Anak Dituntut Harus Bisa Membaca

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, guru tk
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah taman kanak-kanak, seorang ibu tampak gelisah menunggu anaknya pulang. Berkali-kali ia membuka grup WhatsApp wali murid SD favorit di desanya. Di sana tertulis syarat tidak resmi yang sudah dipahami banyak orang tua: calon siswa diharapkan sudah bisa membaca saat masuk kelas satu. Malam harinya, anaknya yang masih berusia enam tahun duduk di meja belajar sambil mengeja huruf dengan mata setengah mengantuk. Ketika salah menyebutkan kata, ibunya spontan berkata, "Kalau belum bisa membaca nanti tidak diterima SD bagus." Anak itu pun terdiam, memandangi buku bacanya tanpa semangat.
Fenomena ini bukan cerita tunggal. Tuntutan agar anak usia dini sudah bisa membaca sebelum masuk SD kini semakin umum terjadi. Banyak orang tua merasa cemas jika anaknya belum lancar membaca di usia TK. Akibatnya, masa bermain anak perlahan berubah menjadi masa latihan akademik. Lembaga PAUD dan TK pun ikut tertekan karena dianggap gagal jika lulusannya belum mampu membaca.
Pro dan Kontra yang Tak Kunjung Usai
Sampai saat ini, aktivitas mengajarkan membaca pada pendidikan anak usia dini masih menjadi pro dan kontra. Masing-masing pihak memiliki argumennya sendiri.
Kelompok yang mendukung pengenalan membaca sejak dini berpendapat bahwa pengenalan huruf dan membaca dasar dapat melatih kesiapan akademik anak. Mereka juga melihat realitas di lapangan bahwa banyak SD belum sepenuhnya siap menghadapi siswa yang benar-benar mulai dari nol. Akibatnya, anak yang belum bisa membaca sering tertinggal dibanding teman-temannya.
Namun kelompok yang menolak menilai masalah sebenarnya bukan pada anak, melainkan pada sistem pendidikan yang terlalu dini menuntut capaian akademik. SD seharusnya menjadi tempat anak belajar membaca, bukan tempat menyeleksi siapa yang sudah bisa membaca. Jika tuntutan ini terus dibiarkan, PAUD dan TK akan kehilangan esensinya sebagai ruang bermain dan stimulasi perkembangan anak.
Apa Kata Ahli Perkembangan Anak?
Jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional fase ketika mereka belajar melalui pengalaman konkret, imajinasi, permainan, dan interaksi sosial. Pada tahap ini, setiap anak memiliki kesiapan belajar yang berbeda-beda. Karena itu, memaksa semua anak harus cepat membaca dapat mengabaikan proses perkembangan alami mereka.
Sementara itu, teori perkembangan sosial dari Lev Vygotsky menjelaskan bahwa anak belajar paling baik melalui pendampingan yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangannya. Artinya, mengenalkan membaca sebenarnya boleh dilakukan sejak dini, tetapi tidak dengan tekanan berlebihan. Anak perlu merasa bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan, bukan ancaman.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menegaskan bahwa anak usia PAUD dan TK tidak dianjurkan untuk diwajibkan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Penekanan pembelajaran pada jenjang ini seharusnya lebih mengutamakan proses bermain dan pengembangan sosial-emosional anak.
Dr. dr. Hesti Lestari, Sp.A, anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, menyatakan bahwa anak boleh dikenalkan pada bentuk, simbol, atau huruf secara ringan, namun bukan dalam bentuk tuntutan akademik. "PAUD dan TK itu namanya saja taman kanak-kanak, artinya dunia anak adalah bermain. Bermain itulah yang utama. Sambil bermain mereka belajar banyak hal, bukan hanya membaca dan menulis," ujarnya.
Menurut Dr. Hesti, membaca dan menulis merupakan bagian dari pengembangan kognitif. Namun, pada usia TK, aspek lain seperti perkembangan sosial dan emosional justru sama pentingnya untuk distimulasi. Interaksi dengan teman sebaya, belajar bergiliran, berbagi, dan mengenali emosi menjadi fondasi penting sebelum anak masuk ke jenjang pendidikan formal.
Dampak Pemaksaan yang Tak Bisa Diabaikan
Pemaksaan belajar membaca pada usia yang belum tepat membawa konsekuensi serius. Retno Listiyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), mengungkapkan bahwa memaksa anak untuk membaca pada usia tertentu, seperti di usia TK dan PAUD, bisa menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan. Ia menambahkan bahwa pemaksaan belajar membaca dapat menghambat pertumbuhan otak kanan anak. "Secara psikologis, pada usia tertentu mereka dipaksa membaca, mereka kan jadinya terpaksa ya, makanya mereka jadinya enggak suka membaca," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dari penelitian yang dibacanya, pemaksaan membaca pada usia tertentu akan memengaruhi perkembangan otak kanan anak. "Memang kita mau anak kita terbunuh kreativitasnya?" lanjutnya.
Calistung yang diajarkan pada anak usia dini dikhawatirkan akan membebani otak anak sehingga dampaknya anak-anak akan mengalami kebosanan dan membenci aktivitas belajar.
Pemerintah Sudah Ambil Langkah Berani
Pemerintah sebenarnya telah menyadari persoalan ini. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), pemerintah secara resmi menghapus kewajiban ijazah TK dan tes calistung sebagai syarat masuk SD. Kebijakan ini mulai berlaku pada tahun ajaran 2025/2026.
Larangan ini tertuang dalam Pasal 11 Ayat (5) dan Pasal 42 Ayat (2) Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025. Kemendikdasmen menyatakan: "Di tahun ini, tidak boleh lagi tes membaca, menulis, menghitung atau calistung sebagai salah satu syarat masuk SD".
Penghapusan tes calistung ini bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan dasar. Semua anak Indonesia berhak masuk SD tanpa harus dibedakan dari kemampuan akademiknya.
Dr. Hesti dari IDAI menambahkan bahwa berdasarkan peraturan tersebut, saat ini tidak lagi ada syarat bahwa anak yang masuk kelas 1 SD harus sudah bisa membaca dan menulis. Kebijakan ini bertujuan agar anak tidak terbebani secara akademik sebelum waktunya.
Mengenalkan Literasi dengan Cara yang Tepat
Jika pemaksaan bukan jalan yang benar, lalu bagaimana cara mengenalkan literasi pada anak usia dini? Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan literasi awal anak berlangsung secara optimal ketika literasi diintegrasikan ke dalam berbagai bentuk kegiatan bermain, seperti bermain peran, bermain simbol, membaca gambar, dan bercerita. Guru berperan sebagai fasilitator responsif yang mendukung interaksi bahasa, eksplorasi makna, dan penggunaan simbol secara alami dalam aktivitas bermain.
Praktik pembelajaran literasi berbasis bermain terbukti mampu menumbuhkan keterlibatan aktif anak, memperkaya interaksi sosial, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa tekanan akademik formal.
Beberapa metode yang banyak diterapkan antara lain belajar sambil bermain, pengenalan huruf melalui kartu bergambar, buku cerita bergambar, lagu anak, hingga permainan edukatif yang melibatkan pengenalan huruf dan suara. Cara ini membuat anak lebih mudah mengingat karena proses belajar tidak terasa seperti kegiatan formal.
Membacakan cerita juga menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan minat baca sejak dini. Saat orang tua membacakan cerita, anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga belajar mengenali kata, memahami alur cerita, serta memperkaya kosakata secara perlahan.
Lingkungan rumah yang mendukung juga berperan penting. Menyediakan buku anak yang sesuai usia, menempatkan buku di tempat yang mudah dijangkau, serta memberikan waktu khusus untuk membaca bersama dapat membantu anak lebih tertarik pada kegiatan membaca.
Kesiapan Anak Bukan Hanya Soal Akademik
Terkait anggapan bahwa anak yang sudah bisa membaca sebelum SD merupakan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa (CIBI), Dr. Hesti menegaskan hal tersebut belum tentu benar. Kecerdasan anak tidak bisa dinilai hanya dari kemampuan baca tulis semata. "Cerdas istimewa itu juga harus dilihat dari perkembangan dimensi lain, terutama kemampuan mengontrol emosi atau executive function. Misalnya, kemampuan anak untuk menahan diri, mengikuti aturan, dan mengendalikan perilaku," jelasnya.
Ia pun menekankan bahwa kesiapan anak untuk sekolah bukan hanya soal kemampuan akademik, melainkan keseimbangan antara kognitif, emosional, dan sosial.
Menuju Pendidikan Anak Usia Dini yang Ramah Anak
Persoalan tuntutan membaca pada anak usia dini bukanlah persoalan sederhana. Ia melibatkan pola pikir orang tua, praktik di lembaga PAUD dan TK, serta sistem pendidikan yang belum sepenuhnya ramah anak. Untuk mengatasinya, diperlukan upaya bersama.
Pertama, orang tua perlu memahami tahapan perkembangan anak. Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Memaksa anak untuk cepat bisa membaca dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan minat belajar. Kondisi ini justru dapat menghambat perkembangan kemampuan literasi di kemudian hari.
Kedua, sekolah dan guru PAUD perlu kembali pada esensi pendidikan anak usia dini: bermain sebagai cara belajar. Pendekatan yang menyenangkan dan sesuai tahap perkembangan harus menjadi prioritas, bukan tuntutan capaian akademik.
Ketiga, sistem pendidikan perlu memastikan bahwa SD benar-benar siap menerima anak yang baru mulai belajar membaca. Kebijakan penghapusan tes calistung harus diikuti dengan perubahan praktik pembelajaran di kelas awal SD, sehingga anak yang belum bisa membaca tidak merasa tertinggal.
Keempat, masyarakat perlu mengubah cara memandang keberhasilan anak. Ironisnya, banyak orang tua akhirnya lebih bangga ketika anak usia lima sampai enam tahun sudah lancar membaca daripada ketika anak mampu bersosialisasi dengan baik. Padahal, kemampuan sosial dan emosional adalah fondasi yang sama pentingnya bagi kesuksesan anak di masa depan.
Kesimpulan
Menuntut anak usia dini untuk bisa membaca sebelum waktunya adalah cerminan dari kecemasan orang tua dan sistem pendidikan yang terlalu cepat menuntut capaian akademik. Padahal, masa usia dini adalah masa emas untuk bermain, bereksplorasi, dan membangun fondasi sosial-emosional yang kokoh.
Mengenalkan literasi pada anak adalah hal yang baik tetapi harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan, tanpa tekanan, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Karena pada akhirnya, anak yang tumbuh dengan cinta pada belajar akan jauh lebih berhasil daripada anak yang belajar karena takut.
Membaca adalah pintu menuju dunia yang luas. Tetapi jika pintu itu dipaksa terbuka sebelum anak siap, yang ia temukan bukan keindahan, melainkan kelelahan. Mari biarkan anak-anak membuka pintu itu dengan caranya sendiri dengan tawa, rasa ingin tahu, dan kegembiraan.
