“Mengapa Guru Sering Macet Menulis? Refleksi dari Sebuah Ruang Belajar”

Lahir di Towua II, 25 September 1984. Aggota Kongregasi Suster Jesus Maria Joseph. Pengalaman dibidang pendidikan, menjadi kepala sekolah sejak 2014-2026 di Yayasan Joseph Esa Ene Manado. Kepala Sekolah Penggerak angkatan I Provinsi Sulawesi Utara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aniata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Menulis itu penting.” Kalimat ini sering kita dengar di dunia pendidikan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit guru justru berhenti di satu titik: bingung memulai, kehabisan ide, atau merasa tulisannya tidak cukup layak untuk dibagikan. Fenomena “macet menulis” ini diam-diam menjadi realitas yang cukup umum.
Saya pun pernah berada di titik itu. Kamis, 5 Maret 2026, dalam rangkaian Hari Studi Yayasan Joseph Esa Ene ke-7 di Perkumpulan Strada Jakarta, saya menemukan kembali jawaban atas kegelisahan tersebut. Kegiatan yang awalnya terasa seperti forum akademik biasa, justru berubah menjadi ruang refleksi yang membuka cara pandang baru tentang belajar, menulis, dan bertumbuh sebagai pendidik.
Tema yang diangkat saat itu, “Model Pembinaan Guru dan Pengembangan SDM serta Branding Sekolah,” mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak lahir dari sistem semata, tetapi dari manusia yang terus mau belajar. Guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat termasuk dalam hal menulis.
Di tengah tuntutan administrasi dan padatnya aktivitas sekolah, menulis sering kali menjadi hal yang “ditunda”. Padahal, melalui tulisan, seorang guru dapat merefleksikan pengalaman, membagikan praktik baik, sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap sekolahnya. Menulis bukan sekadar keterampilan tambahan, tetapi bagian dari profesionalitas.
Refleksi ini semakin diperdalam ketika saya berkesempatan mengikuti acara buka bersama penulis dan editor di Kompas Institute, Jakarta. Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, para penulis berbagi pengalaman tentang satu hal yang sangat dekat dengan banyak orang: kebuntuan dalam menulis.
Ternyata, “macet menulis” bukanlah tanda ketidakmampuan. Ia justru bagian dari proses.
Ada beberapa hal sederhana namun bermakna yang saya pelajari. Pertama, menulis tidak harus selalu dimulai dari kalimat yang sempurna. Membuat kerangka atau butir-butir gagasan justru membantu pikiran menjadi lebih terarah. Kedua, memberi ruang bagi diri untuk menulis secara bebas tanpa terlalu cepat menghakimi hasil tulisan dapat membuat ide mengalir lebih alami. Selain itu, inspirasi tidak selalu datang dari hal besar. Ia bisa muncul dari pengalaman sehari-hari di kelas, percakapan ringan, buku yang dibaca, bahkan dari momen hening ketika seseorang memberi waktu bagi dirinya untuk berpikir. Menemukan waktu yang tepat ketika pikiran lebih jernih dan hati lebih tenang juga menjadi kunci penting dalam menjaga konsistensi menulis.
Yang menarik, proses belajar ini tidak terjadi dalam suasana formal yang kaku. Percakapan yang cair, tawa yang sesekali pecah, dan diskusi kecil di berbagai sudut ruangan justru menjadi ruang belajar yang hidup. Di sana terasa bahwa menulis bukan aktivitas individual yang sunyi, melainkan bisa tumbuh dari perjumpaan dan kebersamaan.
Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa membangun budaya menulis di sekolah tidak bisa hanya melalui tuntutan, tetapi perlu dihidupkan melalui pendampingan, ruang berbagi, dan komunitas yang saling menguatkan. Ketika guru merasa didukung, dihargai, dan diberi ruang untuk bertumbuh, menulis tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan.
Pada akhirnya, “macet menulis” bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menjadi penulis yang lebih jujur dan reflektif. Hari itu meninggalkan satu pesan sederhana namun kuat: pendidikan yang baik lahir dari guru yang terus belajar, dan tulisan yang hidup lahir dari keberanian untuk mulai meski belum sempurna.
