Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental Mahasiswa di Masa Pandemi

Ani Azizah

Ani Azizah

Hello, I am Ani Azizah. u can call me Azizah. I am a student at UIN Prof K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Faculty of Islamic Economics and Business, Sharia Economics Study Program

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ani Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembelajaran Daring di Masa Pandemi (Foto: Ani Azizah)
zoom-in-whitePerbesar
Pembelajaran Daring di Masa Pandemi (Foto: Ani Azizah)

Berdasarkan pandangan saya, kesehatan mental menjadi topik yang dibicarakan oleh banyak orang akhir-akhir ini, karena permasalahan kesehatan mental di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Menurut saya, kesehatan mental adalah kondisi dimana mental seseorang berada dalam keadaan yang stabil.

Dilihat dari kondisi sekarang ini, kesehatan mental sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang kesehatan mentalnya baik akan merasa lebih bahagia dan optimis menjalani hidup. Sebaliknya, seseorang yang kesehatan mentalnya buruk akan cenderung pesimis, mudah merasa lelah, cemas berlebihan dan mudah terkena stres.

Saya dan teman saya akhir-akhir ini sering membahas tentang Pandemi Covid-19, bahwa adanya Pandemi Covid-19 di Indonesia sangat berdampak bagi kesehatan mental masyarakat, khususnya mahasiswa. Banyak sekali hal yang menjadi permasalahan mahasiswa di masa Pandemi ini, seperti kecemasan, depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Menurut saya, pembelajaran online menjadi hal pertama yang paling banyak dicemaskan oleh mahasiswa. Pandemi Covid-19 mengharuskan perubahan perkuliahan luring menjadi daring. Banyak kendala yang meresahkan mahasiswa, seperti jaringan yang tidak stabil, perangkat yang kurang mendukung, kuota yang boros dan tugas yang banyak. Saya selaku mahasiswa juga mengalami hal demikian, tugas yang banyak membuat mahasiswa harus ekstra membagi waktunya untuk kuliah dan mengerjakan hal lainnya, hal ini sangat mudah menimbulkan kelelahan dan stres pada mahasiswa. Banyak mahasiswa yang akhirnya tidak mengerjakan tugas karena kesulitan membagi waktu

Selanjutnya, penghasilan orang tua menjadi hal kedua yang banyak dicemaskan mahasiswa. Banyak faktor yang mengakibatkan hal ini terjadi, diantaranya banyak orangtua yang kehilangan pekerjaan, di PHK dari perusahaan, penurunan gaji, para pedagang yang kehilangan banyak pelanggannya, dan sebagainya. Masalah yang timbul biasanya terkait dengan biaya kuliah yang tetap sama, padahal pembelajaran dilaksanakan secara online dan tidak menggunakan fasilitas kampus. Mahasiswa maupun orang tua berpikir bahwa disaat kondisi ekonomi sedang sulit seperti ini kenapa dari pihak Kampus tidak memberikan keringanan biaya. Jika hal itu terjadi maka akan bisa mengurangi beban biaya yang harus dibayar oleh orangtua. Karena hal tersebut, banyak mahasiswa yang telat membayar uang kuliah, bahkan ada juga mahasiswa yang berhenti kuliah karena tidak mampu membayar uang kuliah.

Penyebab stres lainnya yang dialami mahasiswa yaitu kekhawatiran akan kesehatan diri sendiri dan keluarga. Banyak mahasiswa di luar sana yang mencemaskan masalah ini. Hal ini bisa menimbulkan cemas berlebihan dan menyebabkan kondisi fisik menjadi down. Cemas dan stres yang meningkat pada mahasiswa dapat mengakibatkan penurunan prestasi akademis.

Beberapa kali saya lihat di berita bahwa rasa cemas berlebihan atau anxiety disorder dapat menimbulkan efek yang cukup besar pada diri sendiri, seperti susah tidur (Insomnia), gangguan makan, meningkatkan risiko penyakit jantung, bahkan saya pernah lihat di berita ada yang sampai bunuh diri. Hal ini tidak boleh disepelekan, mahasiswa yang terlihat baik baik saja bisa jadi sedang mengalami anxiety disorder namun sebisa mungkin menyembunyikannya dari orang lain. Maka dari itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, mahasiswa harus tahu apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan mental ketika mengalami anxiety disorder atau stres.

Menurut pandangan saya, mahasiswa introvert biasanya lebih mudah terganggu kesehatan mentalnya, karena mereka tidak mudah untuk membicarakan apa yang mereka rasa, mereka berusaha terlihat baik baik saja di depan orang lain, terlihat biasa saja padahal mereka sedang merasa cemas, tertekan ataupun stres.

Mahasiswa ekstrovert juga mudah terkena stres, terlalu banyak ikut organisasi, kepanitiaan dan aktivitas yang dilakukan sehingga membuat mereka harus ekstra membagi waktu. Berdasarkan peristiwa yang saya alami, seseorang yang ekstrovert biasanya akan sangat berbeda perilaku dan raut mukanya ketika kesehatan mentalnya kurang stabil.

Pembelajaran Luring di Masa Pandemi (Foto: Fitriyah wahyu Nuraeni)

Hal yang dapat saya simpulkan dari melihat berita maupun artikel adalah ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa di masa Pandemi Covid-19 ini antara lain beribadah dan bersyukur kepada Allah. Orang yang jarang beribadah biasanya hatinya kosong dan mudah terkena stres. Sekalipun mereka kaya tetapi rasanya hampa, seperti ada yang kurang. Ya, karena mereka lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Banyak yang lupa bahwa Allah lah yang menentukan segala sesuatu. Sekeras apapun kita berusaha jika tidak disertai dengan beribadah, berdoa dan berikhtiar kepada Allah maka hasilnya akan kurang memuaskan.

Menjaga komunikasi dengan keluarga ataupun teman juga bisa menjadi solusi. Melihat beberapa teman saya yang ketika ada masalah kemudian bercerita dengan orang tuanya, mereka terlihat lebih baik kesehatan mentalnya. Meskipun mahasiswa rata-rata berumur 18-20an, sebenarnya mereka masih butuh perhatian dari orang lain, meskipun hanya ditanya “Bagaimana kuliahnya, lancar?” ataupun “Bagaimana hari ini, apakah baik-baik saja?”. Biasanya mereka akan lebih terbuka kepada keluarga, teman, ataupun seseorang yang dekat dengan mereka. Berdasarkan pengalaman saya, hal yang kelihatannya sepele ini sebenarnya bisa membantu mahasiswa untuk mengungkapkan kecemasannya.

Saya pernah bilang pada teman saya bahwa meluangkan waktu untuk diri sendiri adalah solusi yang sangat menarik dan seru untuk dicoba. Jika merasa lelah, stres, menghadapi kondisi mental yang tidak stabil, maka penting untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas, luangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri, melakukan sesuatu yang bisa membuat kita bahagia dan relax seperti liburan, belanja, menonton film atau melakukan hal yang disukai. Saya sendiri ketika merasa lelah dengan aktivitas yang dilakukan biasanya menyempatkan waktu untuk menonton drama korea.

Menjaga pola makan adalah hal yang penting untuk dilakukan. Makan yang teratur, sehat dan bergizi dapat membantu mengurangi risiko stres. Pola makan yang sehat yaitu mengkonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh, antara karbohidrat, protein, lemak dan vitamin harus seimbang, jangan terlalu sering makan junk food, minum alkohol apalagi mengonsumsi narkoba.

Berolahraga juga penting dilakukan untuk menjaga kesehatan mental . Sibuknya aktivitas dan pekerjaan membuat kita sering lupa dan malas untuk olahraga. Apalagi mahasiswa yang aktivitasnya banyak seperti pembelajaran online, tugas online, organisasi, dan sebagainya. Kebanyakan mahasiswa termasuk saya jarang melakukan olahraga karena sudah terlalu lelah saat kuliah, sehingga ketika sudah selesai pembelajaran mereka lebih memilih untuk istirahat dengan bermain sosial media ataupun tidur. Padahal, olahraga dapat membantu fisik dan mental kita agar lebih fresh. Sempatkan waktu setidaknya 15-30 menit sehari untuk berolahraga.

Menurut saya, jika kamu sudah mencoba beberapa cara di atas tetapi belum membuahkan hasil, maka berkonsultasi dengan psikolog adalah alternatif yang sangat tepat. Banyak orang tidak mau pergi ke psikolog karena takut dianggap stres oleh orang lain. Berkonsultasi dengan psikolog termasuk salah satu tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan mental, lakukan jika berkonsultasi dengan psikolog bisa membuatmu merasa lebih baik.

Kesehatan mental mahasiswa menjadi hal yang perlu diperhatikan, kenapa? Karena mahasiswa adalah tonggak utama perubahan bangsa, kader pemimpin bangsa. Maka dari itu kesehatan mental mahasiswa perlu dijaga demi terciptanya kader bangsa yang militan, cerdas, sehat fisik dan juga mental.