Konten dari Pengguna

When The Soul Leaves The Body :Menghadapi Kematian Orang Terkasih dengan Mindful

Aniisah Aprilliana

Aniisah Aprilliana

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aniisah Aprilliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Grief ilustration, Sumber : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Grief ilustration, Sumber : Shutterstock

Kematian selama ribuan tahun telah membuat manusia di seluruh dunia penasaran, takut, sekaligus terpesona. Kematian menjadi semakin misterius karena tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu terjadinya. Banyak timbul pertanyaan tentang apa yang akan dihadapi oleh manusia ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ada yang menghindari, ada yang menolak, dan ada pula yang menerima rasa sedih akibat kehilangan . Kematian orang-orang yang dicintai menjadi salah satu bagian dari pengalaman paling menyakitkan yang harus dirasakan oleh manusia. Individu yang mengalami reaksi maladaptif terhadap kematian orang terkasih berada pada peningkatan resiko negatif kesehatan fisik dan mental .

Kesedihan dan ketakutan akan kematian berasal dari kekhawatiran tentang rasa sakit yang akan muncul, ketidakberdayaan, ketergantungan, dan kesejahteraan orang-orang terkasih setelah kematian mereka. Selain kekhawatiran mendalam pada orang terkasih, rasa sedih tersebut juga bisa bersumber pada ketakutan akan kelangsungan hidup diri sendiri seperti pikiran “Apa yang akan terjadi jika saya tidak bersama dia” atau pikiran lain yang berfokus pada diri sendiri. Individu yang terjebak dalam rasa sedih dan ketakutan akan kematian orang terkasih dapat menumbuhkan depresi, putus asa, kesulitan bertahan hidup, dan bahkan trauma.

Salah satu praktik yang diterapkan untuk menghadapi kesedihan akibat kematian orang terkasih adalah mindfulness. Kabat-Zinn mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran yang muncul akibat dari memberikan perhatian secara sengaja pada momen saat ini dan tidak menghakimi setiap pengalaman yang muncul. Individu yang mindful terbiasa untuk mengamati dan menerima apapun pikiran, perasaan, dan perilaku diri sendiri sebagai sesuatu yang wajar, tanpa merasa perlu memberikan makna tertentu terhadap pengalaman tersebut. Melalui praktik mindfulness diharapkan individu mampu menghadapi kematian orang terkasih dengan apa adanya tanpa harus memaknai kematian sebagai suatu pengalaman yang harus dihindari dan dirasakan kesedihannya terlalu mendalam.

Praktik mindfulness secara formal dalam setting kesehatan menjadi popular pada tahun 1990-an. Salah satu praktik mindfulness yang dikembangkan kala itu adalah program reduksi stres dan relaksasi yang dicetuskan oleh Jon Kabat-Zinn di University of Massachusetts Medical Center. Pendekatan ini kemudian menjadi terstandardisasi dan dikenal sebagai Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) . Cacciatore dan Flint secara spesifik mengajukan sebuah model perawatan duka berbasis mindfulness (Mindfulness based bereavement care model) bernama The ATTEND Model yang digunakan sebagai langkah pencegahan timbulnya efek negatif dari kehilangan orang terkasih.

The ATTEND Model , Cacciatore (2013)

Model ini mengaitkan hubungan antara terapis/petugas klinis dengan klien, dapat dijelaskan melalui beberapa aspek utama yaitu :

  1. Attunement, petugas klinis dapat memberikan contoh penyesuaian melalui perhatian, kesadaran, dan penerimaan rasa sakit klien

  2. Trust, kepercayaan dibangun melalui mendengarkan secara mendalam, empati dan validasi klien

  3. Therapeutic Thouch, sentuhan terapeutik digunakan jika diperlukan karena bagi sebagian klien mungkin sentuhan terapeutik menjadi sebuah hal yang sensitif. Respon yang lebih tepat bagi klien yang sensitif terhadap sentuhan adalah mengatur posisi dengan klien, menyisihkan kertas atau barang yang ada di hadapan klien, atau mendekatkan kursi ke arah klien tanpa harus menyentuh.

  4. Egalitarianism, hubungan egaliter terjadi karena adanya keramahan petugas klinis yang menghormati pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh klien, khususnya ketika menyangkut rasa sedih mendalam karena kehilangan. Hubungan egaliter ini memungkinkan klien untuk menentukan intervensi terbaik sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

  5. Nuance, maksud dari bernuansa adalah memperhatikan individu, budaya kekeluargaan, dan etnik serta keadaan yang unik dari setiap klien.

  6. Death Education, pendidikan kematian dalam model ini memungkinkan petugas klinis teredukasi terkait dengan kematian. Psikoedukasi juga berperan bagi klien untuk mengetahui hal-hal terkait kematian dan kesedihan akan kehilangan. Klien bisa jadi merasa lebih nyaman setelah mengetahui pengalaman orang lain dalam menghadapi kehilangan.

Praktik mindfulness yang bisa diterapkan berdasarkan The ATTEND Model adalah latihan kesadaran akan pikiran dan tubuh, penerimaan emosi tanpa menghakimi, membuat jurnal kesadaran, dan meditasi. Praktik tersebut tetap membutuhkan pendampingan dari terapis atau ahli karena berada pada setting konseling klinis. Model ini pada akhirnya membantu klien serta petugas klinis untuk berhenti sejenak sebelum merespon pengalaman, dibandingkan memberi reaksi terhadapnya, hal ini dapat menurunkan gejala stres, membentuk strategi coping, serta well-being dari individu yang merasakan kehilangan. Dapat disimpulkan bahwa melalui praktik mindfulness mengajarkan manusia untuk menghadapi kehidupan, penderitaan, dan kesedihan dari momen ke momen tanpa harus menghindari atau menghentikan proses. Melalui mindfulness juga membuat manusia lebih berani menghadapi ketakutan akan perubahan dalam hidup, penderitaan bahkan kehilangan orang terkasih dengan menjalani hidup lebih penuh dan hadir di masa sekarang.

REFERENSI

Cacciatore, J., & Flint, M. (2012). ATTEND: Toward a mindfulness-based bereavement care model. Death studies, 36(1), 61-82. https://doi.org/10.1080/07481187.2011.591275

Cacciatore, J., Thieleman, K., Osborn, J., & Orlowski, K. (2013). Of the soul and suffering: Mindfulness-based interventions and bereavement. Clinical Social Work Journal, 42, 269-281. https://doi.org/10.1007/s10615-013-0465-y

Cacciatore, J., & Rubin, J. B. (2016). The last of human desire: grief, death, and mindfulness. Mindfulness and Buddhist-derived approaches in mental health and addiction, 247-257. https://doi.org/10.1007/978-3-319-22255-4_12

Hasha, M. H. (2015). Mindfulness practices for loss and grief. Bereavement Care, 34(1), 24-28. http://dx.doi.org/10.1080/02682621.2015.1028201

Kabat-Zinn, J. (1982). An outpatient program in behavioral medicine for chronic pain patients based on the practice of mindfulness meditation: Theoretical considerations and preliminary results. General Hospital Psychiatry, 4(1), 33–37. https://doi.org/10.1016/0163-8343(82)90026-3

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156. https://psycnet.apa.org/doi/10.1093/clipsy.bpg016

Prigerson HG, Horowitz MJ, Jacobs SC, et al (2009). Prolonged grief disorder: psychometric validation of criteria proposed for DSM-V and ICD-11. PLOS Medicine, 6(8). https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1000121

Yusainy, C., Ilhamuddin, I., Ramli, A. H., Semedi, B. P., Anggono, C. O., Mahmudah, M. U., & Ramadhan, A. R. (2018). Between here-and-now and hereafter: Mindfulness sebagai pengawal orientasi terhadap kehidupan dan ketakutan terhadap kematian. Jurnal Psikologi, 17(1), 18-30. https://smartlib.umri.ac.id/assets/uploads/files/17f30-18360-49445-1-pb.pdf

Williams, H., Skalisky, J., Erickson, T. M., & Thoburn, J. (2021). Posttraumatic growth in the context of grief: Testing the mindfulness-to-meaning theory. Journal of Loss and Trauma, 26(7), 611-623. https://doi.org/10.1080/15325024.2020.1855048