disadari bersama oleh berbagai pihak. Tidak hanya antara akademisi dan anggota komunitas saja, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah/kota hingga pemangku kepentingan di bidang pariwisata khususnya,” Pungkas Harun yang diaminkan oleh anggota tim. []
