Konten dari Pengguna

Takhta di Atas Menara Kaca: Membaca Paradoks Sang "Iblis"

Kurniasih

Kurniasih

Pengajar Mata kuliah MKU di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan mahasiswa S3 Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lantai marmer itu masih menyimpan gema yang sama, sebuah frekuensi yang mampu menghentikan napas siapa pun yang mendengarnya: denting stiletto yang presisi. Namun, dalam sekuel The Devil Wears Prada (2026), denting itu bukan lagi sekadar penanda kehadiran seorang tiran mode, melainkan sebuah debar jantung dari sebuah industri yang sedang berjuang melawan senjakalanya sendiri. Film ini dibuka dengan sapuan visual yang megah namun melankolis, memperlihatkan bagaimana kemewahan kini harus bersaing dengan algoritma yang dingin.

Miranda Priestly kembali bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai monumen yang menolak untuk runtuh. Di rambut peraknya yang tak pernah kehilangan tajamnya, kita melihat sejarah seorang perempuan yang telah menukar kehangatan domestik dengan kedaulatan absolut. Film ini dengan cerdas meletakkan Miranda di persimpangan zaman, di mana kepemimpinan otokratisnya mulai digugat oleh dunia yang memuja inklusivitas, namun sering kali gagal membedakan antara keramahan dan kompetensi.

Andy Sachs hadir kembali dengan langkah yang tidak lagi ragu, membawa narasi tentang "diri" yang telah selesai dioptimalkan. Ia bukan lagi asisten yang mencoba mencocokkan kakinya ke dalam sepatu Chanel yang sempit, melainkan seorang jurnalis yang memahami bahwa integritas sering kali harus dibayar dengan kesunyian. Pertemuannya kembali dengan Miranda bukanlah sebuah rekonsiliasi yang manis, melainkan sebuah benturan dua kutub intelektual yang saling menghormati di balik tirai sinisme yang tebal.

Esai

https://press.disney.co.uk/news/20th-century-studios-unveils-teaser-trailer-and-poster-for-the-devil-wears-prada-2-in-cinemas-exclusively-may-1

ini dengan tajam memotret bagaimana dunia menghakimi ambisi yang dibungkus rupa perempuan. Kita diingatkan kembali mengapa julukan "Iblis" begitu lekat disematkan pada Miranda, sementara pria-pria di papan atas korporat dijuluki sebagai visioner meski memiliki temperamen yang lebih buruk. Film ini membongkar jeruji bahasa yang selama ini mengutuk ketegasan perempuan sebagai tirani, sementara mengagungkan kekakuan pria sebagai kitab suci profesionalisme.

Ada puitika yang getir dalam cara kamera menangkap kesendirian Miranda di ruang-ruang kaca yang dingin. Menariknya, dalam sebuah refleksi di dunia nyata, Meryl Streep mengakui bahwa otoritas Miranda bukanlah sekadar tiruan dari sosok perempuan di industri mode. Melalui *The Late Show with Stephen Colbert*, ia mengungkap bahwa Miranda adalah perpaduan jenius: humor sinis yang cerdas dari sutradara Mike Nichols dan ketenangan mematikan milik Clint Eastwood. Miranda adalah "anak" dari kedua raksasa pria itu—sebuah bukti bahwa untuk mencapai puncak, ia menyerap metode kepemimpinan yang selama ini dipuji pada laki-laki.

Dalam wawancara dengan Variety, Streep mempertegas bahwa suara rendah Miranda adalah bentuk kendali penuh yang ia adaptasi dari Eastwood; sebuah suara yang tidak perlu berteriak, namun memaksa seluruh ruangan untuk membungkuk mendekat dan tunduk. Di atas karpet merah, Streep pun menegaskan bahwa ia tidak meniru Anna Wintour, melainkan menyalurkan energi dari bos-bos laki-lakinya di masa lalu. Ini adalah ironi yang indah: dunia menyebutnya "Iblis" saat ia menerapkan disiplin yang sama dengan yang dilakukan para pria untuk menjadi legenda.

Emily Charlton muncul sebagai antitesis yang segar, merepresentasikan kekuatan ekonomi perempuan yang baru. Ia bukan lagi sekadar penjaga pintu; ia adalah pemegang kunci. Melalui karakter Emily, film ini menunjukkan bahwa solidaritas perempuan tidak harus selalu terlihat seperti pelukan hangat, terkadang ia berbentuk aliansi strategis di ruang rapat untuk menumbangkan ageisme yang mencoba memensiunkan paksa kebijaksanaan hanya karena kerutan di wajah.

Isu feminis dalam film ini dialirkan melalui dialog-dialog yang setajam silet, mempertanyakan mengapa perempuan harus terus-menerus menjadi "proyek" yang harus diperbaiki. Miranda menolak untuk diperbaiki. Ia menerima setiap inci dari "kejahatannya" sebagai bagian dari harga sebuah kesempurnaan. Film ini mengajak kita bercermin pada kegagapan kita sendiri dalam menerima perempuan yang tidak lagi menyisakan ruang bagi kehangatan yang dipaksakan oleh standar sosial.

Visualisasi fashion dalam sekuel ini pun mengalami pergeseran makna. Pakaian bukan lagi sekadar alat penyamaran atau status, melainkan zirah perang. Setiap jahitan kain silk dan garis tajam pada blazer yang dikenakan Andy dan Miranda adalah pernyataan politik tentang otonomi tubuh dan pikiran. Di bawah lampu-lampu studio yang menyilaukan, mereka menunjukkan bahwa menjadi berdaya berarti berani mengambil ruang tanpa harus meminta maaf atas keberadaan mereka yang dominan.

Menjelang akhir, film ini meninggalkan sebuah tanya yang menggantung di udara seperti aroma parfum mahal yang tertinggal di ruangan kosong. Apakah kita membenci Miranda karena dia jahat, atau kita membencinya karena dia menunjukkan bahwa perempuan bisa memiliki segalanya namun tetap merasa cukup dengan dirinya sendiri? Di balik jemari yang menunjuk arah, terdapat kekuatan purba yang tak bisa dijinakkan, sebuah kedaulatan yang membuat standar ganda terlihat kerdil dan tidak relevan. Seseorang tidak butuh menjadi malaikat untuk menyelamatkan kerajaan; ia hanya perlu menjadi dirinya yang paling berdaulat.