Penguatan Komunitas Belajar di Sekolah melalui Praktik Lesson Study

Lahir di Towua II, 25 September 1984. Aggota Kongregasi Suster Jesus Maria Joseph. Pengalaman dibidang pendidikan, menjadi kepala sekolah sejak 2014-2026 di Yayasan Joseph Esa Ene Manado. Kepala Sekolah Penggerak angkatan I Provinsi Sulawesi Utara
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Aniata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai kepala sekolah, saya sering bertanya pada diri sendiri: bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan melalui kolaborasi antar guru? Pertanyaan itu terjawab saat saya melaksanakan supervisi, seorang guru baru menceritakan pengalamannya mengajar di kelas dan mengaku tantangan terbesarnya adalah membuat siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam beberapa kali pertemuan, ia mencoba menggunakan metode diskusi dengan harapan suasana pembelajarannya akan lebih aktif dan hidup. Namun, kenyataannya interaksi antar siswa belum terbangun; diskusi kurang antusias, dan sebagian besar siswa cenderung pasif. Akibatnya, tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal karena tidak semua siswa memahami dengan baik materi yang diajarkan.
Dari sinilah saya melihat bahwa kebutuhan untuk belajar bersama, merefleksikan praktik pembelajaran, dan mencari solusi secara kolaboratif menjadi sangat penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan pendekatan ini, guru-guru dapat saling bertukar pengalaman, menemukan strategi yang efektif, dan menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan bagi siswa.
Berangkat dari kesadaran tersebut, saya bersama para guru membentuk komunitas belajar untuk saling berbagi dan bertumbuh. Namun dalam perjalanannya, komunitas belajar yang kami bangun belum sepenuhnya dimaknai sebagai kebutuhan. Kegiatan yang dilakukan masih dianggap tambahan, bukan sebagai sarana perbaikan.
Selain itu, kegiatan komunitas belajar belum terfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, karena diskusi yang berlangsung masih bersifat umum dan belum menyentuh permasalahan nyata yang dihadapi guru di kelas.
Dalam praktik refleksi, guru cenderung fokus pada kesalahan yang tampak dan memberikan saran perbaikan, daripada memahami proses belajar siswa secara mendalam.
Akibatnya, komunitas belajar belum menjadi ruang refleksi yang bermakna dan belum memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan kualitas pembelajaran.
Kondisi ini menguatkan saya untuk berani keluar dari zona nyaman. Saya kemudian menginisiasi penguatan komunitas belajar yang lebih inovatif melalui praktik lesson study. Pendekatan ini dirancang untuk menjadikan komunitas belajar sebagai ruang kolaboratif yang berfokus pada praktik nyata di kelas. Guru bersama-sama menyusun pembelajaran, mengamati pelaksanaannya, serta merefleksikannya melalui penerapan siklus plan, do, see. Penerapan siklus tersebut kami laksanakan melalui tahap berikut:
1. Tahap Perencanaan (plan)
Guru model (guru yang menjadi contoh pelaksana pembelajaran) memaparkan rencana pembelajarannya dalam forum resmi komunitas belajar. Semua guru yang hadir terlibat secara aktif dengan memberikan masukan untuk menyempurnakan rencana tersebut, mulai dari tujuan pembelajaran, pertanyaan pemantik, kesesuaian model pembelajaran dengan sintaks, penggunaan media, hingga asesmen dan refleksi yang bermakna.
2. Tahap Pelaksanaan (do)
Guru model melaksanakan pembelajaran di kelas, sementara guru pengamat mengamati seluruh proses secara aktif. Mereka mencatat setiap aktivitas, memperhatikan partisipasi siswa serta respons yang muncul, tanpa mengintervensi jalannya pembelajaran.
3. Tahap Refleksi (see)
Guru model dan guru pengamat bersama-sama merefleksikan proses pembelajaran yang telah berlangsung, menelaah praktik-praktik baik yang dapat dijadikan contoh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengamatan terhadap aktivitas siswa dan respons yang muncul juga digunakan sebagai bahan referensi bagi guru pengamat untuk memperbaiki diri saat menjadi guru model di kesempatan berikutnya.
Melalui langkah-langkah tersebut, komunitas belajar menjadi lebih terstruktur, fokus, dan bermakna. Guru tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga belajar bersama untuk merancang, mengamati, dan merefleksikan praktik pembelajaran yang nyata di kelas.
Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif siswa, memperkuat pemahaman guru terhadap proses belajar siswa, dan secara bertahap meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan lesson study, komunitas belajar tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai ruang kolaboratif yang strategis untuk perbaikan berkelanjutan, inovasi, dan profesionalisme guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan berdampak.
