Anak yang Tumbuh di Tengah Pertengkaran Orang Tua: Luka yang Tak Terlihat

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, guru tk
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu, Dinda "bukan nama sebenarnya" berusia sembilan tahun, bersembunyi di balik selimut. Dari ruang tamu, suara ayah dan ibunya saling bersahutan. Kata-kata keras, tuduhan, dan benda yang dilempar membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menutup telinga dengan bantal, berharap semuanya cepat berakhir. Esok pagi, ia harus berangkat sekolah dengan mata sembab, tetapi tidak ada yang bertanya. Di kelas, ia hanya diam. Di rumah, ia kembali menjadi penonton pertengkaran yang tak pernah selesai.
Dinda bukan satu-satunya. Ribuan anak di Indonesia tumbuh di tengah konflik orang tua yang tidak kunjung usai. Mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan dampaknya dalam diam, dalam prestasi yang menurun, dalam perilaku yang berubah, dan dalam luka yang mungkin terbawa hingga dewasa.
Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Aman
Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Namun bagi sebagian anak, rumah justru menjadi sumber ketakutan. Pertengkaran orang tua baik yang berupa adu mulut, kekerasan verbal, maupun kekerasan fisik menciptakan lingkungan yang tidak stabil dan penuh tekanan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi salah satu faktor utama yang membuat anak merasa tidak aman. Data dari Komnas Perempuan menunjukkan ribuan kasus KDRT dilaporkan setiap tahun, dan angka tersebut hanyalah puncak gunung es. Banyak kasus tidak dilaporkan karena rasa malu, ketergantungan ekonomi, atau tekanan sosial.
Yang sering terlupakan: anak-anak adalah korban tak terlihat. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga menyerap setiap emosi, ketegangan, dan kekerasan yang terjadi di antara orang tua mereka.
Dampak Psikologis pada Anak
Penelitian tentang Adverse Childhood Experiences (ACEs) menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah psikologis, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Jangka pendek, anak dapat mengalami:
Kecemasan dan ketakutan berlebihan. Mereka selalu waspada, sulit tidur, dan mudah terkejut.
Depresi. Perasaan sedih, tidak berharga, dan putus asa.
Masalah perilaku. Ada anak yang menjadi agresif, ada pula yang menarik diri dan menjadi pendiam.
Penurunan prestasi akademik. Sulit fokus, kehilangan minat belajar, dan nilai yang merosot.
Keluhan fisik. Sakit kepala, sakit perut, atau gangguan makan tanpa sebab medis yang jelas.
Jangka panjang, dampaknya bisa lebih serius:
Gangguan hubungan interpersonal. Anak yang tumbuh dengan konflik orang tua cenderung kesulitan membangun hubungan yang sehat, baik dengan teman, pasangan, maupun anak mereka sendiri.
Normalisasi kekerasan. Mereka mungkin menganggap pertengkaran dan kekerasan sebagai cara wajar menyelesaikan masalah.
Risiko kesehatan mental. Depresi, gangguan kecemasan, bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD) bisa muncul di kemudian hari.
Siklus kekerasan. Anak yang menyaksikan KDRT berisiko lebih tinggi menjadi pelaku atau korban kekerasan dalam hubungan mereka sendiri.
Psikolog anak dan keluarga menegaskan bahwa anak adalah pengamat yang sangat peka. Mereka menyerap apa yang mereka lihat dan dengar, bahkan ketika orang tua mengira mereka tidak memahami. “Anak itu seperti spons. Mereka menyerap semua yang ada di sekitarnya, termasuk ketegangan yang tidak diucapkan,” ujar seorang psikolog klinis.
Cara Anak Bertahan
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi konflik orang tua. Beberapa strategi yang sering muncul:
Menjadi anak yang baik. Mereka berusaha menyenangkan orang tua, berharap pertengkaran berhenti.
Menarik diri. Mereka menghabiskan waktu di kamar, menghindari interaksi, atau melarikan diri ke dunia maya.
Mencari perhatian dengan cara negatif. Beberapa anak memberontak, berkelahi, atau melanggar aturan sebagai bentuk pelampiasan.
Mengambil peran orang dewasa. Ada anak yang berusaha menengahi, melindungi adiknya, atau menjadi “pendamai” di tengah konflik.
Sayangnya, strategi-strategi ini hanya bertahan sementara. Tanpa intervensi, luka yang mereka bawa bisa terus mengendap dan memengaruhi kehidupan mereka di masa depan.
Yang Harus Dilakukan Orang Tua
Jika pertengkaran tidak bisa dihindari, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mengurangi dampaknya pada anak:
1. Jangan bertengkar di depan anak. Jika ada masalah, selesaikan saat anak tidak ada. Jika pertengkaran terjadi, usahakan untuk tidak melibatkan anak, tidak meminta mereka memihak, dan tidak menggunakan mereka sebagai senjata.
2. Jelaskan dengan cara yang tepat. Jika anak melihat atau mendengar pertengkaran, beri penjelasan sederhana bahwa orang tua sedang berbeda pendapat, tetapi itu bukan salah anak, dan mereka tetap dicintai. Hindari detail yang tidak perlu.
3. Tunjukkan rekonsiliasi. Anak perlu melihat bahwa setelah pertengkaran, ada penyelesaian. Melihat orang tua berbaikan dan saling memaafkan memberi rasa aman dan mengajarkan cara menyelesaikan konflik yang sehat.
4. Cari bantuan profesional. Jika konflik sudah tidak terkendali, jangan ragu mencari bantuan psikolog, konselor keluarga, atau lembaga perlindungan. KDRT bukan masalah pribadi—ia adalah masalah serius yang membutuhkan intervensi.
5. Prioritaskan kesehatan mental orang tua. Orang tua yang stres dan kelelahan lebih sulit mengelola emosi. Merawat diri sendiri bukanlah keegoisan; itu adalah investasi bagi kesehatan keluarga.
Dukungan untuk Anak
Anak yang tumbuh di tengah konflik orang tua membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya:
Figur dewasa yang dapat dipercaya. Guru, kakek-nenek, om-tante, atau konselor sekolah bisa menjadi tempat anak bercerita.
Ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Anak perlu tahu bahwa menangis, marah, atau takut itu wajar. Beri mereka ruang untuk mengungkapkan perasaan tanpa dihakimi.
Bantuan profesional. Jika anak menunjukkan tanda-tanda depresi, kecemasan berat, atau perubahan perilaku yang signifikan, segera cari bantuan psikolog anak.
Lingkungan sekolah yang suportif. Guru yang peka dapat membantu anak merasa diterima dan aman di sekolah.
Kesimpulan
Pertengkaran orang tua bukan hanya masalah dua orang dewasa. Ia adalah badai yang menghantam seluruh keluarga, terutama anak-anak. Mereka mungkin tidak bicara, tetapi mereka merasakan. Mereka mungkin tidak melawan, tetapi mereka menyimpan luka.
Tidak ada keluarga yang sempurna. Konflik adalah bagian alami dari hubungan. Namun, cara orang tua mengelola konflik akan menentukan apakah anak tumbuh dengan rasa aman atau rasa takut. Anak yang tumbuh di tengah pertengkaran bukan berarti tidak bisa bahagia. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa pulih dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Tetapi mereka tidak bisa melakukannya sendiri.
Rumah seharusnya menjadi tempat anak belajar tentang cinta, bukan tentang pertengkaran. Jika hari ini kita masih bertengkar di depan mereka, mungkin sudah saatnya kita bertanya: luka seperti apa yang sedang kita tinggalkan?
