Populasi Penyu Terancam, Ekosistem Manusia Terancam

Pendidikan : Sarjana-1 Instuisi : Universitas Katholik Parahyangan Pekerjaan : Mahasiswa
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Anindya Pramudya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, ekosistem lingkungan hidup telah mengalami banyak perubahan. Perubahan ekosistem terjadi secara signifikan hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, faktor yang berasal dari manusia, faktor yang berasal dari alam itu sendiri, serta faktor dari mahluk hidup lainnya. Faktor yang diberikan dapat memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi lingkungan kehidupan. Salah satu dampak negatif yang paling berpengaruh saat ini dalam ekosistem adalah ekosistem penyu yang semakin berkurang. Ekosistem penyu yang berkurang ini disebabkan oleh faktor perubahan ekosistem lingkungan hidup.
Namun, diketahui faktor yang berpengaruh dalam kurangnya populasi penyu disebabkan oleh manusia. Tanpa disadari populasi penyu yang berkurang di perairan Indonesia memberikan dampak negatif pada kehidupan manusia. Penyu merupakan hewan vertebrata yang hidup pada iklim yang hangat, sehingga di Indonesia terdapat 6 jenis dari 7 jenis penyu yang dapat hidup di kepulauan Indonesia, salah satunya yang dapat berkembang biak sangat baik di Indonesia adalah penyu hijau (Fitrian, 2010).
Kita dapat mengetahui bahwa populasi penyu menyebar hampir diseluruh perairan dekat pantai dunia, dan juga penyu akan meletakkan telur-telur meraka pada pasir pantai. Indonesia merupakan wilayah yang hampir setiap wilayah pantainya terdapat penyu yang berkembang biak, akan tetapi pengembangbiakan tersebut berubah menjadi terancam kepunahan karena adanya ancaman yang merusak sarang atau tempat mencari makan mereka, baik berasal dari manusia atau perubahan iklim yang drastis.
Namun, yang diketahui di Indonesia, orang-orang memanfaatkan habitat penyu sebagai tempat wisata, bahkan telur dan daging penyu dijadikan hidangan yang ditawarkan pada tempat wisata tersebut. Seperti halnya di Pulau Sabuku dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan yang memanfaatkan telur-telur yang didapatkan nelayan untuk diperjualkan belikan secara bebas di pinggir jalan dan yang lebih parah adalah pembantaian ribuan penyu di Bali yang digunakan dalam upacara adat atau diperdagangkan sejak tahun 2001.
Padahal, perlakuan terhadap populasi penyu dapat merusak ekosistem yang ada, dan parahnya lagi dapat memberikan dampak negatif pada kehidupan ekosistem dan rantai makanan manusia.
Dampak negatif yang dapat terjadi apabila populasi penyu berkurang, di mana kurangnya pengembangbiakan dan tumbuhnya tanaman bakau sehingga memicu terjadinya abrasi pantai atas naiknya air pantai ke daratan pemukiman karena tumbuhan bakau memerlukan nutrisi yang berasal dari feses (kotoran) penyu.
Selanjutnya, terjadi pengurangan pengolahan CO2 menjadi energi dalam bentuk biomassa pada ekosistem perairan karena kurangnya nutrisi yang dapat diberikan oleh penyu kepada tumbuhan lamun. Padahal, ketersedian CO2 dalam perairan dapat membantu keberlangsungan ekosistem laut yang nantinya akan berpengaruh pada ekosistem lainnya, termasuk manusia.
Selain itu, Dalam Protein yang baik bagi hewan laut dan hewan laut yang baik dikonsumsi manusia berasal dari populasi perairan yang sehat pula. Kurangnya populasi penyu inilah berdampak negatif dalam menjaga ekosistem laut yang sehat bagi jutaan ikan dan hewan laut lainnya, sehingga ikan dan hewan-hewan laut yang memiliki protein yang baik dikonsumsi akan berkurang nantinya dalam tubuh manusia.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kurangnya populasi penyu dapat mengubah ekosistem kehidupan mahluk hidup dan berakhir pada rantai makanan. Dalam rantai makanan, manusia merupakan konsumen yang dapat mengkonsumsi tumbuhan dan daging.
Sehingga, apabila ekosistem pada perairan rusak atau tidak sehat manusia akan terkena dampak di mana makanan yang dikonsumsi akan kehilangan protein atau manfaat yang terkandung. Termasuk sumber makanan yang terdapat di daratan, sumber makanan di daratan akan berpengaruh karena adanya rantai makanan yang hilang yang disebabkan rusaknya salah satu ekosistem.
Oleh karena itu, diharapkan perlindungan atau konservasi terhadap penyu dapat ditingkatkan dan lebih diperhatikan, dan generasi muda diharapkan dapat ikut serta membantu menjaga kelestarian penyu, serta jika ada yang merusak populasi penyu hendaknya diberikan hukuman yang telah ditetapkan pada UU Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 atau PP Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 56 mengenai pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.
Sumber:
Perdagangan Penyu di Bali. (2008, November 30). Profauna.org. https://www.profauna.org/content/id/perdagangan_penyu_di_bali.html.
Julia, Salgado. (2019, November 22). The Ecosystem of Turtles. Sciencing.com. https://sciencing.com/phytoplankton-important-5398193.html.
Pemerintah Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Lembaran Negara RI Tahun 1990 Nomor 49. Sekretariat Negara. Jakarta.
