Konten dari Pengguna

Lebih dari Nilai: Ketika Pendidikan Mulai Kehilangan Karakter

Aniata

Aniata

Lahir di Towua II, 25 September 1984. Aggota Kongregasi Suster Jesus Maria Joseph. Pengalaman dibidang pendidikan, menjadi kepala sekolah sejak 2014-2026 di Yayasan Joseph Esa Ene Manado. Kepala Sekolah Penggerak angkatan I Provinsi Sulawesi Utara

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aniata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya positif di sekolah. Sumber: dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Budaya positif di sekolah. Sumber: dokumen pribadi.

Di ruang tata usaha, saya pernah melihat seorang siswa harus mengulang ujian karena menyontek. Wajah tegangnya mengingatkan saya bahwa bagi sebagian anak, nilai sering dianggap lebih penting daripada kejujuran. Peristiwa itu membuat saya berpikir, apakah kita terlalu fokus mengejar angka sampai melupakan pembentukan karakter sejati?

Dengan tuntutan belajar yang tinggi dan kemajuan teknologi yang cepat, saya melihat bahwa pendidikan saat ini cenderung lebih menekankan angka. Siswa sibuk mengejar nilai tinggi, sementara integritas, tanggung jawab, dan empati kadang kurang mendapat perhatian. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa tantangan terbesar pendidikan bukan sekadar kekurangan pengetahuan, tetapi lemahnya nilai yang membentuk diri anak.

Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya menyeimbangkan pencapaian akademik dengan pembentukan karakter. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata pada siswa, melainkan pada cara kita merancang dan menjalankan pendidikan. Menyadari hal tersebut, Yayasan Joseph Esa Ene mengembangkan pendekatan yang menekankan integrasi nilai dalam setiap aspek penyelenggaraan pendidikan.

Pemantapan pendidik dan tenaga kependidikan yang diselenggarakan pada 23–25 Maret 2026 menjadi salah satu ruang refleksi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi, tetapi juga mengajak para pendidik untuk kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar dan esensial: untuk apa kita mendidik?

Pemantapan pendidik dan tenaga kependidikan. Sumber: dokumen pribadi.

Pendekatan ini berakar pada semangat Pater Mathias Wolff, SJ, yang menempatkan pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan sebagai perjalanan memanusiakan manusia untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, moral, dan spiritual yang diwujudkan dalam nilai-nilai yang dihidupi sehari-hari, seperti ketanggapan, kreativitas, tanggung jawab, integritas, keadilan, hospitalitas, kasih sayang, rasa hormat, dan disiplin.

Nilai-nilai universal ini semakin relevan di tengah krisis moral saat ini dan selaras dengan arah pendidikan nasional, termasuk semangat Profil Pelajar Pancasila. Namun tantangan utama bukan sekadar merumuskan nilai, tetapi bagaimana nilai-nilai itu bisa diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Di tengah tuntutan kurikulum dan kompleksitas perilaku siswa di era digital, pendidikan karakter sering kali bersifat wacana, sehingga karakter kadang dianggap “tambahan” daripada bagian inti pembelajaran.

Berangkat dari kesenjangan tersebut, dibutuhkan sebuah pendekatan yang mampu menjembatani antara nilai dan praktik. Yayasan Joseph Esa Ene hadir dalam kerangka ini dengan menekankan pendidikan yang utuh, di mana karakter tidak diajarkan secara terpisah, melainkan dihidupi dalam keseharian anak.

Pendekatan ini diwujudkan terutama melalui keteladanan guru dan integrasi nilai dalam setiap mata pelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku siswa secara nyata.

Sejalan dengan itu, pembentukan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diperkuat dalam seluruh ekosistem sekolah. Budaya sekolah dibangun melalui kebiasaan, aturan, dan interaksi sehari-hari, di mana siswa belajar menghargai kejujuran, keterbukaan, dan saling menghormati, sekaligus membentuk karakter mereka secara perlahan.

Untuk memperdalam proses tersebut, diperlukan ruang yang membantu siswa menyadari dan memaknai pengalaman mereka. Karena itu, refleksi berkelanjutan menjadi bagian integral dari pertumbuhan siswa, di mana mereka diajak menyadari pengalaman, mengapresiasi hal baik, dan memperbaiki yang masih kurang. Melalui proses ini, nilai tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi benar-benar dihidupi dalam keseharian.

Dalam konteks perkembangan zaman, nilai ini juga perlu menjangkau dunia digital yang menjadi bagian dari keseharian siswa. Mereka tidak hanya dibimbing untuk cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijak, bertanggung jawab, berpikir kritis, serta mampu memilah informasi menjadi bagian penting dari pembentukan karakter di masa ini.

Sebagai kepala sekolah, saya menyadari bahwa perubahan tidak terjadi instan. Pendekatan yang dikembangkan yayasan ini semakin meneguhkan pengalaman saya di lapangan bahwa perubahan paling efektif dimulai dari hal-hal konkret, yakni dengan menyatukan pemahaman nilai di antara pendidik agar pembinaan karakter berjalan selaras, tidak sendiri-sendiri.

Selanjutnya, penguatan nilai-nilai karakter dilakukan melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, serta pembiasaan positif di sekolah, sehingga nilai tidak hanya diajarkan, tetapi juga dijalani secara konsisten dalam keseharian siswa.

Upaya ini diperluas melalui kolaborasi antara guru, orang tua, dan anak, agar nilai-nilai tersebut hidup secara utuh di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat, sehingga membentuk pribadi yang berintegritas dan siap menghadapi tantangan zaman.

Pengalaman di lapangan mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya soal mengejar nilai. Dengan menyeimbangkan pencapaian akademik dan pembentukan nilai, sekolah berpeluang menghasilkan lulusan yang berprestasi sekaligus mampu hidup dengan integritas dan kebaikan. Inilah esensi sejati pendidikan.

Dari semangat Pater Mathias Wolff, SJ, kita diingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, sebuah perjalanan penuh tantangan yang memberi kesempatan untuk meneguhkan kembali arah dan tujuan pendidikan.