Konten dari Pengguna

Belajar dari Erupsi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ai
zoom-in-whitePerbesar
ai

Langit Banten dan Lampung berubah kelam pada awal September 2026. Dentuman keras terdengar hingga puluhan kilometer jauhnya, sementara hujan batu pijar menghujani perairan Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau, si raksasa kecil yang lahir dari reruntuhan letusan dahsyat 1883, kembali menunjukkan taringnya.

Erupsi kali ini bukan sekadar aktivitas vulkanik biasa. Ini adalah letusan dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026, sebuah pengingat bahwa proses geologi di kawasan Selat Sunda belum pernah benar-benar berhenti.

Kronologi Erupsi yang Mengejutkan

Semuanya dimulai pada Jumat malam, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB. Gunung Anak Krakatau memulai episode erupsi menerus yang berlangsung tanpa henti selama 25 jam, hingga akhirnya berhenti pada Minggu dini hari, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.

Selama periode tersebut, gunung yang berada di perairan Selat Sunda ini memuntahkan lava pijar, abu vulkanik, dan material piroklastik secara terus-menerus. Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, mencatat bahwa gempa letusan yang terjadi memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi mencapai 21.600 detik.

Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas gunung belum sepenuhnya reda. Pada pukul 03.53 WIB, tercatat satu kali erupsi susulan bertipe Strombolian dengan durasi sekitar 30 detik. Hingga 11 September 2026, sudah tercatat 14 kali erupsi strombolian tambahan.

Dampak yang Meluas

Erupsi ini membawa konsekuensi yang terasa hingga jauh dari pusat letusan. Hujan abu vulkanik dilaporkan melanda pesisir Banten, terutama di sekitar Pos Pemantau Gunung Api Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang. Yang lebih mengejutkan, abu vulkanik bahkan terdeteksi hingga Jakarta, Depok, dan Bogor pada pagi hari 6 September 2026.

Dampak terhadap penerbangan pun tidak terhindarkan. Sebanyak empat bandara Soekarno-Hatta International Airport, Halim Perdanakusuma Airport, Radin Inten II Airport, dan Budiarto Airport mengalami penangguhan operasi sementara pada 6 September 2026 akibat sebaran abu vulkanik. BMKG hingga saat itu telah mengeluarkan 50 peringatan SIGMET untuk memastikan keselamatan penerbangan.

Di perairan Selat Sunda, para nelayan tradisional mengalami momen mencekam. Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan perahu-perahu mereka dihujani batu kecil dan material pijar dari udara. Sebaran abu pekat membuat ruang udara perairan gelap gulita dan membatasi jarak pandang, memaksa para nelayan segera memutar haluan menuju pesisir terdekat.

Status Siaga Level III: Apa Artinya?

Hingga pertengahan September 2026, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Status ini telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026, jauh sebelum erupsi besar terjadi.

PVMBG menegaskan bahwa potensi letusan susulan masih tergolong tinggi. Potensi bahaya utama meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Yang perlu digarisbawahi: potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, memastikan bahwa tubuh gunung yang masih relatif kecil dan kemiringan lereng yang landai membuat keruntuhan berskala besar yang dapat memicu tsunami tidak mungkin terjadi dalam kondisi saat ini.

Sejarah Panjang Krakatau

Nama Krakatau selalu membawa bayang-bayang letusan dahsyat tahun 1883 salah satu letusan gunung api terdahsyat dalam sejarah modern yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa dan memicu tsunami setinggi puluhan meter. Letusan itu menghancurkan tubuh Krakatau dan meninggalkan kaldera raksasa di Selat Sunda.

Namun, dari kaldera itulah lahir Anak Krakatau pada tahun 1927. Gunung api muda ini terus tumbuh dan membangun tubuhnya. Erupsi 2018 kembali mengubah bentuknya, ketika runtuhnya sebagian tubuh gunung memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Kini, PVMBG menyatakan bahwa pertumbuhan fisik Anak Krakatau tergolong sangat cepat dibandingkan gunung api pada umumnya. Hal ini didorong oleh kombinasi faktor tektonik regional, sistem magma yang telah terbuka, karakteristik magma berviskositas rendah, serta frekuensi erupsi yang tinggi.

Belajar dari Erupsi 2026

Erupsi September 2026 menjadi pengingat penting bagi kita semua. Kawasan Selat Sunda adalah zona vulkanik aktif yang akan terus berubah dan berkembang. Memahami karakter Anak Krakatau bukan sekadar soal ilmu pengetahuan ini adalah soal keselamatan jiwa.

Beberapa langkah antisipatif yang perlu terus diperkuat:

Pertama, patuhi seluruh imbauan resmi dari PVMBG dan BNPB. Jangan mendekati kawah dalam radius tiga kilometer, dan selalu pantau informasi dari sumber terpercaya.

Kedua, jangan mudah percaya pada hoaks terkait potensi tsunami. PVMBG telah berulang kali menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Ketiga, bagi masyarakat pesisir, tetap siapkan masker dan perlengkapan pelindung diri untuk mengantisipasi hujan abu. Bagi nelayan, selalu patuhi zona bahaya yang telah ditetapkan.

Keempat, dukung keberlanjutan pemantauan gunung api. Alat-alat pemantauan yang rusak akibat erupsi perlu segera diperbaiki agar pengamatan tetap optimal.

Kesimpulan:

Lebih dari satu abad setelah letusan 1883, Krakatau masih memperlihatkan bagaimana gunung api dapat terus berubah. Krakatau lama runtuh, Anak Krakatau muncul dari laut, dan setiap erupsi menuliskan babak baru dalam sejarah geologi Selat Sunda.

Erupsi September 2026 adalah pengingat bahwa alam tidak pernah benar-benar tidur. Yang bisa kita lakukan bukanlah menaklukkannya, melainkan memahami, menghormati, dan bersiap dengan pengetahuan yang tepat.

Selat Sunda menyimpan cerita tentang kekuatan yang jauh lebih besar dari kita. Dan cerita itu belum berakhir.