Konten dari Pengguna

Loteng, Garis Batas, dan Kamar bagi Diri Sendiri

Kurniasih

Kurniasih

Pengajar Mata kuliah MKU di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan mahasiswa S3 Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berefleksi. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berefleksi. Foto: Dokumentasi pribadi

Ada hari-hari di mana langkah kakiku keluar pintu rumah terasa seperti sebuah pembelotan. Setiap kilometer yang kutempuh menjauh dari ruang tamu, setiap jam yang kuhabiskan di depan tumpukan jurnal terasa seperti pengkhianatan terhadap ritme rumah yang tenang.

Aku merasa seperti seorang serdadu yang meninggalkan pos penjagaannya, membiarkan debu hinggap di perabotan dan membiarkan percakapan di meja makan berlangsung tanpa kehadiranku. Keluargaku mungkin melihat punggungku yang semakin sering menjauh, tetapi mereka tidak tahu bahwa aku sedang bertempur di medan yang berbeda.

Secara fisik, aku memang jarang ada di sana. Namun, apakah 'membumi' berarti hanya soal raga yang diam? Bagiku, pembelotan ini adalah bentuk kesetiaan yang lebih tinggi. Aku membelot dari kebiasaan lama untuk menemukan cara baru dalam mencintai mereka.

Perasaan bersalah ini adalah api yang menempa jiwaku; aku menukar kehangatan rumah yang sempit dengan dinginnya cakrawala yang luas. Jika studi dan pekerjaanku membuatku disebut "pembelot", biarlah—aku adalah pembelot yang sedang mencari dunia baru untuk dibawa pulang ke rumah.

Ilustrasi rumah. Foto: Shutterstock

Namun, pencarian dunia baru itu sering kali menuntutku untuk menjadi "perempuan gila" di lotengku sendiri. Aku teringat pada pesan Virginia Woolf yang bergema melintasi zaman; bahwa seorang perempuan harus memiliki ruang dan kunci miliknya sendiri jika ia ingin menaklukkan imajinasi. Bagiku, kamar ini bukan sekadar material bangunan, melainkan juga manifestasi dari kebebasan berpikir yang paling hakiki.

Namun, memiliki "a room of one's own" ternyata menuntut harga yang lebih mahal daripada sekadar biaya sewa. Ia menuntut keberanian untuk memutar kunci dari dalam, untuk dengan sengaja menciptakan jarak agar integritas intelektualku tidak tergerus oleh interupsi domestik yang selalu merasa memiliki hak atas seluruh waktuku.

Aku pernah melihat seorang konselor berusia 84 tahun yang bekerja di tengah rumahnya dengan damai, dikelilingi kucing dan langkah kaki keluarga tanpa ada tembok yang memisahkan. Pemandangan itu terasa seperti kemewahan yang pedih bagiku.

Di rumahku sendiri, aku adalah arsitek dari benteng yang melelahkan. Aku terpaksa membangun garis batas yang tegas, dinding-dinding tak kasat mata yang kupasang dengan tangan gemetar agar duniaku tidak lumat. Aku merasa seperti penghuni loteng yang dikisahkan Susan Gubar—mengunci diri agar kegilaanku pada ilmu tidak dianggap sebagai ancaman bagi ketenangan di lantai bawah.

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Stock-Asso/Shutterstock

Ada kesedihan yang menghujam saat aku menyadari bahwa aku tidak bisa hadir sebagai diriku yang utuh di meja makan. Jika aku membuka pintu lotengku sedikit saja, duniaku akan tersedot oleh tatanan domestik yang tak pernah usai.

Woolf benar, bahwa tanpa privasi yang absolut, pikiran perempuan akan selalu terdistorsi oleh kebutuhan orang lain. Namun, ia tidak pernah cukup menjelaskan betapa bisingnya rasa bersalah yang ikut terkunci bersamaku. Mengunci pintu terasa seperti mengunci hati; sebuah tindakan penyelamatan diri yang sekaligus membuatku merasa sangat kesepian.

Pada akhirnya, biarlah waktu yang menjadi hakim atas garis batas yang retak ini. Aku sedang belajar untuk tidak lagi memandang sekat ini sebagai tembok beton, tetapi sebagai membran yang selektif—sebuah cara untuk tetap bernapas tanpa harus kehilangan jati diri. Aku adalah pembelot yang setia, yang rela kehilangan pijakan di bumi yang lama demi membangun fondasi yang lebih kokoh.

Di balik pintu yang terkunci ini, aku bertaruh bahwa suatu hari nanti, "kegilaan" di loteng ini akan melahirkan sebuah cahaya yang cukup terang untuk meruntuhkan dinding-dinding ini, mengubah keterasingan ini menjadi ruang temu yang jujur di mana aku bisa menjadi utuh tanpa perlu lagi bersembunyi.